Cerita Tentang Kehidupan

*Participated in PIMNAS XXI, 16-19 Juli 2008, Semarang.


PENGARUH PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI TERHADAP PERILAKU MASYARAKAT


Karya Ilmiah

Disusun untuk memenuhi persyaratan

dalam mengikuti Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM)

Oleh :

GIE

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS RIAU

PEKANBARU

2008



ABSTRAK

Bersembunyi dibalik fenomena globalisasi, arus pornografi dan pornoaksi mengalir deras menyeret setiap orang yang terlanjur jatuh ke dalamnya. Tidak peduli siapa saja, di mana saja dan kapan saja, saat ini semua orang begitu mudahnya mendapatkan hal-hal yang berbau porno. Bukan hanya di wilayah perkotaan aksi mesum ramai diminati, tetapi juga sampai ke polosok daerah di Indonesia hal ini sudah hampir menjadi sesuatu yang lumrah bagi masyarakat.

Akhir-akhir ini, masyarakat semakin tidak menyadari bahwa aksi asusila sering terjadi disekitarnya. Pergaulan bebas para remaja, panggung hiburan yang dimeriahkan dengan tarian-tarian mesum, film layar lebar yang meniru budaya barat, majalah mesum yang ramai beredar, video porno yang mudah dijangkau siapa pun termasuk anak dibawah umur, dan masih banyak sederetan peristiwa-peristiwa yang seolah melegalkan pornografi dan pornoaksi.

Maraknya pornografi dan pornoaksi dalam lingkungan masyarakat dapat memberikan dampak negatif yang luar biasa pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Rata-rata 75% pelaku pemerkosaan pernah melihat video porno . Semakin banyaknya remaja-remaja yang berpakaian serba terbuka membuat seks bebas merajalela, aborsi menjadi jalan terakhir, dan kesempatan untuk terjangkit HIV/AIDS semakin terbuka lebar. Anak-anak yang masih jauh dari kata ‘dewasa’ pun dengan mudahnya mencontoh perbuatan orang dewasa.

Kenyataan ini semakin menguatkan fakta bahwa betapa bahayanya jika pornografi dan pornoaksi sudah semakin memasyarakat. Ada banyak dampak buruk yang tersembunyi dibalik semakin digandrunginya perbuatan-perbuatan yang memancing birahi lawan jenis tersbut.



ABSTRACT



Hiding behind the phenomenon of globalization, streams of pornography bring every people to follow that. Don’t care, whoever, wherever, and whenever. People can get everything about pornography easily. It’s not only happening in the big city, but also be a common in a rural district.

Nowadays, people doesn’t consider that pornography occur more often than before. The intercourse of teenager, western movie, immoral entertainment, “adult” magazine that every people, include children can get it in many places. Then, a lot of immoral events as though are something legal in Indonesia.

Everything about pornography almost has not good impact and it can influence people to do something immoral treatment. 75% violators have ever watching pornography video. Free sex becomes a thing that interesting to teenagers, abortion and HIV/AIDS also can catch everyone easily. Children that as it out to be can’t call as ‘adult’ has imitated adult actions.

This fact make us sure that pornography almost be a civilization and there are a lot of bad influences that hiding behind pornography as something famous in our life this day.



DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR i

ABSTRAK ii

ABSTRACT ii

DAFTAR ISI iii

DAFTAR GRAFIK iv

DAFTAR GAMBAR v

DAFTAR TABEL vi



BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 4

C. Tujuan dan Manfaat 4



BAB II. TINJAUAN PUSTAKA



BAB III. METODE PENELITIAN

A. Tehnik Penulisan……………………………………………………….….8

B. Jenis dan Sumber Data………………………………………………….…8

C. Tehnik Pengumpulan Data………………………………………………...8

D. Tehnik Analisis Data……………………………………………………....9



BAB IV. PEMBAHASAN

A. Industri Pornografi-Pornoaksi.........................................................10

B. Bahaya Pornografi-Pornoaksi ........................................................12

C. Pengaruh Pornografi-Pornoaksi .....................................................16

D. Kontroversi Dibalik Pornografi dan Pornoaksi...............................21

E. Opini Mahasiswa Terhadap

Pornografi dan Pornoaksi................................................................22



BAB V. PENUTUP

A. Kesimpulan.....................................................................................27

B. Saran...............................................................................................28



REFERENSI

















DAFTAR GRAFIK



Grafik halaman



Grafik 1: Situs Porno di Dunia (1997-2006)………………………..……….1

Grafik 2: Halaman Situs Porno di Dunia (1997-2006)......................................2

Grafik 3: Perilaku Pengguna Internet...............................................................11

Grafik 4: Kasus Kekerasan Seksual (2001-2003)…………………………14

Grafik 5: Remaja Perilaku Seks Bebas ……………………………………21





DAFTAR GAMBAR



Gambar halaman

Gambar 1: Korban Pembunuhan Aborsi ………………………………..13

Gambar 2: Korban Pembunuhan Aborsi………………………………...13







DAFTAR TABEL



Tabel halaman



Tabel 1: Perkembangan industri pornografi di seluruh dunia………………11

Tabel 2: Kasus Kekerasan Seksual di Jawa Barat

(Oktober 2001-Maret 2002)......................14



BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tindakan kriminal seperti pelecehan seksual dan perkosaan berulang kali terjadi di seluruh wilayah negeri ini. Seks bebas, aborsi, dan pengrusakan moral generasi muda seperti tidak ada habisnya. Hampir seluruh tindakan-tindakan tersebut terjadi karena dampak pornografi dan pornoaksi yang semakin tak terbendung dan tidak jarang berawal dari dianggap biasanya tindakan-tindakan yang pada masa lalu dikatakan tabu. Misalnya, menonton film yang di dalamnya diselipkan adegan-adegan mesum, remaja dengan lawan jenisnya pergi pada malam hari dan kembali ke rumah hampir tengah malam, atau remaja-remaja perempuan yang mengenakan pakaian terbuka yang sekarang tidak dianggap tabu lagi seperti pada masa di mana pornografi dan pornoaksi belum begitu memasyarakat. Grafik-grafik di bawah ini akan menggambarkan dengan jelas peningkatan penyebaran pornografi dan pornoaksi dalam lingkungan masyarakat.

Grafik 1: Situs Porno di Dunia (1997-2006)

Tampak pada tahun 1997 ada sekitar 22,100 situs porno di internet, kemudian pada tahun 2000 meningkat menjadi 280,300 situs porno, pada tahun 2003 kembali terjadi peningkatan mencapai 1,300,000 situs porno, dan pada tahun 2006 jumlahnya melonjak drastis menjadi 4,200,000 situs porno di internet











Grafik 2: Halaman Situs Porno di Dunia (1997-2006)

Tahun 1997 terdapat sekitar 14,000,000 halaman situs pornodi internet, pada tahun 2000 bertambah menjadi 132,000,000 halaman situs porno, kemudian pada tahun 2003 jumlahnya mencapai 260,000,000 halaman situs porno, hingga pada tahun 2006 angkanya semakin tinggi mencapai 420,000,000 halaman situs porno .



Dapat dianalisa dari data diatas bahwa kenaikan jumlah situs dan halaman situs porno di dunia bisa mencapai 5-10 kali dalam 3 tahun. Sedangkan rata-rata usia anak berkenalan dengan internet pornografi antara usia 11 tahun dan konsumen terbesar pornografi internet adalah kelompok berumur 12-17 tahun . Bisa dibayangkan betapa rawannya jika keadaan ini dibiarkan terus berlanjut. Beredarnya majalah palyboy, situs-situs porno, ditambah lagi dengan maraknya aksi-aksi panggung hiburan yang mengarah ke pornografi dan pornoaksi mulai meresahkan masyarakat. Beberapa artis yang seharusnya menjadi sosok panutan yang baik atau maskot masyarakat tidak melaksanakan perannya dengan benar. Mereka rela melakukan apa saja untuk memperoleh ketenaran dan uang, kemudian berlindung dibalik pernyataan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan apresiasi dari seni. Namun, ada sebagian golongan yang menganggap perbuatan erotis para entertainment tersebut sah-sah saja.

