Militer Iran terbagi atas dua pasukan, yaitu pasukan militer negara (tentara nasional) dan pasukan militer revolusi (garda revolusi). Kedua pasukan bersenjata ini diletakkan di bawah kuasa Menteri Pertahanan dan Logistik Pasukan Bersenjata Iran. Tentara nasional Iran beranggotakan 420.000 personel yang terbagi ke dalam tiga kelompok utama, yaitu Angkatan Darat Iran (350.000 personel), Angkatan Udara Iran (52.000 personel), dan Angkatan Laut Iran (18.000 personel). Garda revolusi beranggotakan 250.000 personel yang terbagi ke dalam lima cabang, yaitu Pasukan Qods (pasukan khusus), Basij (paramiliter), Angkatan Laut Revolusi, Angkatan Udara Revolusi, dan Angkatan Darat Revolusi. Basij adalah tentara paramiliter yang beranggotakan ratusan ribu personel (termasuk personel cadangan) ditambah dnegan 11.000.000 lelaki dan perempuan yang siap dimobilisasi setiap saat. Kekuatan militer Iran dirahasiakan dari pengetahuan umum. Tapi, Iran telah mengumumkan pengembangan sejumlah senjata, seperti peluru kendali Fajr-3, peluru kendali Kowsar, peluru kendali Fateh-110, peluru kendali Shahab-3, dan senjata-senjata mililter lainnya .
Iran telah mendorong program perkembangan persenjataan dalam beberapa tahun belakangan untuk dapat membela diri. Iran telah mampu memproduksi jet tempurnya sendiri dan juga kendaraan lapis baja, demikian halnya dengan peluru kendali yang tidak terdeteksi radar dan sejumlah senjata canggih lainnya. Menteri pertahanan Iran telah meresmikan produksi hovercraft (kapal apung, kendaraan yang bisa berjalan baik di darat dan di laut) Younes 6. Iran juga telah mengembangkan sejumlah perlengkapan eksklusif, seperti kapal berkecepatan tinggi, kapal muatan, pesawat udara dengan bobot yang ringan dan kapal selam siluman mini sebagai bagian dari upayanya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan maritim dan operasi-operasi bawah laut. Perlengkapan dan produksi yang tengah berlangsung di Iran berkaitan dengan alat elektronik dan manual untuk dipergunakan dalam peperangan, sistem radar dan sonar, kendaraan air dan udara, sisitem laser dan elektro optik juga kacamata canggih untuk melihat dalam kegelapan, alat komunikasi militer dan alat simulasi peperangan .
A. Angkatan Darat
Angkatan Darat Republik Islam Iran menggelar manuver taktik dengan melibatkan unit infanteri, lapis baja, artileri, komunikasi dan kekuatan udara pada tanggal 9 Mei 2010. Wakil Operasi Angkatan Darat Iran, Brigjend Ali Arasteh mengatakan, AD mendemonstrasikan berbagai taktik tempur di selatan Iran bersamaan dengan manuver Velayat 89 yang digelar oleh Angkatan Laut . Iran juga mengumumkan misil Shab-III yang telah diuji beberapa waktu yang lalu. Misil ini bukan misil jarak jauh, seperti dikabarkan media, tetapi medium-ranged. Iran mengatakan bahwa Shahab III dapat membawa 2 ton hulu ledak sejauh 2000 km. Tetapi sumber-sumber Israel dan Amerika mengatakan bahwa Shahab memiliki maksimum akurasi 1.200 km, yang membuat Israel masih berada di luar jangkauan. Iran diduga memiliki 24 misil Shahab III . Daftar misil yang dimiliki Iran terlampir.
Iran juga telah mempercepat pembuatan sistem pertahanan rudal yang akan lebih baik daripada S-300 milik Rusia. Berdasarkan kontrak, Rusia akan menjual persenjataan ke Iran berupa lima baterai rudal-rudal S-300PMU1, seharga USD800 juta. S-300PMU1 yang diberi kode SA-20 Gargoyle oleh NATO itu merupakan system gerak berbasis darat yang didesain untuk menembak jatuh pesawat terbang dan rudal . Menteri Pertahanan Iran, Ahmad Vahidi membuka dua jalur produksi untuk manufaktur pesawat canggih tanpa awak atau drone. Pesawat tersebut mampu melakukan pengintaian, deteksi, dan serangan dengan dengan ketepatan tinggi. Selain itu, Komandan Unit Artileri dan Misil Angkatan Darat Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Mahmoud Chahr Baghi menegaskan bahwa Iran siap menembakkan 11 ribu roket pada menit-menit awal serangan musuh. Menurut laporan kantor berita Fars, Jend. Mahmoud Chahr Baghi menandaskan, pada menit-menit paling awal di setiap ancaman musuh, angkatan darat Pasdaran akan menembakkan 11 ribu roket dan rudal menuju target musuh secara tepat. Kecepatan dan volume serangan balasan ini akan berjalan secara simultan dan kontinyu.
B. Angkatan Udara
Informasi mengenai kekuatan AU Iran atau Islamic Republic of Iran Air Force (IRIAF) sepenuhnya datang dari jaringan intelijen Israel. Ironisnya, kebanyakan info yang disajikan Tel-Aviv meleset. Dalam laporan disebutkan bahwa kekuatan IRIAF tak sehebat dulu. Beragam jet tempur asal AS yang pernah dibeli Iran sebagian besar teronggok di darat akibat kelangkaan suku cadang. Tapi, kenyataan di lapangan berbeda. Terbukti pada November 2003 lalu, saat AS dan sekutunya melancarkan serbuan ke Irak, sempat tercium formasi jet tempur F-14A Tomcat IRIAF dalam jumlah besar. Dari pantauan radar AWACS E-3 Sentry AU AS selama 20 menit, didapatkan sedikitnya ada 16 unit Tomcat yang terbang pada ketinggian 30.000 kaki di dalam wilayah udara Iran, dekat kota Dezful. Temuan ini merupakan yang terbesar sejak tahun 1997, ketika pesawat-pesawat AL-AS tanpa sengaja bertemu dengan sembilan pesawat sejenis di Selatan Teluk Persia . Selain itu, pengamatan Barat juga terbantahkan dengan adanya Peringatan tahunan hari angkatan bersenjata republik Islam di Teheran yang diramaikan dengan parade militer. Pasukan militer Iran mengadakan demonstrasi terbang di atas lapangan parade di mana sekitar 200 pesawat jet tempur termasuk Mig-29, F4, F5 dan F7 dan pesawat pengisi bahan bakar diudara akan mendominasi udara Teheran dalam rangka pamer kekuatan angkatan udaranya. Setelah sekian lama membeli peralatan militer dari negara lain dan agar dapat menjadi salah satu negara yang disegani maka dalam dua dasawarsa terakhir Iran mengembangkan teknologi sendiri hasil karya dalam negeri. Tapi, pengamat militer Barat tetap berpijak pada data kekuatan militer Iran yang telah berumur lebih dari 20 tahun.
Hasil temuan di lapangan memang membuktikan, F-14A Tomcat masih jadi tulang punggung kekuatan IRIAF. Kabarnya, Teheran baru akan menurunkan jet tempur digdaya yang hanya dimiliki AS dan Iran ini bila situasi sudah benar-benar gawat. Begitu pun, diluar Tomcat, IRIAF masih mengoperasikan beberapa tipe pesawat tempur lain. Sebut saja diantaranya adalah F-4 Phantom II, MiG-29A Fulcrum, Chengdu F-7M Airguard, Sukhoi Su-24MK Fencer-D, dan Mirage F1EQ. Jelas kemampuan semua tipe jet tadi sudah akrab di telinga pilot-pilot tempur Barat. Persoalan justru datang dari senjata yang dibawanya. Tanpa disangka Teheran memasangi senjata yang tak lazim dipakai. Selama musim panas 2005 misalnya, pilot-pilot Barat kerap memergoki armada Su-24 Fencer IRIAF dibekali rudal antikapal C-802K-2 buatan Cina.
IRIAF tidak sepenuhnya hanya bergantung pada barang-barang impor. IRIAF sanggup memasok sendiri beragam tipe rudal. Tipe pertama yang dijadikan basis adalah AIM-9P2 Sidewinder. Mengusung nama baru yaitu Fatter, kecuali bodi dan motor penggerak, seluruh perangkat avionik memakai buatan lokal. Industri militer lokal Iran berhasil memelihara tingkat kesiapan rudal jarak jauh AIM-54 Phoenix. Dari total 284 unit AIM-54 (termasuk 10 varian latih ATM-54A) yang dibelinya semasa Shah, diperkirakan pada 1999 IRIAF masih punya 160 unit dalam kondisi siap tempur. Atau bila dihitung sekitar 40 persen dari kemampuan semula. Selain diotak-atik sendiri, sejumlah komponen vital rudal kabarnya bisa didapat Iran dari jalur tak resmi.
Iran mulai mengembangkan Program Sky Hawk pada tahun 1986. Industri senjata lokal Iran mencoba untuk menciptakan rudal jenis baru dan yang menjadi sasaran adalah rudal antipesawat (SAM) MIM-23B I-HAWK. Mengusung nama AIM-23 Sedjil, rudal ini disulap menjadi arsenal udara-udara. Sedjil terhitung sebagai rudal jarak sedang. Selain untuk keperluan pertempuran udara, Iran juga merekayasa rudal HAWK bagi kebutuhan serang darat. Arsenal udara-permukan ini diberi nama Yasser. Untuk menciptakannya Iran mengkombinasi rudal MIM-23 HAWK dengan hulu ledak bom M-117 yang berbobot 375 kilogram. Dalam operasi udara, IRIAF memasang rudal Yasser pada armada F-14A dan F-4E Phantom II. Disamping rekayasa berkategori berat, Iran juga melakukan modifikasi kecil. Trik seperti ini diterapkan pada sistem rel-rel peluncur rudal pada armada jet tempur F-4 dan F-14. Hasilnya, kedua pesawat tersebut mampu meluncurkan rudal antipesawat R-73 (kode NATO AA-11 Archer) buatan Rusia.
Kemampuan industri militer Iran tidak hanya sebatas memodifikasi atau rekayasa arsenal udara saja. Islamic Republic Iran Aviation Industry Organization (IRIAIO) atau disebut HESA yang bertanggung jawab terhadap program pembangunan kembali kekuatan udara Iran. Proyek pertama yang cukup berhasil adalah melakukan proses manufaktur semua komponen yang dibutuhkan mesin Tomcat, Pratt&Whitney TF-30-PW-414. Bahkan menurut sumber orang dalam HESA, Iran sudah punya kemampuan merakit penuh mesin TF-30 dengan komponen lokal. Selanjutnya HESA juga dipercaya menggarap dua program pengembangan pesawat militer lokal. Program pertama adalah menciptakan jet latih berkemampuan tempur, Shafaq. Info yang berhasil dihimpun menunjukkan pesawat ini punya banyak kemiripan bentuk dengan Yakovlev Yak-130. Kemampuan melesat hingga kecepatan mach 1 plus dan beragam perangkat avionik berteknologi digital dipastikan jadi standar Shafaq. Berbasis pesawat ini ada peluang IRIAF bakal mengembangkannya untuk keperluan serangan darat. Program kedua dikenal dengan nama M-ATF air superiority fighter. Tapi Teheran tidak mau begitu saja meloloskan info-info tentang proyek ini. Secara garis besar bisa dibilang industri kedirgantaraan Iran punya kapabilitas untuk memproduksi pesawat sendiri. Setidaknya ini dibuktikan oleh HESA yang secara resmi memegang lisensi resmi dari Antonov Rusia untuk membangun varian angkut An-140. Data lebih jelas mengenai pesawat-pesawat tempur Iran terlampir.
C. Angkatan Laut
Mempersiapkan segala kemungkinan serangan militer terhadap Iran, negara tersebut mempersenjatai angkatan lautnya dengan sistem persenjataan tercanggih, yang kabarnya sanggup menembak kapal seperti apapun yang berjarak hingga 300 km (185 mil) jauhnya dari lepas pantai. Armada kapal selam ringan produksi dalam negeri Iran semakin memantapkan langkahnya menyusul bergabungnya kapal selam Ghadir 948 dalam brigade angkatan laut di zona pertama angkatan laut Iran . Kapal selam buatan dalam negeri tersebut dimasukkan dalam armada kapal selam angkatan laut Iran di kota pelabuhan Bandar Abbas, sebelah selatan Iran. Pihak militer Iran mengatakan bahwa kapal selam tersebut dapat dengan mudah menghindari deteksi karena telah dilengkapi dengan teknologi untuk menghindari sonar, selain itu kapal selam tersebut juga dapat menembakkan peluru kendali dan torpedo secara bersamaan. Armada tersebut juga dilengkapi dengan 18 unit kapal berkecepatan tinggi. Angkatan Laut Iran saat ini sudah memproduksi Ghadir dan Nahang. Kapal selam Ghadir dilengkapi dengan peralatan dan teknologi militer tercanggih. Sementara kapal selam Nahang, kapal selam buatan sendiri nomor dua setelah Ghadir, disebut sebagai salah satu proyek pertahanan terbesar Iran.
Pasukan elite Penjaga Revolusi Iran telah memulai latihan perang skala besar di Teluk Persia dan kawasan startegis Selat Hormuz. Iran pernah menyatakan akan menutup Selat Hormuz jika diserang oleh Barat, pernyataan yang membuat latihan perang ini menjadi sangat sensitif. Sebab hampir 40 persen suplai energi dan minyak bumi dunia melalui jalan air tepat di mulut Teluk Persia ini. Pasukan AL, AU dan AD ikut berpartisipasi dalam latihan perang dengan sandi “Rasulullah yang Mulia” pada April 2006. Latihan perang ini memperlihatkan kecanggihan kapal berkecepatan tinggi yang dinamakan “Ya Mahdi”. Selain itu, sebanyak 313 kapal boat dengan kemampuan menembakkan roket dan rudal, ikut berpartisipasi dalam latihan ini .
Latihan perang di perairan Nilgun, Teluk Persia, di propinsi Bushehr, Iran Selatan ini memperagakan proyek-proyek peluncur rudal, pencegatan dan penghancuran kapal-kapal musuh buatan oleh regu-regu penyelam mandiri, kapal-kapal pengebom, dan regu-regu pengebom dari pantai ke darat. Sekaligus juga memperagakan operasi penyediaan jalur hubungan internal, operasi perlawanan terhadap perang mental secara masif dari pihak musuh, operasi militer serangan dari permukaan terhadap kapal-kapal musuh, operasi penangkalan serangan udara, dan operasi penebaran ranjau di jalur-jalur musuh. Manuver militer dimulai sejak 31 Maret 2006 dengan peluncuran rudal Shahab 2 buatan Iran dan berlanjut sampai 6 April 2006. Manuver ini melibatkan 17,000 pasukan dari Kolonel Garda Revolusi Islam (IRGC), Angkatan Bersenjata, dan Pasukan Relawan (Basij) serta mengerahkan sekitar 1500 unit kapal pengebom, jet pemburu, helikopter militer, dan perlengkapan rudal . Pasukan Garda Republik (Pasdaran) Iran berhasil melakukan ujicoba atas rudal balistik terbarunya dalam latihan perang laut hari kedua. Rudal balistik terbaru bernama “Kautsar” yang diproduksi di dalam negeri itu memiliki kemampuan untuk diarahkan menuju sejumlah sasaran dalam waktu yang bersamaan. Selain itu, rudal tersebut juga tidak akan terdeteksi radar. Dalam latihan militer tersebut, pasukan gabungan Republik Islam Iran juga berhasil menembak jatuh pesawat pengintai tanpa awak milik musuh bayangan dengan senjata otomatis anti serangan udara.
Republik Islam Iran berhasil melakukan ujicoba sebuah torpedo bawah permukaan air yang mampu melaju dengan kecepatan 100 meter perdetik. Ujicoba tersebut berhasil dilakukan di hari ketiga. Rudal jenis baru yang diberi nama Hoot ini adalah yang tercepat di dunia, karena selama ini, rudal yang paling cepat di dunia hanya mampu bergerak dengan kecepatan 25 meter perdetik. Hoot mampu membawa hulu ledak berkekuatan besar. Dengan kekuatan besar dan kecepatan seperti itu, dipastikan tidak akan ada kapal induk atau kapal selam yang bisa menghindar dari tembakan rudal ini. Hanya ada dua negara di dunia yang mampu memproduksi rudal bawah air tersebut. Sejumlah kalangan mencurigai keterlibatan Rusia karena rudal bawah laut supercepat buatan Iran itu dianggap mirip dengan VA-111 Shkval buatan Rusia. Selain itu, ujicoba rudal Fajr-3 juga sukses dilakukan oleh Pasukan Garda Revolusi Iran dalam latihan perang di kawasan selatan Iran tersebut. Pasukan Garda Revolusi (Pasdaran) Iran berhasil melakukan ujicoba ketiga atas rudal super modern yang bisa ditembakan dari udara ke kawasan perairan di hari Keenam Latihan. Rudal yang diberi nama “Noor” itu mampu ditembakkan dari segala jenis pesawat perang, baik itu berupa helikopter maupun pesawat tempur. Hal tersebut dikatakan sebagai salah satu spesifikasi penting teknologi pertahanan perang Iran.
D. Hubungan Antara Perkembangan Militer dan Perkembangan Ekonomi
Iran adalah negara yang diembargo secara militer oleh negara-negar Barat, khusunya amerika serikat. Hal ini dimulai ketika Iran berhasil menumbangkan kekuasaan Reza Pahlevi dan membentuk pemerintahan Republik Islam Iran dibawah kepemimpinan Ayatollah Khomeini. Tapi, Iran telah menjadi negara yang maju dan diluar perkiraan Barat, bahwa Iran akan segera runtuh. Berbekal sikap mandiri, beragam embargo yang telah puluhan tahun diberlakukan kepada Iran justru memberikan dampak positif yang sangat luar biasa. Dalam hal militer, Iran merupakan militer yang disegani di wilayah Persia dan timur tengah. Militer yang berhasil memberikan efek detterence terhadap Amerika Serikat dan Israel dan tidak dapat digertak dengan ancaman apapun. Kementerian pertahanan Iran mampu merancang, memproduksi dan memasok berbagai jenis persenjataan untuk militer dalam negeri, dan mengatakan bahwa para staf kementerian yang berpengalaman mampu untuk memasok segala hal yang dibutuhkan oleh angkatan laut, angkatan udara dan angkatan darat, dan semuanya dibuat sendiri. Tekanan dari negara-negara Barat menyebabkan Iran semakin berkembang dalam bidang politik, ekonomi, militer dan pertahanan negara.
Kemajuan yang dicapai Iran dalam teknologi pertahanan dan militernya tidak bisa diingkari oleh siapapun. Kemajuan pesat teknologi pertahanan dan militer Iran tersebut terlihat secara jelas dari keberhasilan angkatan bersenjata Iran dalam melakukan ujicoba atas berbagai produk senjata modern Iran. Rudal Kowsar, Noor, dan terpedo Hoot sebagai salah satu contoh jenis senjata produk dalam negeri Iran yang berhasil diujicobakan tersebut. Keberhasilan Iran dalam ujicoba senjata-senjata super canggihnya itu diliput secara meluas oleh media-media internasional dan mendapatkan tanggapan yang beragam. Komandan Umum Pasukan Garda Revolusi Islam Iran, Jenderal Sayid Yahya Safavi mengatakan bahwa AS dan kekuatan lintas regional lainnya harus menghentikan segala macam konspirasi anti Iran yang selalu mereka gelar. Mereka juga harus mengakui bahwa Iran sudah menjelma menjadi satu kekuatan militer yang besar di kawasan. Hal ini tentu semakin mempertegas kekuatan dan posisi strategis Iran di pentas dunia. Berkembangnya kekuatan militer Iran tidak lepas dari pengaruh perkembangan Iran di bidang lainnya, seperti ekonomi dan pendidikan.
Iran telah mengalami perkembangan pesat di bidang sains dan teknologi, keunggunalannya bahkan melebih Mesir dan Turki. Pengembangan teknologi adalah faktor penting yang akan memicu kemajuan ekonomi dan akan meningkatkan daya saing negara dalam bidang industri barnag dan jasa, hal ini menjadi sangat krusial seiring dengan terbukanya pasar dunia. Iran berusaha membendung intervensi kapitalisme dengan menyatakan bahwa Iran bergantung pada produksi bensin dalam negeri yang dimulai pada tahun 2006. Teheran sepenuhnya akan bergantung pada produk bensin lokal sebagai pengganti produk impor yang dianggap dapat membahayakan konsumsi lokal. Amerika Serikat sebagai negara adidaya menggunakan alasan pengadaan senjata nuklir Iran untuk menentang proyek pembangunan pipa sepanjang 2600 km yang menghubungkan Iran, Pakistan, dan India. Hal ini merupakan salah satu bentuk gangguan AS dalam pengembangan ekonomi Iran. AS menolak dengan tegas proyek pipanisasi tersebut karena Iran ikut ambil bagian di dalamnya. Iran yang memiliki cadangan gas alam terbesar kedua di dunia tidak mempedulikan AS dan tetap merealisasikan kesepakatan pelaksanaan proyek tersebut pada Juni 2006 .