Kebijakan pemerintah yang menyatakan pelarangan beredarnya situs-situs porno tampaknya memang tidak dapat menghentikan peredaran pornografi, namun setidaknya ia mampu memperlambat pergerakannya. Dibalik semua itu, tidak seharusnya ketakutan para ibu tentang masa depan dan moral anaknya menjadi terabaikan. Mereka cemas anak-anak mereka akan terpengaruh untuk mulai mencari-cari celah demi mencari tahu dan terlibat langsung dengan perbuatan-perbuatan asusila. Kekhawatiran mereka memang terbukti dilihat dari kasus-kasus yang telah terjadi. Seperti yang dialami warga Kecamatan Sungai Apit. Kabupaten Siak, Riau. Keping VCD porno dihadiahkan untuk setiap pembelian balon. Hanya dengan uang Rp1.000, anak-anak akan mendapat balon yang di dalamya terdapat sebuah kertas. Jika beruntung, akan mendapatkan hadiah film anak Ultraman. Setelah dilihat, keping VCD yang disangka film Ultraman ternyata adalah film porno. Kemudian kasus di Jakarta, sejumlah anak SD yang onani bersama-sama setelah selesai menonton video porno dan masih banyak lagi kasus-kasus memprihatinkan dan bahkan belum terdata yang membuat anak-anak dibawah umur menjadi korban.

Indonesia menempati peringkat ke tujuh dari sepuluh negara di dunia pengakses pornografi terbesar. Sementara itu, pendapatan dari industri pornografi saat ini mencapai USD 97,6 Miliar yang lebih besar dari pendapatan delapan perusahaan teknologi informasi terbesar dunia. Saat ini industri pornografi berkembang dengan pesat. Hal ini membuktikan bahwa pornografi merupakan bisnis bernilai triliunan rupiah. Kemudian tahun 2006 tercatat 100.000 situs bermaterikan pornografi anak usia 18 tahun ke bawah. Sementara itu, di Indonesia sendiri hingga kini telah beredar 500 video porno dan 90 persennya dibuat dan dilakukan oleh para remaja yang masih berstatus pelajar atau mahasiswa .

Sementara itu, dalam 10 tahun penelitian, Unit Eksploitasi Seksual Anak pada Departemen Kepolisian Los Angeles menemukan bahwa pornografi dewasa dan anak-anak digunakan pada lebih dari 87% kasus penganiayaan anak-anak. Angka pemerkosaan di Amerika telah meningkat lebih dari 500% dibandingkan dengan angka yang ada pada tahun 1960, 57% pelaku pemerkosaan (lebih dari sekali) berturut-turut mengaku bahwa mereka mencontoh adegan-adegan yang mereka dapatkan dari pornografi .

Keadaan ini semakin diperparah lagi karena negara kita belum mempunyai standar untuk mengendalikan pornografi-pornoaksi. Pro-kontra yang berada dibalik penyusunan RUU PP memperlambat bahkan nyaris menghentikan langkah pemerintah untuk membuat UU PP. Sangat ironis mengingat RUU PP yang dicanangkan tersebut sebenarnya adalah untuk kebaikan masyarakat itu sendiri.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka karya ilmiah ini akan membahas mengenai dampak dan pengaruh negatif dari penyebaran pornografi dan pornoaksi.

C. Tujuan dan Manfaat

Ada beberapa hal yang menjadi tujuan dalam penulisan karya ilmiah ini, yaitu:

a. Memberikan gambaran tentang fenomena berkembangnya aksi-aksi mesum di lingkungan masyarakat.

b. Agar masyarakat mengetahui dampak negatif dan pengaruh buruk dari pesatnya perkembangan pornografi dan pornoaksi.

c. Agar masyarakat lebih serius melakukan pencegahan dan melawan arus deras perkembangan pornografi dan pornoaksi.









BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Istilah pornografi berasal dari bahasa Yunani, terdiri atas istilah porne yang artinya prostitude dan graphein yang artinya to write . Jadi, pornografi adalah tulisan atau penggambaran mengenai pelacur atau pelacuran. Sebagai tambahan, pornografi semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi atau penyajian seks secara terisolir dalam tulisan atau gambar. Sedangkan pornoaksi dirumuskan sebagai sikap, perilaku, perbuatan, gerakan tubuh, suara yang erotis dan sensual baik dilakukan secara perorangan (sendiri) atau bersama-sama, yang bertentangan dengan kaidah-kaidah agama, moral, kesusilaan, dan kesopanan.

Belakangan, istilah digunakan untuk publikasi segala sesuatu yang bersifat seksual, khususnya yang dianggap berselera rendah atau tidak bermoral, apabila pembuatan, penyajian atau konsumsi bahan tersebut dimaksudkan hanya untuk membangkitkan rangsangan seksual. Sekarang istilah ini digunakan untuk merujuk secara seksual segala jenis bahan tertulis maupun grafis. Istilah "pornografi" seringkali mengandung konotasi negatif dan bernilai seni yang rendahan, istilah seperti film dewasa dan video dewasa biasanya lebih disukai oleh kalangan yang memproduksi materi-materi ini.

Kriteria pornografi adalah sengaja membangkitkan nafsu birahi orang lain, bertujuan merangsang birahi orang lain/khalayak, tidak mengandung nilai (estetika, ilmiah, pendidikan), tidak pantas menurut tata krama dan norma etis masyarakat setempat, dan bersifat mengeksploitasi untuk kepentingan ekonomi, kesenangan pribadi, dan kelompok .



Dari kriteria diatas, dapat disimpulkan jenis-jenis pornografi yang menonjol akhir-akhir ini, seprti tulisan berupa majalah, buku, koran dan bentuk tulisan lain-liannya, produk elektronik misalnya kaset video, VCD, DVD, laser disc, gambar-gambar bergerak (misalnya "hard-r"), program TV dan TV cable, cyber-porno melalui internet, audio-porno misalnya melalui telepon yang juga sedang marak diiklankan di koran maupun tabloid.



Berbicara tentang pornografi dan pornoaksi, berarti berbicara mengenai seks. Semakin heterogen masyarakat maka akan semakin berbeda-beda pandangan mereka terhadap pornoaksi dan pornografi. Seksualitas bangsa Indonesia akan berbeda dengan seksualitas bangsa Amerika. Seksualitas penduduk ibukota akan berbeda dengan seksualitas suku pedalaman. Jika masyarakat Amerika menganggap berpakaian bikini dan berjalan-jalan di tepi pantai sebagai hal yang wajar, tidak sama halnya dengan orang Indonesia. Jika orang Amerika menganggap hidup serumah dengan lawan jenis dalam status belum menikah adalah hal yang biasa, berbeda halnya dengan orang Indonesia.



Budaya Timur memiliki nilai-nilai etika yang tidak dapat membenarkan hal tersebut. Memang pada kenyataannya, masyarakat dari berbagai wilayah cenderung memiliki nilai-nilai tersendiri yang berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan kebutuhannya. Sama halnya dengan menyamakan masyarakat yang tinggal di pedalaman Kalimantan dengan masyarakat kota. Jika masyarakat pedalaman menganggap pakaian yang terbuka sebagi pakaian sehari-hari mereka, tidak dapat disamakan dengan masyarakat perkotaan yang sudah mengenal berbagai jenis kain, dari yang tipis dan murah atau pun yang tebal dan mahal.



Cara pandang masyarakat terhadap pornografi dan pornoaksi harus diluruskan, setiap orang harus tahu sampai di mana batasan suatu hal tersebut sudah masuk ke dalam golongan pornoaksi-pornografi atau masih dalam batas wajar. Untuk itulah dibutuhkan adanya pengendali, dan RUU PP diharapkan dapat memerankan peran tersebut, karena KUHP sendiri saat ini dinilai belum mengatur secara khusus tentang masalah produksi, distribusi, dan konsumsi dari materi-materi pornografi . Semua hal ini dilakukan adalah sebagai bentuk pencegahan terjadinya tindakan-tindakan asusila yang tidak diinginkan dan demi melindungi moral bangsa ini agar menjadi bangsa yang berakhlak, berbudaya, dan beretika. Perkembangan pornografi sudah jauh menyimpang dari nilai-nilai budaya dan agama, hal ini sudah mengarah pada ancaman akan hancurnya akhlak generasi muda, sendi-sendi tatanan keluarga, dan masyarakat.