Bentuk sikap keras Iran tehadap AS yang lainnya terlihat dari pernyataan presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, yang dilansir CNN pada tanggal 19 April 2010. Ahmadinejad mengklaim bahwa Iran sangat kuat sehingga tak ada negara yang berani menyerang. Ahmadinejad juga mencetuskan dengan tegas bahwa PBB dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) tidak efektif karena didominasi oleh beberapa negara. Ketua Parlemen Iran Ali Larijani bahkan menyatakan bahwa Iran saat ini tinggal di pasca era Amerika Serikat dan dengan lantang meneriakkan kematian untuk Amerika . Selain itu, Iran bahkan berani menyatakan bahwa negara-negara barat sekarang merendahkan diri di hadapan kebesaran militer Iran dan tidak berani menyerang Republik Islam itu. Iran berani memberikan pernyataan demikian karena Iran memiliki kekuatan militer yang hebat dan mampu melindungi Iran dari berbagai serangan. Oleh sebab itu, embargo dalam bentuk apapun, termasuk ekonomi, tidak akan mampu menjatuhkan Iran jika Iran masih tetap memiliki kekuatan militer sebagai deterrence dan bargaining power.
REFERENSI
AD Iran Gelar Manuver Taktik. Diakses dari http://Indonesian.irib.ir.
Ahmadinejad Bangga Kekuatan Militer Iran. Diakses dari http://www.inilah.com.
Alcaff, Muhammad. 2008. Perang Nuklir? Jakarta: Zahra Publishing House.
Angkatan Laut Iran gelar latihan di perairan Teluk. Diakses dari http://waspada.co.id.
AS tidak Dapat Gertak Iran. Diakses dari http://www.mediaindonesia.com.
Dody Aviantara. Angkasa Telisik Kekuatan Udara Iran. Diakses dari http://www.angkasa-online.com.
El-Gogary, Adel. 2006. The Nuclear Savior of Tehran. Depok: Pustaka Ilman.
Eric Margolis. Fakta Tentang Militer Iran & Israel. Diakses dari http://cwsgading.com.
Iran Mulai Latihan Perang di Teluk. Diakses dari http://www.suarakarya-online.com.
Militer Iran Mulai Latihan Perang di Teluk Persia. Diakses dari http://www.irib.ir.
Peningkatan Kekuatan Militer Iran. Diakses dari http://internasional.okezone.com.
Tambah Kuat, Militer Iran Siap Bela Negara? Diakses dari http://www.suaramedia.com.
Tampilkan postingan dengan label Politik dan Strategi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik dan Strategi. Tampilkan semua postingan
Senin, 24 Mei 2010
Kamis, 18 Maret 2010
STRATEGI KEAMANAN IRAN MENGHADAPI ANCAMAN SERANGAN AMERIKA SERIKAT
1.1. Latar Belakang
Penilitian ini akan membahas mengenai strategi yang diterapkan Iran dalam menghadapi ancaman serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS). Sebelumnya telah ada penelitian dengan pembahasan yang sama. Walaupun demikian, terdapat beberapa bagian yang berbeda. Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Alfajri pada tahun 2007 dengan judul “Kebijakan Iran Melanjutkan Program Pengembangan Teknologi Nuklir di Bawah Tekanan Amerika Serikat (2005-2007)”. Penelitian tersebut berada dalam lingkup politik internasional sebagai salah satu bidang kajian dalam ilmu Hubungan Internasional dan menggunakan perspektif Realis. Teori yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah Game Theory tentang pengambilan keputusan untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Teori ini menjelaskan pilihan kebijakan Iran untuk melanjutkan program energi nuklir memberi keuntungan daripada menghentikannya yang bermakna kerugian.
Variabel independen pada penelitian Alfajri adalah pilihan kebijakan Iran untuk melanjutkan perogram pengembangan teknologi nuklir. Sedangkan variabel dependennya adalah AS melakukan berbagai macam tekanan untuk menghentikan program pengembangan nuklir Iran. Sedangkan rumusan penelitian terdahulu tersebut adalah mengapa Iran tetap melanjutkan program pengembangan teknologi nuklir, meskipun tekanan AS sangat kuat? Dan hipotesis yang didapat adalah bahwa kebijakan pilihan untuk melanjutkan program pengembangan teknologi nuklir oleh Iran dengan resiko terburuk serangan militer AS adalah pilihan menguntungkan daripada menghentikannya yang bisa bermakna kerugian.
Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini terlihat pada teori yang digunakan, rumusan masalah, variabel hipotesa, dan ruang lingkup penelitian. Selain itu, penelitian ini lebih memfokuskan kepada pengembangan teknologi pertahanan dan keamanan Iran sebagai strategi Iran menghadapi ancaman serangan AS. Penelitian ini tidak terlalu fokus pada pengembangan teknologi nuklir Iran, melainkan hanya fokus pada pembahasan kekuatan militer Iran yang berkembang pesat saat hubungan bilateral Iran-AS semakin memanas.
Faktor utama yang memicu memburuknya hubungan Iran-AS sehingga menyebabkan munculnya pernyataan ancaman serangan militer terhadap Iran adalah terkait masalah nuklir Iran. AS memberikan pernyataan dan yakin bahwa Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir. AS juga tidak pernah mengesampingkan serangan militer terhadap Teheran. Namun, Iran berkeras bahwa negara itu hanya mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai. Selain itu, sebagai salah satu negara sekutu AS, Israel merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki persenjataan nuklir meskipun tidak pernah mendeklarasikannya. Israel menganggap Iran sebagai musuh utama setelah Ahmadinejad menyatakan penyangkalan terhadap Holocaust dan mengancam menghapus Israel dari peta dunia, bahkan Ahmadinejad sejak awal menegaskan bahwa keberadaan Israel di Palestina adalah ilegal karena jika melihat kembali peta dunia sebelum tahun 1947, tidak pernah ada negara bernama Israel . Dengan kata lain, memburuknya hubungan Iran-Israel akan berujung pada kesimpulan bahwa musuh utama Israel juga akan menjadi musuh utama AS.
Faktor lain yang menyebabkan tidak baiknya hubungan Iran-AS yang berujung pada ancaman serangan terhadap Teheran, selain karena faktor sejarah revolusi Iran, adalah dikarenakan Iran semakin memiliki kerjasama dan hubungan baik dengan negara-negara yang berseberangan dengan AS, seperti Rusia, Cina, Korea Utara, Suriah, Kuba, dan Venezuela. Cina bahkan menggunakan hak vetonya untuk menentang eskalasi sanksi terhadap Iran dan menilai program nuklir sipil Republik Islam Iran bukan ancaman bagi masyarakat dunia. Sebagaimana dilaporkan kantor berita DPA dari New York, sebuah riset yang dilakukan lembaga International Crisis group mengungkapkan bahwa Cina mempercayai Iran tidak akan memproduksi senjata nuklir . Sikap Cina tersebut sejalan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang juga membenarkan bahwa Iran tidak bertekad memproduksi senjata nuklir.
Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden Iran menegaskan bahwa senjata nuklir sudah tidak efektif lagi karena era kemanusiaan dan budaya sudah dimulai. Ahmadinejad bahkan menyinggung masalah menciptakan kawasan bebas senjata nuklir. Mengutip pernyataan Ahmadinejad dalam wawancara eksklusif dengan televisi NTV Rusia:
Ahmadinejad juga menegaskan bahwa pernyataan-pernyataan AS mengenai nuklir Iran hanya sebuah permainan politik dan AS yang memiliki sekitar 10 ribu hulu ledak nuklir dan rudal-rudal balistik tidak sepantasnya memprediksikan bahwa Iran akan mampu membuat bom atom hingga tahun 2015 dan membahayakan dunia. Ahmadinejad juga menuding AS hanya ingin berkuasa di Timur Tengah dan sejumlah negara-negara Barat, khususnya AS, berusaha mengalihkan perhatian dunia dari tindakan-tindakan kejam Israel. Akibat dari sikap keras Iran terhadap AS tersebut, AS berulang kali mengancam Iran dengan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengisolasi Iran jika negara tersebut tidak ikut perundingan internasional terkait pengembangan nuklirnya . Bentuk ancaman lainnya yang bersifat kasar juga disiarkan lewat sejumlah laporan di suratkabar Amerika Serikat dan mencatat tulisan di majalah The New Yorker bahwa AS berencana dan menyarankan penggunaan bom penembus bunker untuk menyerang sarana nuklir Iran pada tahun 2006. Iran menganggap hal tersebut sebagai pelanggaran nyata atas aturan dunia dan piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menulis surat ke Sekretaris Jenderal PBB untuk mengadukan ancaman tersebut.
Rencana Presiden George W. Bush untuk melancarkan pemboman besar-besaran terhadap Iran ditanggapi Iran dengan sikap tenang dan membalikkan ancaman kepada AS dengan meminta PBB dan Dewan Keamanan (DK) untuk mengambil tindakan tegas dan cepat terhadap ancaman AS yang dianggap Iran tidak sah. Iran menyatakan bahwa negara tersebut akan menolak setiap resolusi bersifat paksaan dan akan melawan tekanan atas kegiatan nuklirnya saat negara Barat siap mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengambil tindakan terhadap Teheran. Mengutip pernyataan pejabat nasional utama Iran, Ali Larijani, tidak lama setelah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan Washington soal balasan sedunia jika Iran diserang:
Amerika Serikat, Israel, dan negara mitranya di Barat menduga Iran mengembangkan senjata atom di balik alasan kepentingan energi sipil. Ditambah lagi, kemampuan Iran meluncurkan satelit telah meningkatkan kecemasan akan serangan jarak jauh. Oleh sebab itu, tidak jauh berbeda dengan sikap presiden AS sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga mengancam Iran dengan menyatakan bahwa jika Iran tetap mengabaikan kewajiban internasionalnya, maka dapat dipastikan bahwa Teheran akan berhadapan dengan konsekuensi yang lebih berat lagi. Iran menanggapi pesan tersebut dan mengubah haluan program atomnya. Namun, AS menginginkan bukti nyata dan mengusulkan ketentuan agar Iran mengirimkan 1200 kg uranium untuk diperkaya di Perancis dan Rusia. Dengan begitu diharapkan, Iran hanya melakukan proses pengayaan uranium yang terbatas dan di bawah standar spesifikasi bom atom. Untuk menegosiasi ini, AS membuka kembali dialog dengan Iran pada tahun 2009. Dialog yang sudah dibekukan selama 30 tahun tersebut berakhir tanpa hasil . Iran mengumumkan dimulainya proses pengayaan uranium hingga 20 persen. Menurut Teheran, uranium itu nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar reaktor riset medis di Iran. Keputusan Iran tersebut merupakan penolakan atas tawaran Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk mengirimkan cadangan uraniumnya ke luar negeri agar dapat dilakukan pengayaan dan kemudian dikirimkan kembali ke Iran.
Menurut para pakar nuklir, setelah Iran melakukan pengayaan uranium hingga 20 persen, Iran dapat melanjutkannya hingga 93 persen untuk memproduksi senjata nuklir, karena teknologinya sama. Namun pemerintah Iran bersikeras bahwa pengayaan uranium tersebut semata-mata untuk kepentingan energi sipil. Berdasarkan kesepakatan dengan Badan Energi Atom Dunia di bawah PBB, Iran harus mengirimkan hasil pengayaan uranium-nya ke Prancis atau Rusia untuk diubah menjadi bahan bakar pembangkit dengan kadar 20 persen . Namun, kesepakatan tersebut ditolak dan Iran tetap teguh dengan pendiriannya bahwa pengayaan harus dilakukan di dalam wilayah negara Iran. Sikap Iran tersebut menimbulkan reaksi keras Amerika Serikat yang kemudian meminta PBB memberikan sanksi kepada Iran jika akhir tahun 2009 kesepakatan tersebut dilanggar. AS akan mulai mengambil langkah jika Iran mengingkari kewajibannya seperti yang telah tertera dalam kesepakatan. Namun. Ahmadinejad tetap tegas dan tidak menggubris ancaman tersebut dan menyatakan bahwa jika Iran ingin membuat bom, Iran memiliki cukup keberanian untuk mengumumkannya.
Presiden Amerika Serikat Barack Obama kembali mengancam Iran terkait program nuklirnya pada awal tahun 2010. Obama menyatakan akan mengisolasi Iran dengan serangkaian sanksi signifikan jika Iran terus mengarah ke pengembangan senjata nuklir dan yakin walaupun bersikap bahwa tenaga nuklir Iran hanya untuk kepentingan sipil, pada kenyataannya Iran terus mengejar arah yang akan menuju pembuatan senjata, dan hal tersebut tidak bisa diterima oleh komunitas internasional. Robert Gates, Menteri Pertahanan AS menyatakan bahwa Iran hanya akan mengerti bila Amerika Serikat bertindak keras, karenanya kerjasama dengan mitra di kawasan tersebut ditingkatkan dengan cara membantu Arab Saudi membangun pasukan berkekuatan 30 ribu tentara untuk melindungi saluran pipa minyak. Menurut informasi New York Times, AS menempatkan sistem penangkal roket di Kuwait, Uni Arab Emirat, Qatar dan Bahrain. Obama bahkan menegaskan akan menjatuhkan sanksi-sanksi baru terhadap Iran .
1.2. Permasalahan Penelitian
Perkembangan hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Iran semakin mengarah kepada perang. Berbagai faktor telah memicu semakin memburuknya hubungan dua negara tersebut. AS sebagai negara super power menentang pengembangan nuklir Iran dan yakin bahwa Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran berkeras bahwa negara itu hanya mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai. Selain itu, Iran juga selalu mengambil sikap menentang terhadap salah satu negara sekutu AS di Timur Tengah, yaitu Israel. Hal ini juga semakin mengakibatkan memburuknya hubungan Iran-AS. Iran semakin menunjukkan kesiapannya menghadapi AS dengan meningkatkan kerjasama dan hubungan baik dengan negara-negara yang berseberangan dengan AS, seperti Rusia, Cina, Korea Utara, Suriah, Kuba, dan Venezuela. Faktor-faktor tersebut yang menyebabkan tidak baiknya hubungan Iran-AS dan berujung pada ancaman serangan terhadap Teheran. AS tidak pernah mengesampingkan serangan militer terhadap Teheran dan memaksakan berbagai tekanan sebagai tindakan tegas terhadap Iran.
Iran tidak pernah menganggap tekanan negara super power AS sebagai bentuk ancaman yang dapat menghentikan niat negara tersebut untuk mengembangkan nuklir. Sebagaimana pernyataan presiden Mahmoud Ahmadinejad:
Presiden Ahmadinejad tetap tegas menyatakan bahwa nuklir Iran tidak dikembangkan untuk persenjataan. Ahmadinejad bahkan menuding AS yang memiliki sekitar 10 ribu hulu ledak nuklir dan rudal-rudal balistik tidak sepantasnya memprediksikan bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir yang membahayakan dunia. Jadi, pernyataan penentangan AS hanya suatu permainan politik karena AS ingin berkuasa di Timur Tengah. Walaupun sikap keras Iran terhadap AS tersebut mengakibatkan Iran berulang kali mencapat tekanan dan ancaman serangan, pada akhirnya Iran tetap melanjutkan kebijakan nuklirnya. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, penulis mengajukan pertanyaan utama dalam penelitian ini, yaitu: Bagaimanakah strategi keamanan Iran menghadapi ancaman serangan Amerika Serikat pada tahun 2005-2010?
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang lebih luas bagi mahasiswa dan masyarakat tentang strategi yang diterapkan Iran menghadapi ancaman serangan negara adidaya Amerika Serikat. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi yang berguna dalam memperluas ilmu pengetahuan dan menjadi sumber informasi bagi pihak-pihak yang akan melakukan penelitian dengan objek yang sama, terutama mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau. Tujuan penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:
1.4. Teori
Penulis menggunakan teori yang relevan dengan pembahasan permasalahan, karena dalam suatu penelitian teori sangat penting untuk membaca atau menganalisis masalah. Penggunaan teori disesuaikan dengan perspektif dan tingkat analisis yang digunakan untuk membahas permasalahan. Perspektif yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah perspektif realis. Fokus analisisnya adalah keamanan negara dan kedaulatan wilayah sehingga ada penekanan pada kekuatan di bidang militer (military force) . Para penganut realis memandang bahwa setiap negara selalu mencari power dan perang adalah perencanaan karena sifat dasar dunia internasional adalah anarki, kompetitif, dan konflik. Perspektif realis memandang bahwa negara merupakan aktor utama dalam politik internasional. Oleh sebab itu, tingkat analisis dalam penelitian ini adalah negara bangsa (nation-state). Pada tingkat analisis ini, negara merupakan aktor yang paling berperan dalam sistem internasional dan relatif memiliki kebebasan untuk menentukan kebijakan yang akan diambil.
Realis tidak menafikan prinsip-prinsip moral, hanya saja dalam prakteknya moralitas individual dikalahkan oleh kelangsungan hidup negara dan penduduknya serta pencapaian kepentingan nasional. Realisme memfokuskan analisisnya pada pengejaran terhadap power dalam interaksi internasional dan tidak adanya keharmonisan kepentingan diantara negara-negara sehingga konsep self help menjadi penting dan kemampuan yang paling relevan adalah kemampuan dibidang militer. Jika suatu negara telah melakukan antisipasi terhadap perang, maka persiapan untuk perang tersebut (strategi) menjadi suatu hal yang krusial. Oleh sebab itu, teori yang relevan untuk mengkaji strategi Iran menghadapi ancaman serangan Amerika Serikat adalah Teori Strategi Keamanan. Teori ini terdiri dari dua konsep yaitu strategi dan keamanan.
Strategi menurut John Lovell adalah serangkaian langkah-langkah (moves) atau keputusan-keputusan yang dirancang sebelumnya dalam situasi kompetitif dimana hasil akhirnya tidak semata-mata bersifat untung-untungan . Strategi adalah cara yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan atau kepentingan dengan menggunakan power yang tersedia, termasuk juga kekuatan militer. Dalam perancangan strategi tidak didasarkan pada pertimbangan moral, keyakinan, atau hal-hal emosional, tetapi didasarkan pada rasionalitas para perancang strategi atau para pembuat keputusan. Selain itu, pengertian strategi menurut Craig Snyder adalah:
Strategi yang telah dirancang tersebut akan menjadi pedoman bagi para pembuat kebijakan untuk mencapai kepentingan nasional. Secara analitis, terdapat dua komponen strategi yaitu komponen ofensif yang merupakan bentuk untuk mendapatkan perolehan dan keuntungan, dan komponen defensif yaitu bentuk untuk mencegah kerugian-kerugian.
Secara umum, keamanan dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mempertahankan diri (survival) dalam menghadapi ancaman yang nyata (existensial threat) yang berasal dari pihak lain . Keterkaitan keamanan dengan hubungan internasional memiliki persamaan pada konsep insecurity sehingga kepemilikan power menjadi sesuatu yang tidak terelakkan untuk mewujudkan security. Ancaman militer berkaitan dengan penggunaan kekuatan dan pemaksaan. Kondisi ini mengancam eksistensi seluruh komponen negara. Selain ancaman, keamanan juga terkait dengan kerawanan (vulnerabilities). Barry Buzan mengungkapkan bahwa ketidakamanan (insecurity) suatu negara merupakan kombinasi antara ancaman dan kerawanan. Kerawanan berkaitan dengan kelemahan negara dan kelemahan kekuatan (weak states and weak powers) baik di bidang politik, sosial, ekonomi dan militer .
Dalam konsepsi realis mengenai keamanan, Barry Buzan mengidentifikasikan tiga ancaman terhadap negara yaitu ancaman terhadap ideologi dari negara, fisik dari negara (populasi dan sumber daya), dan sistem politik negara. Keamanan bagi negara maupun masyarakat dan individual dipengaruhi oleh sektor militer, politik, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Negara yang memiliki kekuatan militer dan kondisi sosial politik yang lemah akan menjadi negara yang rawan terhadap ancaman. Selain itu, lemahnya ekonomi suatu negara juga dapat menjadi faktor penyebab rawannya negara tersebut terhadap segala jenis ancaman. Lingkungan juga menjadi salah satu faktor kerawanan suatu negara terhadap ancaman, dalam hal ini lingkungan yang dimaksud adalah kondisi geografi suatu negara. Wilayah negara yang tanahnya datar dan dikelilingi pegunungan lebih rentan terhadap ancaman dibandingkan dengan wilayah yang berada di pegunungan dan kepulauan. Barry menyatakan bahwa dunia yang ideal bukan pada saat semua orang dengan sukses memperoleh keamanan melainkan ketika tidak ada lagi pembicaraan mengenai keamanan.
Keamanan mengacu pada sebuah konsep dimana sebuah kelompok atau komunitas masyarakat menganggap sesuatu sebagai ancaman bagi keamanan mereka . Barry Buzan menyebut hal tersebut sebagai sekuritisasi (securitization). Sekuritisasi dapat diartikan sebagai sebuah proses dimana pemahaman antar individu dibangun dalam sebuah komunitas politik untuk meyakini sesuatu sebagai ancaman nyata dan memungkinkan pelaksanaan berbagai kebijakan untuk menghilangkan ancaman terhadap keamanan. Pemikiran tentang penanggulangan ancaman keamanan kemudian berkembang menjadi kajian strategi keamanan. Kajian ini secara umum merupakan jembatan yang diperlukan oleh sebuah negara sebagai unit utama dalam sistem internasional untuk menggunakan seluruh power yang dimilikinya secara optimal dalam upaya meningkatkan kondisi keamanannya, termasuk kekuatan militer (extraordinary means). Pembangunan militer adalah salah satu kebutuhan negara untuk mempertahankan keamanan. Secara khusus, didefinisikan sebagai seni pendistribusian dan penggunaan kekuatan militer untuk memenuhi tujuan politik (Basil Liddle Hart), penggunaan kekuatan militer untuk mencapai tujuan kebijakan (Hedley Bull), dan hubungan antara kekuatan militer dan tujuan politik (Gray). Penilaian terhadap ancaman dilakukan secara terus menerus untuk menentukan intensitas ancaman keamanan terhadap negara. Hal ini akan berpengaruh pada penentuan strategi yang diaplikasikan untuk menghilangkan ancaman yang ada.