Pada dasarnya Indonesia memang.berwatak religius. Hal ini dapat dilihat dari konstitusi kita, juga mayoritas rakyat negeri ini yang muslim. Namun, masyarakat Indonesia dipaksa untuk menghadapi realitas bahwa ternyata berdasarkan laporan kantor berita AP milik Perancis, Indonesia peringkat ke-2 sebagai surga pornografi di dunia setelah Rusia . Laporan tersebut memang tidak salah. Jika dilihat dari kenyataan yang ada, pada tahun 2003 publik dibuat binguang dengan aksi salah sorang penyanyi Indonesia yang menyebut tariannya dengan nama ”goyang ngebor”, kemudian diikuti dengan tarian-tarian lainnya yang mengarah kepada erotis. Agustus 2004 yang lalu dunia perfilman Indonesia menjadi ”panas” karena ada beberapa judul film yang terlalu mengumbar syahwat. Kasus-kasus tersebut belum termasuk kasus pornografi dan pornoaksi amatir yang lainnya.



BAB III

METODE PENULISAN

A. Tehnik Penulisan

Dalam menyampaikan gagasan-gagasan karya tulis ini merujuk pada tehnik library riset, study literatur atau riset perpustakaan. Dimana penulis membaca buku bacaan yang diperoleh dari Badan Perpustakaan dan Arsip (BPA) Provinsi Riau, buku-buku dan tulisan-tulisan koleksi pribadi, media massa seperti koran dan majalah. Selain itu penulis juga banyak mendapatkan informasi melalui artikel-artikel di internet.



B. Jenis dan Sumber Data

Untuk membuat suatu rangkaian hingga menjadi sebuah karya tulis, terdapat tiga jenis sumber data yaitu survei, data agregat, dan dokumenter. Dimana ketiga data ini memiliki kelemahan dan kekurangan masing-masing. Dilihat dari ketiga jenis data tersebut, maka dalam penulisan ini hanya memakai satu data yaitu data agregat, ini sesuai dengan data yang ingin dicari.

Data agregat yang dimaksud adalah data yang telah diolah orang lain, misalnya dari hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan dalam bentuk buku, jurnal-jurnal ilmiah, artikel, dan lain sebagainya.

Sementara itu penulis juga menggunakan jenis data sekunder, yaitu data yang dikutip dari berbagai sumber lain sehingga bersifat tidak otentik lagi. Dimana data tersebut berasal dari tangan kedua, ketiga, dan seterusnya. Data agregat termasuk dalam data ini. Berkaitan dengan tujuan penulis, maka sumber data sekunder ini berasal dari tulisan-tulisan mengenai pornografi dan pornoaksi.



C. Tehnik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan untuk merumuskan sebagian karya tulis adalah yang bersifat interaktif. Dimana penulis terlibat langsung terhadap permasalahan yang meliputi observasi atau berperan di dalamnya. Namun dalam melakukan observasi atau pengamatan karya tulis ini, penulis hanya melakukan wawancara langsung dengan beberapa mahasiswa FISIP UNRI dan melakukan diskusi-diskusi informal. Selain itu, penulis juga memanfaatkan sumber-sumber penulisan yang telah tersedia dan menganalisis isi berita yang telah disimpulkan dengan kerangka berfikir penulis (content analysis)



D. Tehnik Analisis Data

Analisis data adalah pengelolaan data sehingga siap diprresentasikan. Dalam karya tulis ini, proses analisis dimulai dengan menelaah informasi atau data yang sudah diperoleh dari berbagai literatur yang tersedia. Setelah dibaca, ditelaah, dan dipelajari keseluruhan informasi, data dirangkum dalam bentuk kategori sesuai dengan jumlah masalah dan tujuan dari penyusunan karya tulis ini.



BAB IV

PEMBAHASAN

A. Industri Pornografi-Pornoaksi

Dekade 90-an tepat dikatakan sebagai masa booming pornografi dan pornoaksi di Indonesia. Dengan tumbangnya Orde Baru tahun 1998, Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) dihapuskan. Siapa saja yang ingin mendirikan usaha pers tidak perlu bersulit-sulit lagi mengurus perizinan dengan biaya tinggi. Karena menerbitkan media cetak relatif murah, menjamurlah media cetak baru di Indonesia, termasuk tabloid yang memuat foto-foto sensual dan cerita “panas”. Majalah Tempo Edisi 20-26 Maret 2006 menyebutkan ada 16 tabloid sejenis di ibukota .

Resminya pornografi di Indonesia ilegal, namun penegakan hukum sangat lemah dan interpretasinya pun tidak sama dari zaman ke zaman. Sementara itu, dengan semakin banyaknya media cetak dan media elektronik baru, persaingan semakin ketat. Ketika goyang “ngebor” Inul laku di satu televisi, televisi lain ikut membuat acara sejenis. Ketika majalah yang menampilkan foto sensual wanita laku dijual, majalah-majalah yang tadinya membatasi diri ikut memperbanyak tampilan wanita sensual. Ketika pornoaksi yang dilakukan di lingkungan terbatas merupakan berita yang menjadi menarik untuk diekspos dan laku dijual, media massa lain juga memberitakannya.

Perkembangan teknologi juga berkonstribusi dalam penyebaran pornografi. Dengan semakin murahnya biaya penggandaan VCD dan harga VCD player, semakin banyak masyarakat yang bisa mengkonsumsi blue film. Teknologi internet juga berperan signifikan dalam penyebaran pornografi. Melalui warnet, lebih banyak orang bisa menkonsumsi gambar-gambar porno atau mendapatkan informasi tentang aktivitas pornoaksi yang ingin mereka ketahui.











Grafik di atas menggambarkan bahwa 70% kunjungan pengguna internet belasan tahun adalah menuju ke situs pornografi .

Tabel 1: Perkembangan industri pornografi di seluruh dunia

Contoh (cakupan dunia) Jumlah (akumulasi keseluruhan)

Dibelanjakan untuk pornografi 3075,64 $ US / detik

Pengguna situs porno 28258 orang / detik

Pengguna internet mengetikkan kata pornografi di mesin pencari 372 orang / detik

Produksi video porno 2 video / hari

Jumlah email pornografi 2.5 miliar / hari

Jumlah download konten pornografi 1.5 miliar / bulan

Nofieiman, Bangkitnya Industri porno Indonesia. www.antara.co.id



Amerika adalah penyumbang situs porno terbesar di dunia, namun ternyata hanya menduduki urutan keempat dalam jumlah pendapatan (revenue) dari industri pornografi di dunia. Diurutan pertama sebagai penerima income terbesar dari bisnis pornografi adalah China yang diikuti oleh Korea Selatan dan Jepang. Hal ini dikarenakan produk yang menguasai industri pornografi bukan berbasis Internet, tapi masih di media Video dan DVD. Data lain menyebutkan bahwa China adalah pengekspor sex toys yang terbesar di dunia (mencapai 80% dunia) dan lebih dari 1000 industri di China menghasilkan produk-produk untuk “dewasa” . Dari berbagai data tentang pornografi Internet diatas, terbukti bahwa ternyata penikmat dan penerima ekses negative dari industri pornografi di Internet bukan negara-negara produsen, tapi negara-negara kecil dan berkembang, seperti Pakistan, Afrika Selatan, India, Bolivia, Turki, dan juga Indonesia.



B. Bahaya Pornografi-Pornoaksi

Banyak studi menemukan bahwa pornografi sangat menimbulkan kecanduan. The National Council on Sexual Addiction Compulsivity memperkirakan bahwa 6-8 % orang Amerika kecanduan seks. Dr. Victor Cline, seorang pakar kecanduan seks, menemukan bahwa ada 4 tahap perkembangan kecanduan seksual, yaitu :

a. Adiksi: tahap di mana pornografi memberikan rangsangan seksual yang sangat kuat (aphrodisiac effect), diikuti dengan pelepasan, yang paling seringnya dilakukan melalui masturbasi.

b. Eskalasi: adiksi dalam waktu yang lama akan membutuhkan material yang lebih eksplisit dan menyimpang untuk memenuhi kebutuhan seksual.

c. Desensitisasi: apa yang sebelumnya dianggap kotor dan mengguncang (jiwa), pada tahap ini menjadi suatu hal yang biasa dan bisa diterima.

d. Tindakan seksual: terjadi peningkatan kecenderungan untuk mencontoh atau berperan sesuai dengan perilaku yang dilihat dalam pornografi.