Pendekatan strategi menurut John M. Collins terbagi menjadi sekuensial dan kumulatif, langsung dan tidak langsung, detterent dan combative, imbangan kekuatan dan imbangan nilai. Dalam hal ini, konsep yang dapat digunakan adalah detterent dan combative. Collins mendefinisikan detterent sebagai penggunaan kekuatan untuk mencegah atau membatasi ruang lingkup perang (penangkalan). Sementara itu, combative merupakan strategi untuk melaksanakan perang jika perang sudah dimulai atau dengan kata lain adalah strategi untuk memenangkan perang. Konsep yang digunakan Iran dalam kasus ini adalah konsep detterent karena perang belum dimulai, baik dari pihak Iran maupun Amerika Serikat. Konsep detterent terkandung dalam strategi yang digunakan Iran untuk menghadapi Amerika Serikat karena apabila ada pilihan untuk memulai perang atau tidak memulai perang, Iran akan memilih untuk tidak berperang selama Amerika Serikat tidak mewujudkan ancaman serangannya menjadi tindakan nyata.
Sikap dingin dan tindakan tegas Iran menghadapi tekanan AS menyebabkan AS memberikan ancaman untuk melakukan serangan militer terhadap Teheran. Iran dianggap sebagai negara yang akan mengembangkan senjata nuklir dan membahayakan dunia. Walaupun demikian, Iran tidak mempedulikan segala bentuk tekanan AS dan tetap melanjutkan kebijakan nuklirnya. Tapi, Iran belum bisa menjadi negara yang dapat mengimbangi AS jika dipandang dari berbagai bidang. Karena faktanya, negara yang ingin menyaingi militer AS akan berhadapan dengan jalan yang sangat panjang. Maka untuk itu Iran merancang strategi menghadapi ancaman serangan Amerika Serikat dengan semua sumber kekuatan yang dimiliki Iran, terutama kekuatan militernya yang telah berkembang menuju kekuatan terbesar di Timur Tengah. Selain itu, Iran juga memiliki tenaga-tenaga ahli yang terdidik dan diantaranya telah berhasil membuat dan mengembangkan berbagai bentuk roket, seperti roket darat ke darat, darat ke laut, dan darat ke udara. Para ilmuwan Iran juga telah mampu mengembangkan pesawat tempur berteknologi tinggi, baik pesawat tempur tanpa awak maupun pesawat tempur standar . Iran juga mengalami kemajuan di bidang ekonomi ditandai dengan meningkatnya investasi asing, dan kemajuan-kemajuan lainnya yang diperlihatkan Iran dalam berbagai bidang sehingga Iran dapat menggunakan power tersebut dalam strategi keamanan yang dirancangnya menghadapi Amerika Serikat.
1.5. Hipotesa
Berdasarkan pada rumusan masalah dan mengacu pada kerangka teori yang penulis ajukan, penulis merumuskan hipotesa bahwa “Kemajuan Iran dalam teknologi pertahanan dan militer adalah strategi yang disiapkan untuk menghadapi ancaman serangan Amerika Serikat.” Penulis merumuskan dua variabel yang diperlukan untuk memahami permasalahan ini yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independennya adalah AS memberikan tekanan dan ancaman serangan terhadap Iran. Indikator-indikator dari variabel independen ini adalah:
Variabel dependen dari penelitian ini adalah Iran meningkatkan teknologi pertahanan dan keamanan menuju kekuatan militer terbesar di Timur Tengah. Indikator-indikator dari variabel dependen ini adalah:
1.6. Defenisi Konsepsional
Pembahasan penelitian ini didasarkan pada berbagai macam konsep yang akan mendukung upaya penjelasan atas permasalahan yang diteliti. Penulis menggunakan beberapa konsep dalam pembahasan ini. Strategi merupakan pola rencana jangka panjang yang dipersiapkan berdasarkan perhitungan secara matang. Konsep keamanan hakikatnya merupakan sebuah keadaan yang bebas dari ancaman Konsep keamanan secara sederhana dapat dipahami sebagai suatu kondisi yang aman (secure) yaitu suatu kondisi yang bebas akan adanya ancaman baik itu dari aspek militer maupun aspek lainnya, sedangkan keadaan yang tidak aman (insecure) dapat didefinisikan dengan adanya ancaman terhadap kehidupan manusia di dalam sebuah kelompok, masyarakat dan negara di segala aspek.
Ancaman adalah setiap usaha dan kegiatan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman militer adalah ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata yang terorganisasi yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa . Ancaman militer dapat berbentuk Agresi oleh negara lain, pelanggaran wilayah, Spionase, Sabotase, aksi teror bersenjata, pemberontakan bersenjata, dan perang saudara.
Diplomasi merupakan serangkaian proses yang digunakan untuk menjaga hubungan luar negeri suatu negara. Diplomasi dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Diplomasi juga berfungsi untuk membentuk image negara (image management) di dunia internasional . Jika diplomasi tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik, perang merupakan jalan terakhir.
Perang adalah konflik bersenjata antara dua atau lebih aktor (negara). Perang dapat digunakan sebagai salah satu instrumen untuk mencapai kepentingan nasional. Agresi merupakan penyerangan atau penyerbuan ke wilayah kekuasaan (negara) lain dengan menggunakan kekuatan militer . Serangan dilakukan tanpa adanya provokasi masif dari negara tetangga dan sifatnya cenderung menghancurkan.
1.7. Defenisi Operasional
Sikap tegas Iran yang tidak pernah mempedulikan segala bentuk tekanan dari negara super power AS menimbulkan ancaman terhadap negara Iran itu sendiri. Iran menyatakan bahwa era kemanusiaan dan budaya sudah mulai menggantikan era nuklir dan Iran sama sekali tidak tertarik dengan senjata nuklir sebagai senjata anti kemanusiaan. Pernyataan tersebut digunakan untuk menjawab tudingan AS bahwa Iran sedang mengembangkan senjata pemusnah massal. Iran bahkan dengan berani mengasumsikan bahwa sebenarnya AS hanya ingin berkuasa di Timur Tengah dan Iran tidak akan membiarkannya. Akibatnya AS memberikan tekanan berupa embargo bahkan AS juga mengancam akan menyerang Teheran jika presiden Ahmadinejad tetap berkeras.
Iran tentu tidak akan membiarkan negaranya diserang, maka serangan AS menjadi ancaman yang cukup besar bagi Iran. Kondisi ini mendorong Iran untuk melakukan berbagai upaya dan strategi untuk menghadapi encaman serangan AS terhadap Teheran dengan semakin mengembangkan kekuatan militernya dan membuat Iran menjadi negara yang menuju kekuatan terbesar di Timur Tengah. Secara berkala, Iran juga mengembangkan sektor lain yang dapat mendukung strategi Iran menghadapi AS.
Diplomasi yang diupayakan untuk memperbaiki hubungan Iran-AS tidak mengalami kemajuan. AS mengupayakan negosiasi dengan membuka kembali dialog dengan Iran pada tahun 2009. Dialog yang sudah dibekukan selama 30 tahun tersebut berakhir tanpa hasil. AS kembali mengancam dan memberikan tekanan, sedangkan Iran tidak mempedulikan dan tetap mengembangkan kekuatan militernya menuju kekuatan besar di Timur Tengah. Sementara Iran terus menyangkal bahwa nuklir yang sedang dikembangkannya adalah bukan senjata pemusnah massal, Iran juga terus berkembang di berbagai aspek yang dapat mendukung power dan strategi keamanannya dalam menghadapi ancaman dari negara manapun termasuk AS. AS juga hanya bisa melancarkan berbagai ancaman dan tekanan tanpa bisa bergerak selangkah lebih jauh lagi karena pada dasarnya, AS harus mempertimbangkan kekuatan Iran yang semakin berkembang sebelum AS memutuskan untuk benar-benar menyerang Iran.
1.8. Ruang Lingkup Penelitian
Penulis memberikan batasan-batasan dalam penelitian ini agar fokus melakukan penelitian terhadap fenomena yang dijadikan sebagai objek penelitian. Pertama, penelitian ini difokuskan pada strategi Iran menghadapi ancaman serangan oleh Amerika Serikat. Sikap tegas dan keras Iran menyebabkan AS memberikan tekanan dan menyatakan akan menyerang Teheran dan tentu saja hal ini menjadi ancaman yang besar bagi negara Iran. Kekuatan militer Amerika Serikat sebagai negara super power tidak perlu dipertanyakan lagi. Oleh sebab itu, karena Iran tetap tegas pada pendiriannya maka negara tersebut harus mempersiapkan strategi untuk menghadapi ancaman serangan AS.
Kedua, permasalahan dibatasi dengan penentuan jangka waktu penelitian dari tahun 2005 hinggga tahun 2010. Tahun 2005 dijadikan sebagai patokan awal karena pada bulan Juni 2005, Mahmoud Ahmadinejad terpilih sebagai presiden Iran dan di penghujung tahun 2005 Ahmadinejad mulai menjadi perhatian dunia Barat, khususnya AS, karena pernyataannya bahwa Israel harus dihapuskan dari peta dunia. Kontroversial Ahmadinejad tidak berhenti sampai di situ saja, selanjutnya Iran dibahwa kepemimpinan Ahmadinejad terus-menerus menunjukkan sikap keras terhadap AS dan sekutunya yang mengakibatkan hubungan Iran-AS semakin memburuk. Penulis membatasi penelitian hingga 2010 karena tahun ini merupakan waktu perkembangan terbaru bagi hubungan Iran dan AS, yang pada kenyataannya tidak mengalami kemajuan menuju hubungan yang lebih baik.
1.9. Metodologi Penelitian
1.9.1. Sifat Penelitian
Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif yang bersifat eksplanatif yakni suatu penelitian yang berusaha untuk menjelaskan tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya berbagai fenomena . Penelitan yang bersifat eksplanasi adalah sebuah penelitian yang memberikan pemaparan terhadap suatu permasalahan, keadaan, gejala, dan kebijakan serta tindakan. Penelitian secara eksplanasi lebih memaparkan secara rinci suatu fenomena dengan fakta-fakta yang dilengkapi dengan data dan analisa. Fenomena yang dijadikan objek dalam penelitian ini adalah strategi keamanan Iran menghadapi ancaman serangan Amerika Serikat.