Beberapa tindakan-tindakan asusila marak terjadi belakangan ini. Rentetan peristiwa ini seharusnya dapat menyadarkan masyarakat bahwa pornografi dan pornoaksi tidak selayaknya mendapat tempat sedikitpun di tengah kehidupan bermasyarakat. Begitu banyak resiko yang harus ditanggung jika seseorang telah melakukan perbuatan mesum yang melanggar hukum akibat menonton VCD porno dan melihat majalah yang menyajikan gambar-gambar erotis yang didapatkan dengan mudah dari tayangan televisi dan media-media lainnya.





a. Aborsi

Dampak dari adanya pornografi adalah pornoaksi, berbagai macam pelanggaran hukum yang bertentangan dengan moral banyak terjadi . Aborsi akan lebih jelas maknanya jika disebut sebagai perampasan hak hidup terhadap nyawa calon manusia. Biasanya kasus ini terjadi diawali dengan adanya seks bebas dan hamil di luar nikah. Tingkat kasus aborsi di Indonesia tercatat yang tertinggi di Asia Tenggara mencapai dua juta kasus dari jumlah sekitar 4,2 juta kasus yang terjadi di negara-negara ASEAN tiap tahunnya . Sementara itu, berdasarkan data Dinas Kesehatan, kasus aborsi di Indonesia pada tahun 1999 saja terdapat sekitar dua ribu kasus. Dari jumlah tersebut sebanyak 750 kasus dilakukan remaja putri yang belum menikah dan 1.250 kasus dilakukan oleh ibu rumah tangga atau perempuan yang sudah menikah.

Gambar 1-2: Korban Pembunuhan Aborsi



Alkifah, Malapetaka Akibat Pornografi dan Pornoaksi,2006



b. Perkosaan

Menurut laporan dari Polres Indramayu, tepatnya dari Kasatserse polres, AKP Jidin Siagian, menyatakan bahwa perkosaan sedang menjadi trend (kecenderungan) di indramayu. Hampir setiap hari, polres setempat menerima laporan dan pengaduan terjadinya kasus yang membuat resah para kaum hawa di "Kota Mangga" tersebut .

Data di Polda Jawa Barat (Oktober 2001-Maret 2002), telah terjadi 116 kasus kekerasan seksual kepada anak-anak. Yang meliputi perkosaan (57), pencabulan (25), sodomi (9), dibawa lari dan disetubuhi (1), dilacurkan (6), pelecehan seksual (9), dan usaha perkosaan (9) .









Tabel 2: Kasus Kekerasan Seksual di Jawa Barat

(Oktober 2001-Maret 2002)

No. Nama Kasus Jumlah

1. Perkosaan 57

2. Pencabulan 25

3. Sodomi 9

4. Diculik dan disetubuhi 1

5. Dilacurkan 6

6. Pelecehan Seksual 9

7. Usaha Perkosaan 9

Trend peningkatan kasus kekerasan seksual terhadap anak juga dapat dicermati dari data di Kabupaten Bandung misalnya. Pada tahun 2001 tercatat ada delapan kasus kekerasan seksual terhadap anak, sedangkan tahun 2002 terjadi sembilan kasus (meningkat 12,5 persen). Sementara di tahun 2003 terjadi 17 kasus, meningkat 88,9 persen. Angka-angka diatas adalah sebagian kecil dari begitu banyaknya kasus kekerasan seksual terhadap anak yang diyakini terjadi.

Sumber : Neni Utami Adiningsih, www.bkkbn.go.id

c. Seks Bebas

Film-film layar lebar yang diminati para remaja sering dijumpai di dalamnya terdapat beberapa adegan mesum atau jalan cerita yang meniru film barat seolah hal tersebut sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia (budaya timur). Contohnya seperti remaja yang berlawanan jenis atau sepasang kekasih yang sudah terbiasa melakukan hubungan suami istri dan menganggap hal tersebut adalah hal yang biasa dalam berpacaran. Akhirnya remaja yang terlanjur menonton tayangan tersebut menganggap bahwa perbuatan mesum tersebut dianggap legal dan akhirnya mereka meniru pola hidup dari para pemeran film tersebut. Misalnya, sepasang kekasih yang belum terikat hubungan resmi (pernikahan) bebas tinggal dalam satu rumah.



Seks bebas yang mulai dianggap sebagai hal yang biasa dan pacaran yang tidak berhubungan intim malah dianggap tidak wajar. Bahkan lebih dari 40% remaja lakukan seks pranikah . Ironis sekali jika harus diakui bahwa sebagian masyarakat bangsa ini mengira bahwa budaya Timur sama atau tidak ada bedanya dengan budaya Barat. Hal-hal seperti inilah yang menjadi kekhawatiran akan semakin suburnya praktek pergaulan bebas yang akhirnya akan berbuntut hamil di luar nikah, aborsi, dan HIV/AIDS.

Hasil penelitian Dinas Kesehatan setempat, sepanjang tahun 2007, 30% pelajar Sukabumi diduga lakukan seks bebas . Dianggap sebagai bentuk pergaulan biasa. Umumnya, para remaja ini menganggap prilaku seks bebas sebagai gaya hidup atau bagian dari pergaulan. Perilaku ini diduga sebagai salah satu pemicu tingginya kasus penyebaran HIV Aids di Kota Sukabumi selama tujuh tahun terakhir yang mencapai 206 kasus. Masih ditahun 2007, dinas kesehatan kembali menemukan kasus baru dalam hal penyebaran virus HIV Aids, yakni sebanyak 44 kasus.

d. Pembuatan Video Porno Amatir

Sudah menjadi rahasia umum bahwa belakangan ini banyak muncul video-video porno yang dibuat oleh kalangan pelajar. Kadang masyarakat bisa mendapatkannya dengan mudah melalui bluetooth handphone yang kemudian disebarkan kepada handphone-handphone lainnya. Salah satu contoh kasus adalah video mesum yang dibuat oleh pelajar SMA di Jambi . Peristiwa yang memalukan itu terjadi Februari 2006, saat itu siswa SMU di Tebo sedang melakukan darmawisata di Taman Semagi, Kabupaten Bungo, 380 km dari kota Jambi dan dalam rombongan itu ikut sepasang kekasih DM (19) dan SN (18). Karena sedang dimabuk cinta, siswa SMU sepasang kekasih itu memisahkan diri dari temannya dan mencari tempat sepi untuk melakukan hubungan intim layaknya suami-istri

Segala macam tindakan-tindakan asusila ini berakar dari maraknya pornografi dan pornoaksi. Banyak bukti-bukti yang menunjukkan bahwa hal yang melatarbelakangi berbagai macam tindakan asusila adalah karena para pelaku telah terlanjur mengkonsumsi tontonan-tontonan erotis dan gambar-gambar porno dari berbagai media cetak dan elektronik.



C. Pengaruh Pornografi-Pornoaksi

Yayasan Kita dan Buah Hati pernah melakukan survei sepanjang tahun 2005 di antara kalangan anak-anak SD, usia 9-12 tahun yang berjumlah 1.705 anak di Jabodetabek . Ternyata 80 % dari anak-anak tersebut sudah mengakses materi pornografi dari berbagai sumber, yaitu komik-komik, VCD/DVD, dan situs-situ porno. Di Indonesia, komik-komik porno harganya cuma Rp 2.000-Rp 3.000, sementara VCD porno bisa Rp 10.000 dua keping. Itu bisa dibeli di stasiun kereta, di depan sekolah, di depan kantor polisi, bisa di mana saja.

Pengaruhnya mulai terlihat pada beberapa kasus kejahatan seksual yang dilakukan anak dan remaja, si pelaku mengaku terinspirasi media porno. Seperti kasus yang terjadi di Semarang, diberitakan anak SMP yang tertangkap polisi karena mencuri sepeda motor bersama teman seusianya. Kepada polisi dia mengaku akan menjual motor curian tersebut dan uangnya akan dipakai untuk membiayai aborsi sang pacar yang sudah hamil dua bulan. Kelompok anak SMP ini akhirnya diketahui sudah lama akrab dengan VCD porno.