1.9.2. Teknik Pengumpulan Data
Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah multi case study. Pemilihan strategi ini berimplikasi pada teknik pengumpulan data. Teknik yang digunakan adalah menghubungkan teori dengan data-data yang didapatkan melalui riset perpustakaan (library research). Data-data tersebut didapatkan dari buku-buku, jurnal, majalah, surat kabar dan
sumber lainnya (document analysis). Selain itu, penulis juga menggunakan sarana internet dalam proses pengumpulan data yang berkaitan dan relevan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.
1.9.3. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pemaparan mengenai penelitian ini, penulis membagi penjelasan menjadi beberapa bagian dengan sistematika sebagai berikut:
yaitu: latar belakang, permasalahan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, teori, hipotesis, definisi konsepsional, definisi operasional, ruang lingkup, dan metodologi penelitian.
REFERENSI
Alcaff, Muhammad. 2008. Perang Nuklir? Jakarta: Zahra Publishing House.
Andrio. 2010. “Penguasaan Jalur Gaza oleh Israel Tahun 2007-2009” (Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, Pekanbaru).
Buzan, Barry. 1991. People, States, and Fear 2nd Edition: An Agenda for International Security Studies in the Post Cold War Era. New York: Harvester Wheatsheaf.
__________.1998. A New Framework for Analysis. New York: Lynne Rienner.
Chandrawati, Nurani. 2001. “Perkembangan Konsep-konsep Keamanan dan Relevansinya terhadap Dinamika Keamanan Negara-negara Berkembang”. Global Jurnal Politik Internasional, Vol. II, No. 8.
Griffiths, Martin dan Terry O’Callaghan. 2002. International Relations: The Key Concepts. London: Routledge.
Marshall, Catherine dan Gretchen B Rossman. 1994. Designing Qualitative Research 2nd Edition. California: Sage Publication.
Mas’oed, Mohtar. 1989. Studi Hubungan Internasional: Tingkat Analisis dan Teorisasi. Yogyakarta: Pusat Antar Universitas-Studi Sosial UGM.
Noer, Deliar. 1997. Pemikiran Politik di Negeri Barat. Bandung: Mizan Pustaka.
Snyder, Craig A. 1999. Contemporary Security and Strategy. UK: Macmillan Press.
Sulaeman, Dina Y, 2008. Ahmadinejad on Palestine, Depok: Pustaka Ilman.
Tim Prima Pena. 2006. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya; Gitamedia Press.
Cina Percaya, Program Nuklir Iran Tidak Mengancam Dunia. Diakses dari http://indonesian.irib.ir.
Ahmadinejad: Era Menggunakan Senjata Nuklir Sudah Berakhir. Diakses dari http://indonesian.irib.ir.
Amerika Serikat kembali mengancam Iran. Diakses dari http://republika.co.id
Iran menyurati Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Diakses dari http://www.cmm.or.id.
Iran akan Ubah Haluan Program Atomnya. Diakses dari http://detiknews.com
AS Mengancam lagi, Iran masih tenang. Diakses dari http://bataviase.co.id
Penilitian ini akan membahas mengenai strategi yang diterapkan Iran dalam menghadapi ancaman serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS). Sebelumnya telah ada penelitian dengan pembahasan yang sama. Walaupun demikian, terdapat beberapa bagian yang berbeda. Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Alfajri pada tahun 2007 dengan judul “Kebijakan Iran Melanjutkan Program Pengembangan Teknologi Nuklir di Bawah Tekanan Amerika Serikat (2005-2007)”. Penelitian tersebut berada dalam lingkup politik internasional sebagai salah satu bidang kajian dalam ilmu Hubungan Internasional dan menggunakan perspektif Realis. Teori yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah Game Theory tentang pengambilan keputusan untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Teori ini menjelaskan pilihan kebijakan Iran untuk melanjutkan program energi nuklir memberi keuntungan daripada menghentikannya yang bermakna kerugian.
Variabel independen pada penelitian Alfajri adalah pilihan kebijakan Iran untuk melanjutkan perogram pengembangan teknologi nuklir. Sedangkan variabel dependennya adalah AS melakukan berbagai macam tekanan untuk menghentikan program pengembangan nuklir Iran. Sedangkan rumusan penelitian terdahulu tersebut adalah mengapa Iran tetap melanjutkan program pengembangan teknologi nuklir, meskipun tekanan AS sangat kuat? Dan hipotesis yang didapat adalah bahwa kebijakan pilihan untuk melanjutkan program pengembangan teknologi nuklir oleh Iran dengan resiko terburuk serangan militer AS adalah pilihan menguntungkan daripada menghentikannya yang bisa bermakna kerugian.
Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini terlihat pada teori yang digunakan, rumusan masalah, variabel hipotesa, dan ruang lingkup penelitian. Selain itu, penelitian ini lebih memfokuskan kepada pengembangan teknologi pertahanan dan keamanan Iran sebagai strategi Iran menghadapi ancaman serangan AS. Penelitian ini tidak terlalu fokus pada pengembangan teknologi nuklir Iran, melainkan hanya fokus pada pembahasan kekuatan militer Iran yang berkembang pesat saat hubungan bilateral Iran-AS semakin memanas.
Faktor utama yang memicu memburuknya hubungan Iran-AS sehingga menyebabkan munculnya pernyataan ancaman serangan militer terhadap Iran adalah terkait masalah nuklir Iran. AS memberikan pernyataan dan yakin bahwa Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir. AS juga tidak pernah mengesampingkan serangan militer terhadap Teheran. Namun, Iran berkeras bahwa negara itu hanya mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai. Selain itu, sebagai salah satu negara sekutu AS, Israel merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki persenjataan nuklir meskipun tidak pernah mendeklarasikannya. Israel menganggap Iran sebagai musuh utama setelah Ahmadinejad menyatakan penyangkalan terhadap Holocaust dan mengancam menghapus Israel dari peta dunia, bahkan Ahmadinejad sejak awal menegaskan bahwa keberadaan Israel di Palestina adalah ilegal karena jika melihat kembali peta dunia sebelum tahun 1947, tidak pernah ada negara bernama Israel . Dengan kata lain, memburuknya hubungan Iran-Israel akan berujung pada kesimpulan bahwa musuh utama Israel juga akan menjadi musuh utama AS.
Faktor lain yang menyebabkan tidak baiknya hubungan Iran-AS yang berujung pada ancaman serangan terhadap Teheran, selain karena faktor sejarah revolusi Iran, adalah dikarenakan Iran semakin memiliki kerjasama dan hubungan baik dengan negara-negara yang berseberangan dengan AS, seperti Rusia, Cina, Korea Utara, Suriah, Kuba, dan Venezuela. Cina bahkan menggunakan hak vetonya untuk menentang eskalasi sanksi terhadap Iran dan menilai program nuklir sipil Republik Islam Iran bukan ancaman bagi masyarakat dunia. Sebagaimana dilaporkan kantor berita DPA dari New York, sebuah riset yang dilakukan lembaga International Crisis group mengungkapkan bahwa Cina mempercayai Iran tidak akan memproduksi senjata nuklir . Sikap Cina tersebut sejalan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang juga membenarkan bahwa Iran tidak bertekad memproduksi senjata nuklir.
Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden Iran menegaskan bahwa senjata nuklir sudah tidak efektif lagi karena era kemanusiaan dan budaya sudah dimulai. Ahmadinejad bahkan menyinggung masalah menciptakan kawasan bebas senjata nuklir. Mengutip pernyataan Ahmadinejad dalam wawancara eksklusif dengan televisi NTV Rusia:
“Secara prinsip, kami tertarik mewujudkan dunia bebas senjata nuklir dan kami menilai senjata nuklir sebagai senjata anti kemanusiaan, karena itu kami menginginkan tidak hanya Timur Tengah tapi seluruh dunia harus bebas dari senjata nuklir.”
Ahmadinejad juga menegaskan bahwa pernyataan-pernyataan AS mengenai nuklir Iran hanya sebuah permainan politik dan AS yang memiliki sekitar 10 ribu hulu ledak nuklir dan rudal-rudal balistik tidak sepantasnya memprediksikan bahwa Iran akan mampu membuat bom atom hingga tahun 2015 dan membahayakan dunia. Ahmadinejad juga menuding AS hanya ingin berkuasa di Timur Tengah dan sejumlah negara-negara Barat, khususnya AS, berusaha mengalihkan perhatian dunia dari tindakan-tindakan kejam Israel. Akibat dari sikap keras Iran terhadap AS tersebut, AS berulang kali mengancam Iran dengan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengisolasi Iran jika negara tersebut tidak ikut perundingan internasional terkait pengembangan nuklirnya . Bentuk ancaman lainnya yang bersifat kasar juga disiarkan lewat sejumlah laporan di suratkabar Amerika Serikat dan mencatat tulisan di majalah The New Yorker bahwa AS berencana dan menyarankan penggunaan bom penembus bunker untuk menyerang sarana nuklir Iran pada tahun 2006. Iran menganggap hal tersebut sebagai pelanggaran nyata atas aturan dunia dan piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menulis surat ke Sekretaris Jenderal PBB untuk mengadukan ancaman tersebut.
Rencana Presiden George W. Bush untuk melancarkan pemboman besar-besaran terhadap Iran ditanggapi Iran dengan sikap tenang dan membalikkan ancaman kepada AS dengan meminta PBB dan Dewan Keamanan (DK) untuk mengambil tindakan tegas dan cepat terhadap ancaman AS yang dianggap Iran tidak sah. Iran menyatakan bahwa negara tersebut akan menolak setiap resolusi bersifat paksaan dan akan melawan tekanan atas kegiatan nuklirnya saat negara Barat siap mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengambil tindakan terhadap Teheran. Mengutip pernyataan pejabat nasional utama Iran, Ali Larijani, tidak lama setelah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan Washington soal balasan sedunia jika Iran diserang:
“Jika Anda ingin mencelakai Iran, kami dapat juga melakukan hal serupa kepada Anda. Kami tidak main-main.”
Amerika Serikat, Israel, dan negara mitranya di Barat menduga Iran mengembangkan senjata atom di balik alasan kepentingan energi sipil. Ditambah lagi, kemampuan Iran meluncurkan satelit telah meningkatkan kecemasan akan serangan jarak jauh. Oleh sebab itu, tidak jauh berbeda dengan sikap presiden AS sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga mengancam Iran dengan menyatakan bahwa jika Iran tetap mengabaikan kewajiban internasionalnya, maka dapat dipastikan bahwa Teheran akan berhadapan dengan konsekuensi yang lebih berat lagi. Iran menanggapi pesan tersebut dan mengubah haluan program atomnya. Namun, AS menginginkan bukti nyata dan mengusulkan ketentuan agar Iran mengirimkan 1200 kg uranium untuk diperkaya di Perancis dan Rusia. Dengan begitu diharapkan, Iran hanya melakukan proses pengayaan uranium yang terbatas dan di bawah standar spesifikasi bom atom. Untuk menegosiasi ini, AS membuka kembali dialog dengan Iran pada tahun 2009. Dialog yang sudah dibekukan selama 30 tahun tersebut berakhir tanpa hasil . Iran mengumumkan dimulainya proses pengayaan uranium hingga 20 persen. Menurut Teheran, uranium itu nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar reaktor riset medis di Iran. Keputusan Iran tersebut merupakan penolakan atas tawaran Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk mengirimkan cadangan uraniumnya ke luar negeri agar dapat dilakukan pengayaan dan kemudian dikirimkan kembali ke Iran.
Menurut para pakar nuklir, setelah Iran melakukan pengayaan uranium hingga 20 persen, Iran dapat melanjutkannya hingga 93 persen untuk memproduksi senjata nuklir, karena teknologinya sama. Namun pemerintah Iran bersikeras bahwa pengayaan uranium tersebut semata-mata untuk kepentingan energi sipil. Berdasarkan kesepakatan dengan Badan Energi Atom Dunia di bawah PBB, Iran harus mengirimkan hasil pengayaan uranium-nya ke Prancis atau Rusia untuk diubah menjadi bahan bakar pembangkit dengan kadar 20 persen . Namun, kesepakatan tersebut ditolak dan Iran tetap teguh dengan pendiriannya bahwa pengayaan harus dilakukan di dalam wilayah negara Iran. Sikap Iran tersebut menimbulkan reaksi keras Amerika Serikat yang kemudian meminta PBB memberikan sanksi kepada Iran jika akhir tahun 2009 kesepakatan tersebut dilanggar. AS akan mulai mengambil langkah jika Iran mengingkari kewajibannya seperti yang telah tertera dalam kesepakatan. Namun. Ahmadinejad tetap tegas dan tidak menggubris ancaman tersebut dan menyatakan bahwa jika Iran ingin membuat bom, Iran memiliki cukup keberanian untuk mengumumkannya.
Presiden Amerika Serikat Barack Obama kembali mengancam Iran terkait program nuklirnya pada awal tahun 2010. Obama menyatakan akan mengisolasi Iran dengan serangkaian sanksi signifikan jika Iran terus mengarah ke pengembangan senjata nuklir dan yakin walaupun bersikap bahwa tenaga nuklir Iran hanya untuk kepentingan sipil, pada kenyataannya Iran terus mengejar arah yang akan menuju pembuatan senjata, dan hal tersebut tidak bisa diterima oleh komunitas internasional. Robert Gates, Menteri Pertahanan AS menyatakan bahwa Iran hanya akan mengerti bila Amerika Serikat bertindak keras, karenanya kerjasama dengan mitra di kawasan tersebut ditingkatkan dengan cara membantu Arab Saudi membangun pasukan berkekuatan 30 ribu tentara untuk melindungi saluran pipa minyak. Menurut informasi New York Times, AS menempatkan sistem penangkal roket di Kuwait, Uni Arab Emirat, Qatar dan Bahrain. Obama bahkan menegaskan akan menjatuhkan sanksi-sanksi baru terhadap Iran .
1.2. Permasalahan Penelitian
Perkembangan hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Iran semakin mengarah kepada perang. Berbagai faktor telah memicu semakin memburuknya hubungan dua negara tersebut. AS sebagai negara super power menentang pengembangan nuklir Iran dan yakin bahwa Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran berkeras bahwa negara itu hanya mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai. Selain itu, Iran juga selalu mengambil sikap menentang terhadap salah satu negara sekutu AS di Timur Tengah, yaitu Israel. Hal ini juga semakin mengakibatkan memburuknya hubungan Iran-AS. Iran semakin menunjukkan kesiapannya menghadapi AS dengan meningkatkan kerjasama dan hubungan baik dengan negara-negara yang berseberangan dengan AS, seperti Rusia, Cina, Korea Utara, Suriah, Kuba, dan Venezuela. Faktor-faktor tersebut yang menyebabkan tidak baiknya hubungan Iran-AS dan berujung pada ancaman serangan terhadap Teheran. AS tidak pernah mengesampingkan serangan militer terhadap Teheran dan memaksakan berbagai tekanan sebagai tindakan tegas terhadap Iran.
Iran tidak pernah menganggap tekanan negara super power AS sebagai bentuk ancaman yang dapat menghentikan niat negara tersebut untuk mengembangkan nuklir. Sebagaimana pernyataan presiden Mahmoud Ahmadinejad:
“Kami tidak akan menghentikan proyek uranium. Karenanya, kami memandang sebaiknya Barat bisa lebih baik memahami proyek uranium Iran. Saya berkata kepada Bush, bahwa masa kekuasaannya telah berakhir dan syukurlah, Anda (Bush) tidak akan dapat merusak satu sentimeter pun tanah suci Iran... jika musuh berpikir bahwa mereka dapat menghancurkan bangsa Iran dengan tekanan, maka mereka salah. Bangsa Iran akan menghapus senyuman dari wajah mereka.”
Presiden Ahmadinejad tetap tegas menyatakan bahwa nuklir Iran tidak dikembangkan untuk persenjataan. Ahmadinejad bahkan menuding AS yang memiliki sekitar 10 ribu hulu ledak nuklir dan rudal-rudal balistik tidak sepantasnya memprediksikan bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir yang membahayakan dunia. Jadi, pernyataan penentangan AS hanya suatu permainan politik karena AS ingin berkuasa di Timur Tengah. Walaupun sikap keras Iran terhadap AS tersebut mengakibatkan Iran berulang kali mencapat tekanan dan ancaman serangan, pada akhirnya Iran tetap melanjutkan kebijakan nuklirnya. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, penulis mengajukan pertanyaan utama dalam penelitian ini, yaitu: Bagaimanakah strategi keamanan Iran menghadapi ancaman serangan Amerika Serikat pada tahun 2005-2010?
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang lebih luas bagi mahasiswa dan masyarakat tentang strategi yang diterapkan Iran menghadapi ancaman serangan negara adidaya Amerika Serikat. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi yang berguna dalam memperluas ilmu pengetahuan dan menjadi sumber informasi bagi pihak-pihak yang akan melakukan penelitian dengan objek yang sama, terutama mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau. Tujuan penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Menjelaskan hubungan Iran-Amerika Serikat pada masa pemerintahan Ahmadinejad dan sebelum pemerintahan Ahmadinejad.
2. Menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan Amerika Serikat mengancam untuk menyerang Iran.
3. Menjelaskan mengenai strategi keamanan yang diterapkan Iran untuk menghadapi ancaman serangan Amerika Serikat.
1.4. Teori
Penulis menggunakan teori yang relevan dengan pembahasan permasalahan, karena dalam suatu penelitian teori sangat penting untuk membaca atau menganalisis masalah. Penggunaan teori disesuaikan dengan perspektif dan tingkat analisis yang digunakan untuk membahas permasalahan. Perspektif yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah perspektif realis. Fokus analisisnya adalah keamanan negara dan kedaulatan wilayah sehingga ada penekanan pada kekuatan di bidang militer (military force) . Para penganut realis memandang bahwa setiap negara selalu mencari power dan perang adalah perencanaan karena sifat dasar dunia internasional adalah anarki, kompetitif, dan konflik. Perspektif realis memandang bahwa negara merupakan aktor utama dalam politik internasional. Oleh sebab itu, tingkat analisis dalam penelitian ini adalah negara bangsa (nation-state). Pada tingkat analisis ini, negara merupakan aktor yang paling berperan dalam sistem internasional dan relatif memiliki kebebasan untuk menentukan kebijakan yang akan diambil.
Realis tidak menafikan prinsip-prinsip moral, hanya saja dalam prakteknya moralitas individual dikalahkan oleh kelangsungan hidup negara dan penduduknya serta pencapaian kepentingan nasional. Realisme memfokuskan analisisnya pada pengejaran terhadap power dalam interaksi internasional dan tidak adanya keharmonisan kepentingan diantara negara-negara sehingga konsep self help menjadi penting dan kemampuan yang paling relevan adalah kemampuan dibidang militer. Jika suatu negara telah melakukan antisipasi terhadap perang, maka persiapan untuk perang tersebut (strategi) menjadi suatu hal yang krusial. Oleh sebab itu, teori yang relevan untuk mengkaji strategi Iran menghadapi ancaman serangan Amerika Serikat adalah Teori Strategi Keamanan. Teori ini terdiri dari dua konsep yaitu strategi dan keamanan.
Strategi menurut John Lovell adalah serangkaian langkah-langkah (moves) atau keputusan-keputusan yang dirancang sebelumnya dalam situasi kompetitif dimana hasil akhirnya tidak semata-mata bersifat untung-untungan . Strategi adalah cara yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan atau kepentingan dengan menggunakan power yang tersedia, termasuk juga kekuatan militer. Dalam perancangan strategi tidak didasarkan pada pertimbangan moral, keyakinan, atau hal-hal emosional, tetapi didasarkan pada rasionalitas para perancang strategi atau para pembuat keputusan. Selain itu, pengertian strategi menurut Craig Snyder adalah:
Strategy is the art of mobilizing and directing the total resources of a nation or community of nations, including the armed forces to safeguard and promote its interest against its enemies, actual or potential.
Strategi yang telah dirancang tersebut akan menjadi pedoman bagi para pembuat kebijakan untuk mencapai kepentingan nasional. Secara analitis, terdapat dua komponen strategi yaitu komponen ofensif yang merupakan bentuk untuk mendapatkan perolehan dan keuntungan, dan komponen defensif yaitu bentuk untuk mencegah kerugian-kerugian.
Secara umum, keamanan dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mempertahankan diri (survival) dalam menghadapi ancaman yang nyata (existensial threat) yang berasal dari pihak lain . Keterkaitan keamanan dengan hubungan internasional memiliki persamaan pada konsep insecurity sehingga kepemilikan power menjadi sesuatu yang tidak terelakkan untuk mewujudkan security. Ancaman militer berkaitan dengan penggunaan kekuatan dan pemaksaan. Kondisi ini mengancam eksistensi seluruh komponen negara. Selain ancaman, keamanan juga terkait dengan kerawanan (vulnerabilities). Barry Buzan mengungkapkan bahwa ketidakamanan (insecurity) suatu negara merupakan kombinasi antara ancaman dan kerawanan. Kerawanan berkaitan dengan kelemahan negara dan kelemahan kekuatan (weak states and weak powers) baik di bidang politik, sosial, ekonomi dan militer .