Dengan gambaran suram tersebut, di antara mereka yang berlindung di balik slogan hak kebebasan berekspresi, masih ada yang berbasa-basi bertanya tentang kelayakan pemerintah mengurus masalah moral warga negaranya. Melihat kenyataan yang semakin membuat hati miris, yaitu pornografi yang mudah didapatkan di buku, majalah, tabloid, televisi, dan lain-lain. Pornoaksi yang gampang ditemui di berbagai panggung hiburan, terbuka atau tertutup. Masa depan generasi penerus bangsa menjadi terancam suram, seolah mereka telah dipersiapkan menjadi generasi yang buruk moralnya akibat dijejali terlalu banyak tayangan-tayangan erotis yang tidak mendidik.

a. Pengaruh Psikologis

Keadaan psikologis seseorang sangat bergantung kepada apa yang dilihat, didengar, dan dialaminya. Pornografi dan pornoaksi memberikan pengaruh psikologis yang buruk terhadap mereka yang terlibat di dalamnya, terutama terhadap anak dibawah umur. Fokus terhadap anak di bawah umur, mereka layaknya seperti kertas kosong yang masih putih, jadi apapun yang dialaminya, didengar, dan dilihatnya akan langsung tertera di kertas tersebut dan kedepannya akan luar biasa memperngaruhi pola pikir mereka. Sebagian artis wanita hollywood yang sudah berkeluarga melarang anak-anak mereka untuk menonton film yang mereka perankan jika di dalamnya terdapat adegan panas mereka. Dari fakta tersebut sudah tampak bahwa sebenarnya para orang tua tersebut telah mengetahui dengan jelas bahwa yang mereka lakukan adalah salah dan sudah dapat dipastikan akan berdampak buruk terhadap orang yang menontonnya, terlebih lagi terhadap anak-anak.

Secara psikologis, pornografi membawa beberapa dampak. Antara lain, timbulnya sikap dan perilaku antisosial, meningkatnya tindak kriminal di bidang seksual, baik kuantitas maupun jenisnya. Selain itu kaum pria menjadi lebih agresif terhadap kaum perempuan. Yang lebih parah lagi bahwa manusia pada umumnya menjadi kurang responsif terhadap penderitaan, kekerasan dan tindakan-tindakan perkosaan. Seseorang yang sering menikmati sajian birahi akan terus-terusan membayangkan hal-hal yang erotis. Maka tidak salah kalau akhirnya banyak remaja yang tergoda berbuat hal-hal yang menyimpang. Mulai dari masturbasi, ngintip (voyeurism), sampai berzina atau memperkosa orang.

Pornografi merusak pandangan seseorang tentang perempuan. Industri pornografi sangat kental dengan nuansa eksploitasi terhadap kaum Hawa. Hasilnya, kaum Adam menempatkan wanita sebagai benda, bukan mahluk yang memiliki jiwa. Menurut para laki-laki yang pikirannya telah terkontaminasi tersebut, wanita memang untuk dibeli dan dimanfaatkan, bukan untuk dijaga kehormatannya. Sebuah survey oleh majalah Women’s Day mengatakan 21% dari 6.000 pembacanya pernah mengalami serangan atau pelecehan seksual sebagai akibat langsung dari konsumsi pornografi. Namun, yang terparah adalah kalau sudah tergoda untuk melakukan perbuatan zina, dan ternyata tidak sedikit remaja yang nekat melakukannya. Menurut pengakuan seorang penjual “obat kuat” (obat yang disebut dapat membuat seseorang melakukan hubungan seks yang lama) di Jatinegara, Jakarta Timur, mengatakan justru kalangan remaja yang paling banyak membeli “obat kuat” tersebut. Hasilnya, jika tidak meningkatkan kehamilan di luar nikah dan aborsi, maka akan melebarkan Penyakit Menular Seksual (PMS).

b. Pengaruh Kesehatan

Secara fisik korban kekerasan seksual akan merasakan adanya keluhan antara lain nafsu makan menurun, susah tidur, mual, sakit kepala, merasa lelah, tidak ada gairah, rasa sakit didaerah perut dan vagina dan merasa pembengkakan di sekujur tubuh. Dampak ini dipastikan akan mereduksi kualitas kesehatan, baik fisik maupun kejiwaan, khususnya korban yang merupakan anak dibawah umur.



Selain itu, 1 dari 4 remaja Amerika Serikat yang aktif secara seksual, terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PMS) setiap tahunnya . Beberapa penyakit seksual menular yang terbanyak adalah chlamydia, gonorrhea (raja singa), genital warts (juga disebut HPV - human papillomavirus), dan herpes. Namun yang paling sering terdengar adalah Human Immunodeficiany Virus/Acquired Immnune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), yaitu penyakit yang seperti kutukan, penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh penderitanya ini nyaris tidak bisa disembuhkan dan telah menelan banyak korban. Salah satu penyebab penyebaran virus HIV/AIDS tidak lain karena adanya perilaku seks bebas, seperti pelacuran, gonta-ganti pasangan, homosex/lesbian, dan pergaulan bebas.



September 2003, terdapat sekitar 2.685 kasus HIV dan 1.239 kasus AIDS di Indonesia, dengan jumlah pasien meninggal sebanyak 425 kasus. Saat ini, jumlah penderita HIV/AIDS mencapai 40 juta orang . Jumlah kasus yang tercatat merupakan fenomena puncak gunung es (tidak terlihat). Karena menurut WHO angka kasus tercatat harus dikalikan 1.000. Berdasarkan jumlah penderita HIV/AIDS, angka penularan paling banyak ada pada mereka yang berusia produktif dan reproduktif. Sementara kelompok usia 15 sampai dengan 19 tahun tercatat sebanyak 151 kasus. Menurut data dari Depkes, kasus penularan HIV dari ibu rumah tangga kepada bayinya, sebanyak 25 kasus.



Selain itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta menemukan 13 Pekerja Seks Komersial (PSK) positif terinfeksi HIV . Dalam pengambilan sampel darah 300 PSK di Kota Yogyakarta pada bulan September 2003, dan setelah melalui uji laboratorium ditemukan 13 orang positif HIV. Dikatakan, rata-rata ke-13 PSK itu masuk dalam kategori usia produktif dan dimungkinkan sudah menularkan HIV lewat hubungan seksual sehingga jumlah penderita HIV lebih banyak dari jumlah tersebut. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah pengidap mengalami peningkatan sebesar dua kali lipat, karena pada tahun 2002, yang terdata adalah tujuh orang. Berdasarkan data UNICEF, remaja yang beberapa generasi lalu masih malu-malu, kini sudah mulai berani melakukan hubungan seks di usia dini, yakni 13-15 tahun.

Sekitar 0,4%-5% remaja Lampung melakukan hubungan seks usia dini, di wilayah perkotaan Jawa Barat angkanya mencapai 1,3% dan di pedesaan sekitar 1,4%, sedangkan di Bali angkanya 4,4% di perkotaan dan 0% di pedesaan

Grafik 5: Remaja Perilaku Seks Bebas

Penyebaran AIDS yang cepat disebabkan oleh beberapa faktor yakni rendahnya pengetahuan tentang HIV/ AIDS, beban ganda ibu hamil dengan HIV, meningkatnya penggunaan alat suntik pada kalangan remaja dan anak, serta adanya praktek seks yang tidak aman. Penyakit HIV/AIDS dapat mengancam kemusnahan umat manusia, tidak mudah disembuhkan, dan mudah menular melalui jarum suntik, apalagi hubungan intim. Data tersebut memperkuat kenyataan bahwa HIV/AIDS semakin ganas menyerang. Salah satu penyebabnya adalah juga karena semakin ganasnya aksi seks bebas.

c. Pengaruh Ekonomi

Masalah ekonomi tidak pernah lepas dari segala macam aktivitas manusia. Dalam hal ini, sangat jelas pengaruh pornografi dan pornoaksi terhadap perilaku seseorang. Mungkin bagi golongon masyarakat papan atas hal ini tidak akan menjadi masalah. Tetapi bagi masyarakat menengah kebawah, kerugian yang dialami akan lebih terasa. Sebut saja pengeluaran untuk membeli video porno dan majalah atau tabloid mesum. Secara materil, uang yang dikeluarkan akan lebih banyak. Hitung juga uang yang digunakan untuk browsing situs porno di warnet. Jika digunakan untuk mencari info-info aktual, cerdas dan bermanfaat, akan sangat banyak yang bisa diraup dari dunia maya itu.

Kerugian materil ini tidak sedikit, Di Amerika, sebuah suvery memperkirakan penduduk Amerika Serikat setiap tahun mengeluarkan $8-10 milyar untuk mendapat majalah, kaset video atau akses ke siaran dan situs internet porno . Peredaran majalah seperti Hustler, Penthouse dan Playboy setiap tahunnya mencapai 200 juta eksemplar, melebihi peredaran majalah berita terkenal seperti Time dan Newsweek. Total pendapatan pertahun industri pornografi di dunia adalah sekitar 97 miliar USD, ini setara dengan total pendapatan perusahaan besar di Amerika yaitu: Microsoft, Google, Amazon, eBay, Yahoo!, Apple, Netflix and EarthLink. Ini menunjukkan betapa dahsyatnya industri pornografi di dunia.

Mengapa perkembangan situs dan video porno demikian pesat – jauh lebih pesat dibandingkan perkembangan situs iptek? Hal ini karena perkembangan situs dan video mesum terkait dengan bisnis yang sangat besar. Berbagai macam materi gambar, film, dan suara yang dihasilkan oleh industri pornografi kini telah dikonversi menjadi file-file data yang dapat dikirim melalui internet. Dengan hadirnya bandwith yang besar dan makin cepatnya internet, siapa pun bisa men-download dengan mudah setiap file porno tersebut. Setiap download ada nilai rupiah atau dolarnya. Jika setiap hari ada sekian juta orang yang men-download situs-situs porno di seluruh dunia, maka dapat dihitung berapa nilai transaksi bisnis pornografi melalui internet tadi.

Namun, belum ada data berapa besar nilai bisnis porno via internet di Indonesia. Dengan jumlah penduduk 220 juta, di mana sepertiganya sudah bisa mengakses internet, sangat mungkin perputaran uang di bisnis ini besar sekali. Sayang, belum ada data yang pasti. Namun satu hal, pengaruh pornografi di internet kini sudah makin mengkhawatirkan. Lebih dari 20.000 gambar pornografi anak diluncurkan ke internet setiap minggunya. Sebuah industri multimiliar uang yang berputar di industri pornografi setiap tahunnya sekitar US$12 sampai US$13 miliar –melebihi pemasukan yang diterima Coca-Cola digabung dengan perusahan pabrik pesawat McDonnell Douglas corporations. Hiburan pornografi di internet merupakan sektor ketiga terbesar dalam hal penjualan melalui internet, dengan pemasukan diperkirakan mencapai US$100 juta. Setiap tahun, industri ini berkembang sekitar US$10 miliar, menurut perkiraan terendah .

Belum lagi contoh lain seperti eksploitasi seksual untuk kepentingan ekonomi yang semakin marak dan cenderung dianggap sebagai bisnis yang paling menguntungkan. Jika pornografi sudah dianggap sebagai bisnis yang menguntungkan, tentu saja akan membawa dampak buruk bagi orang lain. Semakin banyak orang yang berkecimpung dalam dunia asusila tersebut tanpa mempedulikan dampak yang akan dibawanya terhadap moral generasi muda.

D. Kontroversi Dibalik Pornografi Dan Pornoaksi



Berbicara pornografi memang tidak akan ada putusnya, di sisi lain mengatakan itu adalah hak asasi manusia, sedang di sisi lain mempertimbangkan masalah etika dan moral sehingga melarang pornografi. RUU APP (Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan pornoaksi) tahun lalu sempat didemo secara “fulgar” di bundaran HI Jakarta, walaupun pada intinya pendemo menyatakan diri mereka tetap anti pornografi. Diantara beberapa alasan yang mereka gunakan adalah sebagai berikut:

a. Pelanggaran hak untuk mempunyai pemikiran dan berekspresi, bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 setelah Amandemen IV

b. Pelanggaran hak untuk tidak diperlakukan diskriminatif, bertentangan dengan:

• Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

• III. Undang-Undang No. 12 Tahun 2005 tentang pengesahan Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik

• Undang-Undang Dasar 1945 setelah Amandemen IV

• Undang-Undang No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan segala bentuk Diskriminasi terhadap Wanita

• Komite PBB pada Sidangnya ke-11 pada tahun 1992 mengeluarkan

Rekomendasi Umum No. 19 tentang Kekerasan terhadap Perempuan

c. Pelanggaran hak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu, bertentangan dengan:

• Undang-Undang Dasar 1945 setelah Amandemen IV

• Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

Namun hal tersebut diimbangi dengan berbagai aksi yang dilakukan masyarakat untuk mendesak disahkannya RUU-APP. Sikap masyarakat ini merupakan wujud rasa atas keprihatinan mereka terhadap kebobrokan moral yang selama ini kian menggerogoti akhlak masyarakat Indonesia. Akan tetapi desakan itu tidak lantas langsung berbuahkan hasil. Segelintir kelompok orang yang getol menolak RUU-APP ternyata cukup mempengaruhi keputusan pemerintah.

Bahaya pornografi dan pornoaksi sebenarnya bisa dirasakan oleh semua orang. Hanya saja, ada orang-orang yang diuntungkan dengan adanya pornografi dan pornoaksi, dan karenanya mereka tidak mau membuka mata terhadap bahaya pornografi dan pornoaksi terhadap masyarakat. Keuntungan dari bisnis pornografi memang menggiurkan. Pelaku kecil-kecilan seperti Tabloid Lipstik, misalnya, hanya butuh Rp 3 juta untuk biaya operasional redaksi untuk empat penerbitan dalam sebulan. Pendapatannya dari iklan untuk tiga penerbitan itu bisa mencapai Rp 60 juta (Majalah Tempo Edisi 20-26 Maret 2006) . Itu hanya keuntungan dari bidang yang jelas-jelas disebut pornografi. Belum lagi dari industri yang sebenarnya juga terkait dengan pamer aurat dan adegan-adegan mengundang birahi, misalnya industri hiburan di hotel-hotel atau kafe-kafe, fesyen, acara hiburan di televisi, dan juga industri film. Keuntungan di industri-industri ini pun tidak kalah menggiurkan. Tidak aneh kalau para pemain dalam industri ini berdiri paling depan untuk menentang setiap upaya yang menghambat pornografi dan pornoaksi.

E. Opini Mahasiswa Terhadap Pornografi dan Pornoaksi

Suatu hal yang sudah tidak asing terdengar dan sebenarnya dibutuhkan aksi dari kaum wanita untuk mengatasi hal tersebut. Sebagaimana kita ketahui pengertian pornografi dan pornoaksi itu mengarah kepada aksi/gambar yang asusila yang banyak kita lihat pelakunya adalah wanita. Hal ini bisa membawa pengaruh negatif, seperti seks bebas, penyakit HIV/AIDS dan sebagainya.

Hal ini sebenarnya sangat menjatuhkan martabat wanita itu sendiri, karena dengan begitu kaum pria bisa senang-senang memperhatikan anggota tubuh yang seharusnya tidak pantas untuk diperlihatkan, bahkan mungkin naudzubillahi mindzalik sampai disentuh/dipegang. Padahal dalam Islam sendiri jelas bahwa tidak hanya laki-laki, perempuan pun dianjurkan untuk menjaga pandangan dalam berperilaku. Islam juga memerintahkan pada wanita untuk menggunakan pakaian kehormatan dan jilbab agar wanita itu terjaga baik lahir dan batin.

Jadi, di sini wanita itu harus back to Islam, pelajari Islam yang banyak mengangkat hak-hak wanita, harus sadar dari sekarang tentang efek negatif dari tindakan pornoaksi yang dilakukannya, yang mana hal tersebut bisa membawa pengaruh terhadap generasi masa depan yang tidak sehat dan juga kehilangan masa depan. Gimana coba, kalau ibunya saja sudah mengumbar aurat dan hamil diluar nikah, anaknya akan kehilangan izzah dan siapa yang bisa menjamin anak tersebut akan menjadi penerus bangsa?! Maka dari itu, setiap pornografi dan pornoaksi harus dibasmi. Kalau kaum wanita telah sadar akan batasan-batasan auratnya, tidak perlu disusun RUU PP. Tetapi, melihat kondisi Indonesia saat ini, saya pikir perlu UU APP sehingga wanita itu memiliki kontrol yang baik, dengan UU tersebut akan bisa menyadarkan mereka. Semoga. Amin.