Dalam konsepsi realis mengenai keamanan, Barry Buzan mengidentifikasikan tiga ancaman terhadap negara yaitu ancaman terhadap ideologi dari negara, fisik dari negara (populasi dan sumber daya), dan sistem politik negara. Keamanan bagi negara maupun masyarakat dan individual dipengaruhi oleh sektor militer, politik, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Negara yang memiliki kekuatan militer dan kondisi sosial politik yang lemah akan menjadi negara yang rawan terhadap ancaman. Selain itu, lemahnya ekonomi suatu negara juga dapat menjadi faktor penyebab rawannya negara tersebut terhadap segala jenis ancaman. Lingkungan juga menjadi salah satu faktor kerawanan suatu negara terhadap ancaman, dalam hal ini lingkungan yang dimaksud adalah kondisi geografi suatu negara. Wilayah negara yang tanahnya datar dan dikelilingi pegunungan lebih rentan terhadap ancaman dibandingkan dengan wilayah yang berada di pegunungan dan kepulauan. Barry menyatakan bahwa dunia yang ideal bukan pada saat semua orang dengan sukses memperoleh keamanan melainkan ketika tidak ada lagi pembicaraan mengenai keamanan.
Keamanan mengacu pada sebuah konsep dimana sebuah kelompok atau komunitas masyarakat menganggap sesuatu sebagai ancaman bagi keamanan mereka . Barry Buzan menyebut hal tersebut sebagai sekuritisasi (securitization). Sekuritisasi dapat diartikan sebagai sebuah proses dimana pemahaman antar individu dibangun dalam sebuah komunitas politik untuk meyakini sesuatu sebagai ancaman nyata dan memungkinkan pelaksanaan berbagai kebijakan untuk menghilangkan ancaman terhadap keamanan. Pemikiran tentang penanggulangan ancaman keamanan kemudian berkembang menjadi kajian strategi keamanan. Kajian ini secara umum merupakan jembatan yang diperlukan oleh sebuah negara sebagai unit utama dalam sistem internasional untuk menggunakan seluruh power yang dimilikinya secara optimal dalam upaya meningkatkan kondisi keamanannya, termasuk kekuatan militer (extraordinary means). Pembangunan militer adalah salah satu kebutuhan negara untuk mempertahankan keamanan. Secara khusus, didefinisikan sebagai seni pendistribusian dan penggunaan kekuatan militer untuk memenuhi tujuan politik (Basil Liddle Hart), penggunaan kekuatan militer untuk mencapai tujuan kebijakan (Hedley Bull), dan hubungan antara kekuatan militer dan tujuan politik (Gray). Penilaian terhadap ancaman dilakukan secara terus menerus untuk menentukan intensitas ancaman keamanan terhadap negara. Hal ini akan berpengaruh pada penentuan strategi yang diaplikasikan untuk menghilangkan ancaman yang ada.
Pendekatan strategi menurut John M. Collins terbagi menjadi sekuensial dan kumulatif, langsung dan tidak langsung, detterent dan combative, imbangan kekuatan dan imbangan nilai. Dalam hal ini, konsep yang dapat digunakan adalah detterent dan combative. Collins mendefinisikan detterent sebagai penggunaan kekuatan untuk mencegah atau membatasi ruang lingkup perang (penangkalan). Sementara itu, combative merupakan strategi untuk melaksanakan perang jika perang sudah dimulai atau dengan kata lain adalah strategi untuk memenangkan perang. Konsep yang digunakan Iran dalam kasus ini adalah konsep detterent karena perang belum dimulai, baik dari pihak Iran maupun Amerika Serikat. Konsep detterent terkandung dalam strategi yang digunakan Iran untuk menghadapi Amerika Serikat karena apabila ada pilihan untuk memulai perang atau tidak memulai perang, Iran akan memilih untuk tidak berperang selama Amerika Serikat tidak mewujudkan ancaman serangannya menjadi tindakan nyata.
Sikap dingin dan tindakan tegas Iran menghadapi tekanan AS menyebabkan AS memberikan ancaman untuk melakukan serangan militer terhadap Teheran. Iran dianggap sebagai negara yang akan mengembangkan senjata nuklir dan membahayakan dunia. Walaupun demikian, Iran tidak mempedulikan segala bentuk tekanan AS dan tetap melanjutkan kebijakan nuklirnya. Tapi, Iran belum bisa menjadi negara yang dapat mengimbangi AS jika dipandang dari berbagai bidang. Karena faktanya, negara yang ingin menyaingi militer AS akan berhadapan dengan jalan yang sangat panjang. Maka untuk itu Iran merancang strategi menghadapi ancaman serangan Amerika Serikat dengan semua sumber kekuatan yang dimiliki Iran, terutama kekuatan militernya yang telah berkembang menuju kekuatan terbesar di Timur Tengah. Selain itu, Iran juga memiliki tenaga-tenaga ahli yang terdidik dan diantaranya telah berhasil membuat dan mengembangkan berbagai bentuk roket, seperti roket darat ke darat, darat ke laut, dan darat ke udara. Para ilmuwan Iran juga telah mampu mengembangkan pesawat tempur berteknologi tinggi, baik pesawat tempur tanpa awak maupun pesawat tempur standar . Iran juga mengalami kemajuan di bidang ekonomi ditandai dengan meningkatnya investasi asing, dan kemajuan-kemajuan lainnya yang diperlihatkan Iran dalam berbagai bidang sehingga Iran dapat menggunakan power tersebut dalam strategi keamanan yang dirancangnya menghadapi Amerika Serikat.
1.5. Hipotesa
Berdasarkan pada rumusan masalah dan mengacu pada kerangka teori yang penulis ajukan, penulis merumuskan hipotesa bahwa “Kemajuan Iran dalam teknologi pertahanan dan militer adalah strategi yang disiapkan untuk menghadapi ancaman serangan Amerika Serikat.” Penulis merumuskan dua variabel yang diperlukan untuk memahami permasalahan ini yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independennya adalah AS memberikan tekanan dan ancaman serangan terhadap Iran. Indikator-indikator dari variabel independen ini adalah:
1. AS berulang kali mengancam Iran dengan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengisolasi Iran jika negara tersebut tidak ikut perundingan internasional terkait pengembangan nuklirnya.
2. AS berencana dan menyarankan penggunaan bom penembus bunker untuk menyerang sarana nuklir Iran pada tahun 2006.
3. Presiden Amerika Serikat Barack Obama kembali mengancam Iran terkait program nuklirnya pada awal tahun 2010
Variabel dependen dari penelitian ini adalah Iran meningkatkan teknologi pertahanan dan keamanan menuju kekuatan militer terbesar di Timur Tengah. Indikator-indikator dari variabel dependen ini adalah:
1. Iran telah mengumumkan pengembangan sejumlah senjata, seperti peluru kendali Fajr-3, peluru kendali Kowsar, peluru kendali Fateh-110, peluru kendali Shahab-3, dan senjata-senjata mililter lainnya.
2. Iran mengembangkan sejumlah perlengkapan eksklusif, seperti kapal berkecepatan tinggi, kapal muatan, pesawat udara dengan bobot yang ringan dan kapal selam siluman mini.
3. Iran telah mempercepat pembuatan sistem pertahanan rudal yang akan lebih baik daripada S-300 milik Rusia
4. Islamic Republic of Iran Air Force (IRIAF) tidak sepenuhnya bergantung pada barang-barang impor. IRIAF sanggup memasok sendiri beragam tipe rudal.
5. Kemampuan industri militer Iran tidak hanya sebatas memodifikasi atau rekayasa arsenal udara. Islamic Republic Iran Aviation Industry Organization (IRIAIO) atau disebut HESA memiliki kemampuan merakit penuh mesin TF-30 dengan komponen lokal.
6. Republik Islam Iran berhasil melakukan ujicoba sebuah torpedo bawah permukaan air yang mampu melaju dengan kecepatan 100 meter perdetik. Rudal jenis baru yang diberi nama Hoot tersebut adalah yang tercepat di dunia, dan hanya dua negara yang memilikinya.
1.6. Defenisi Konsepsional
Pembahasan penelitian ini didasarkan pada berbagai macam konsep yang akan mendukung upaya penjelasan atas permasalahan yang diteliti. Penulis menggunakan beberapa konsep dalam pembahasan ini. Strategi merupakan pola rencana jangka panjang yang dipersiapkan berdasarkan perhitungan secara matang. Konsep keamanan hakikatnya merupakan sebuah keadaan yang bebas dari ancaman Konsep keamanan secara sederhana dapat dipahami sebagai suatu kondisi yang aman (secure) yaitu suatu kondisi yang bebas akan adanya ancaman baik itu dari aspek militer maupun aspek lainnya, sedangkan keadaan yang tidak aman (insecure) dapat didefinisikan dengan adanya ancaman terhadap kehidupan manusia di dalam sebuah kelompok, masyarakat dan negara di segala aspek.
Ancaman adalah setiap usaha dan kegiatan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman militer adalah ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata yang terorganisasi yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa . Ancaman militer dapat berbentuk Agresi oleh negara lain, pelanggaran wilayah, Spionase, Sabotase, aksi teror bersenjata, pemberontakan bersenjata, dan perang saudara.
Diplomasi merupakan serangkaian proses yang digunakan untuk menjaga hubungan luar negeri suatu negara. Diplomasi dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Diplomasi juga berfungsi untuk membentuk image negara (image management) di dunia internasional . Jika diplomasi tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik, perang merupakan jalan terakhir.
Perang adalah konflik bersenjata antara dua atau lebih aktor (negara). Perang dapat digunakan sebagai salah satu instrumen untuk mencapai kepentingan nasional. Agresi merupakan penyerangan atau penyerbuan ke wilayah kekuasaan (negara) lain dengan menggunakan kekuatan militer . Serangan dilakukan tanpa adanya provokasi masif dari negara tetangga dan sifatnya cenderung menghancurkan.
1.7. Defenisi Operasional
Sikap tegas Iran yang tidak pernah mempedulikan segala bentuk tekanan dari negara super power AS menimbulkan ancaman terhadap negara Iran itu sendiri. Iran menyatakan bahwa era kemanusiaan dan budaya sudah mulai menggantikan era nuklir dan Iran sama sekali tidak tertarik dengan senjata nuklir sebagai senjata anti kemanusiaan. Pernyataan tersebut digunakan untuk menjawab tudingan AS bahwa Iran sedang mengembangkan senjata pemusnah massal. Iran bahkan dengan berani mengasumsikan bahwa sebenarnya AS hanya ingin berkuasa di Timur Tengah dan Iran tidak akan membiarkannya. Akibatnya AS memberikan tekanan berupa embargo bahkan AS juga mengancam akan menyerang Teheran jika presiden Ahmadinejad tetap berkeras.
Iran tentu tidak akan membiarkan negaranya diserang, maka serangan AS menjadi ancaman yang cukup