Indira Kurnia Afiyati, Mahasiswa Hubungan Internasional 2003



Sebelumnya kita harus tahu terlebih dahulu defenisi dari pornografi dan pornoaksi. Kalau menurut saya, pornografi adalah segala sesuatu yang memancing syahwat dan nafsu baik itu pria maupun wanita – komprhensif, objeknya tidak selalu pria. Sedangkan pornoaksi adalah manifestasi pornografi oleh individu pria maupun wanita juga. Jadi, di sini jelas kalau masalahnya adalah “pengumbaran syahwat, nafsu, dan birahi.

Masalah sebenarnya, subyek-subyek itu relatif tidak absolut, karena yang dibahas disini adalah “isi otak manusia”. Bisa saja seorang pria, sebut saja Joni, melihat seorang wanita, sebut saja Dian, yang bertingkah aneh-aneh dan terpikirkanlah hal-hal yang tidak dinginkan di dalam benak Joni. Kalau begini siapa yang salah? Subyek pengumbar (Dian) atau si Joni yang konak? Kalau misalnya RUU PP itu sah, dengan sedikit alasan yang dikarang oleh si Joni tadi, maka Dian bisa terkena hukuman. Bahaya, kan? Tidak adil itu namanya.

Intinya, saya tidak setuju dengan RUU PP itu. Sebabnya jelas, mustahil memberi batasan subyek-subyek pengumbar tersebut, ketidakterbatasan daya pikir otak manusia penyebabnya. Lebih bagus lagi pemerintah membuat sanksi yang keras untuk mereka yang gak bisa menahan diri dan menjadi kelewatan, daripada mencari solusi yang ngambang. Pulangkan saja ke pribadi kita masing-masing.

Novandre Satria, Mahasiswa Hubungan Internasional 2007



Satu hal saja, sebagai warga negara Indonesia yang menganut budaya timur, kita memiliki etika-etika yang sudah seharusnya kita taati dan kita jalankan, karena itu mencerminkan moral bangsa kita. Masalah pornografi dan pornoaksi ini sangat tidak mencerminkan kepribadian bangsa kita, menurut saya pribadi mungkin itu adalah asupan dari budaya barat yang terlalu mengacu ke liberalisme sehingga sangat memberi pengaruh buruk bagi kita sebagai orang yang berbudaya timur. Salah satu faktornya adalah globalisasi sehingga ada pembauran antara buadya luar dengan budaya kita.

Mengenai RUU PP, saya bisa memahami kalau pemerintah itu sulit memberikan batasan-batasan formal sampai dimana orang bisa mengekspresikan apa yang mereka sebut sebagai seni. Jika dibawa ke masalah adat, bangsa kita memiliki suku-suku pedalaman yang pakaian adatnya masih tergolong terbuka, itu mungkin bisa dikatakan porografi. Ini adalah salah satu kendala pemerintah dalam membatasi ruang lingkup sampai dimana suatu hal dikatakan porno.

Kalau RUU PP itu saya anggap penting karena kita butuh sosial kontrol mengenai masalah ppornografi dan pornoaksi ini, karena seperti yang sudah saya katakan, kita adalah negara yang memiliki budaya timur, jadi kita perlu mencegah terjadinya hal-hal yang membuat kita kehilangan identitas kita.

Dewi Dermawan, Mahasiswa Hubungan Internasional 2007



Pendapat saya mengenai pornoaksi dan pornografi, sebenarnya masalah ini adalah sebuah wacana yang dibuat oleh orang-orang yang menganggap ini sebagai suatu aksi untuk mempertontonkan suatu hal yang menimbulkan nafsu. Menurut saya, munculnya pro-kontra tentang RUU PP saat ini disebabkan karena ada sebagian orang yang menganggap akan kehilangan kebebasan untuk mengeksploitasi dirinya jika RUU ini disahkan. Sebenarnya orang yang menganggap pornoaksi dan pornografi sebagai kreatifitas adalah orang-orang yang berpikir bodoh. Karena ketika seseorang mempertontonkan auratnya dan melakukan hal-hal yang berbau pornoaksi dan pornografi, kecenderungan baginya untuk dilecehkan berkali-kali lipat lebih besar. Orang tersebut lebih berpotensi besar menjadi korban dari perbuatan mesum.

Hal ini bisa kita lihat dari lingkungan sekitar kita, gambarannya itu misalnya ada seorang wanita yang berpakaian sopan dan berjilbab melintas di depan sekumpulan pria iseng. Biasanya mereka akan memanggil wanita tersebut dengan candaan yang lebih halus, seperti ucapan salam. Bandingkan saja dengan seorang wanita yang berpakaian seksi dan melintas di depan sekelompok lelaki tersebut, maka bentuk dari ekspresi godaan mereka itu akan berbeda. Biasanya mereka akan bersiul atau bahkan mengatakan hal-hal yang tidak sopan untuk menarik perhatian si wanita. Hal ini sudah tergolong pelecehan ringan.

Mengenai RUU PP, saya rasa bukan aturan yang sebenarnya harus dibentuk, tapi sudah harus menjadi kebutuhan bagi seorang manusia yang benar-benar ingin menjaga dirinya atau ingin dirinya menjadi lebih baik. Seandainya masing-masing orang itu sadar untuk menjaga dirinya dari tindakan-tindakan pelecehan, rasanya jadi tidak ada urgensi dalam perancangan undang-undang tersebut. Tapi RUU ini sekarang dipertentangkan, padahal ini adalah suatu kebutuhan, bukan peraturan yang dianggap mengikat. Dengan adanya RUU PP ini seharusnya memudahkan kita dalam memenuhi kebutuhan kita sebagi masyarakat yang beradab. Dan bagi saya, orang-orang yang menolak RUU PP ini adalah orang yang tidak mengerti, itu saja.

Andrico Sandria, Hubungan Internasional 2007



Jika ditinjau dari segi agama Islam pornografi dan pornoaksi itu berdampak buruk dan tidak seharusnya ada, karena lebih banyak membawa dampak negatif daripada dampak positif. Pornoaksi-pornografi itu perlu dibahas secara tuntas dan tidak hanya menjadi bahan seminar belaka tanpa memiliki hasik dan akhir yang jelas. RUU PP tetap harus ada untuk menjaga nilai-nilai yang telah lama tertanam dalam jiwa bangsa Indonesia.

Resdati, Mahasiswa Sosiologi 2007



Sebenarnya RUU ini sangat penting untuk eksistensi kreatifitas, karena kebebasan yang tidak terbingkai dengan nilai-nilai budaya masyarakat setempat akan melahirkan keresahan yang akhirnya berujung pada pendidikan budaya masyarakat secara umum. RUU ini berfungsi menegaskan batasan yang mengarah pada pornografi dan pornoaksi dalam rangka melindungi moral generasi bangsa, tidak bermaksud melarang proses kreatifitas, tapi maksudnya adalah untuk menyelaraskan proses berkreasi dengan budaya lokal, agar kreatiitas itu mencerminkan nilai-nilai moral untuk generasi muda.

Merlia Rahmayani, Mahasiswa Hubungan Internasional 2004



Berdasarkan beberapa hasil wawancara dengan mahasiswa FISIP UNRI di atas, terbukti bahwa dari lima wawancara yang dilakukan, hanya satu orang yang berpendapat bahwa RUU PP tidak perlu disusun. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya sebagian besar masyarakat Indonesia telah mengerti betapa pentingnya membentengi diri dari dampak buruk pornografi dan pornoaksi. Mereka juga mendesak agar pemerintah dapat bertindak tegas dan segera merampungkan RUU PP untuk menjadi undang-undang yang disahkan.





BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pornografi dan Pornoaksi adalah keprihatinan kita bersama, karena pornografi dan pornoaksi telah menggurita di masyarakat kita. Dampak pornografi dan pornoaksi pun telah terlihat dimana-mana, penurunan kualitas moral, dan semakin bebasnya masyarakat menemukan segala sesuatu hal yang berbau pornografi dan pornoaksi. Anak-anak kecil dengan mudah mendapatkan video porno, seks bebas di kalangan remaja, dan dianggap wajarnya tindakan-tindakan mesum merupakan dampak nyata dari maraknya pornografi dan pornoaksi.

Selain itu, pengaruh pornografi dan pornoaksi dapat dilihat dari segi psikologis, kesehatan, dan juga ekonomi. Diantaranya seperti dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat, diintai oleh penyakit mematikan HIV/AIDS, dan mengeluarkan anggaran pembelanjaan rumah tangga untuk suatu hal yang tidak menguntungkan bahkan malah merugikan.

Oleh sebab itu, perlu segera dibuat Undang-Undang yang memuat tentang definisi dan kriteria yang baku serta batasan-batasan dan identifikasi pornografi dan pornoaksi. Sehingga terhadap pelanggarnya dapat dikenakan sanksi yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang. Jadi, tidak akan ada lagi kebebasan yang kebablasan mengatasnamakan apresiasi dari kratifitas seni.

Berdasarkan hasil penelitian, telah terbukti bahwa lima dari enam mahasiswa menyetujui bahwa pornograi dan pornoaksi berdampak buruk terhadap masyarakat dan pada akhirnya pemerintah harus segera menyusun RUU PP agar segala kerusuhan ini dapat segera terkendali. Masalah RUU PP semakin urgen setelah melihat banyaknya kasus-kasus asusila yang terjadi. 75% pelaku pemerkosaan pernah menonton video porno, VCD porno telah sampai ke tangan siswa SD, survei yang dilakukan BKKBN terhadap remaja Jawa Barat (Jabar) berusia 19-14 tahun, mendapatkan hasil 40% remaja berusia 15-24 tahun telah mempraktikkan seks pranikah, dan masih banyak kasus-kasus pornografi dan pornoaksi lainnya yang apabila browsing di internet akan memakan waktu nyaris seharian di depan layar komputer.



B. Saran

Penyebaran pornografi dan pornoaksi memang sudah tidak dapat dihentikan lagi, namun masih dapat dikurangi dan dikendalikan. Misalnya, membatasi ketersediaannya hanya pada toko buku dewasa, hanya melalui pesanan lewat pos, lewat saluran-saluran televisi yang dapat dibatasi orangtua, dan lain-lain. Biasanya toko-toko porno membatasi usia orang-orang yang masuk ke tempat tersebut, atau kadang barang-barang yang disajikan ditutupi sebagian atau sama sekali tidak terpampang. Bahkan Turki memberlakukan peraturan untuk tidak boleh memajang majalah-majalah porno kecuali sampulnya ditutup, sehingga tidak sembarang orang melihatnya secara bebas. (Liputan 6). Namun banyak dari usaha-usaha yang telah dilakukan beberapa negara ini ternyata tidak mampu membatasi ketersediaan pornografi karena akses yang cukup terbuka terhadap pornografi internet. Ada beberapa tips yang dapat menghindarkan diri dari pornografi, yaitu:

• Perbanyak ibadah. Manusia ibarat air, kalau banyak diam maka akan menjadi sarang nyamuk.

• Perbanyak kegiatan ekskul. Olahraga, bimbel, atau kesibukan lain yang positif.

• Sering-sering kumpul dengan keluarga.

• Cari warnet yang ruangannya tidak terlalu tertutup.

• Cari bacaan yang sehat.

Pendidikan seks juga harus diajarkan sejak dini dan materinya disesuaikan dengan level anak. Karena kalau diajarkan sejak SMP sudah terlambat, anak-anak akan lebih dulu tahu terlalu banyak hal yang berhubungan masalah seks lewat media-media massa , keluarga, tetangga, orang asing ataupun teman teman. Pendidikan Seks harus menjadi bagian penting dalam kurikulum dan bukan hanya transfering information karena akan menjadi tidak berpengaruh.

Minat, partisipasi dan kreatifitas Anak Muda di seluruh Indonesia untuk bersama-sama bangkit membenahi negeri juga perlu digerakkan. Selama ini, penanganan kasus pornografi selalu diselesaikan dengan cara-cara hukum dan pasal-pasal kriminal. Beberapa diantaranya menggunakan pendekatan agama yang mengedepankan rasa emosi dan fanatisme berlebihan. Ada cara ringan dan menarik yang bisa diterima dengan cara menyenangkan dan menggabungkan kreatifitas-kebangsaan di dalam menyikapi fenomena pornografi dan menghindari kreatifitas yang kebablasan. Misalnya dengan menggandeng sekolah-sekolah, ikatan guru dan kepala sekolah, orang tua murid dan media massa untuk menjalankan program sadar teknologi informasi dan penyimpangan pornografi. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat sosialisasi, seminar, diskusi, penyadaran, bedah buku, diskusi, pendataan, maping, pencarian solusi bersama masalah penyimpangan pornografi per lokal /daerah/kampus.

Kesadaran masyarakat soal ancaman pornografi ini sudah semakin tinggi. Hal ini dapat dilihat dari cukup maraknya gerakan-gerakan anti pornografi dan pornoaksi. Pornografi yang merupakan penumpang gelap reformasi itu bisa dikatakan sebagai anak haramnya dunia pers. Agar lebih efektif, tentu saja harus ada gebrakan aksi dari pemerintah, yaitu dengan memberikan sanksi yang seberat-beratnya untuk para pelaku, pengedar juga yang memproduksinya. Dan yang paling penting adalah peranan orang tua dalam hal menjaga anak-anak dari tontonan yang tidak mendidik. Perang melawan pornografi dan pornoaksi adalah merupakan perang bersama. Kesadaran masyarakat tetap dibutuhkan untuk menyelaraskan RUU PP tersebut.

Pemerintah seharusnya tidak perlu ragu dalam membuat UU pornografi, karena kebutuhannya sudah jelas dan RUU PP tersebut memang harus segera dirampungkan demi terpeliharanya identitas diri bangsa ini. Perlu segera dibuat Undang-Undang Pornografi yang jelas defenisi tentang batasan-batasannya, karena jika tidak, besar kemungkinan akan menjadi dalih bagi orang-orang yang memanfaatkan alasan seni untuk menyebarluaskan pornografi dan kerja dari Lembaga Sensor Film harus dioptimalkan. Walaupun masih banyak masalah bangsa yang harus ditangani pemerintah, tapi masalah moral tidak kalah pentingnya untuk segera ditangani. Karena sebenarnya, akar dari segala kekacauan di negeri ini adalah masalah moral. Pembentukan moral bangsa adalah tanggung jawab bersama, yang harus diselesaikan bersama, masalah yang urgen, masalah yang apabila tidak dimulai dari sekarang maka tidak akan ada kesempatan lagi untuk memulainya.



REFERENSI





Buletin al-Islam Edisi 315
Diyah Kusumawardani, Satu Suara Ganti Defenisi Pornografi, Majalah Sabili, edisi 11, 13 Desember 2007
Diyah Kusumawardani, RUU Pornograi, Hitam Putihnya Ditangan DPR, Majalah Sabili, edisi 10, 29 November 2007
Nash, Barbara. 2006. Panduan Kesehatan Seksual. Prestasi Pustaka : Jakarta
Setyoningtyas, Emilia. Kamus Trendy Bahasa Indonesia. Apollo: Surabaya.
SN. Menulis Untuk Mencerahkan Diri dan Orang Lain. Majalah Hidayah, edisi 42, Januari 2005.
Su Min, Lim. 2007. 101 Questions About Sex. Java Pustaka : Surabaya
Sunarto, Kamanto. 2000. Pengantar Sosiologi Edisi Kedua. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia : Jakarta.
Waridah, Siti Q, dkk. 2004. Sosiologi SMU Kelas I SMA. Bumi Aksara: Jakarta.


http://www.amanah.or.id
http://www.liputan6.com

http://www.duniasex.com
http://kammi.or.id/
http://www.gatra.com
http://www.pikiranrakyat.com
http://www.antara.co.id/
http://www.swaramuslim.net/
http://www.bkkbn.go.id

http://www.kompas.com





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar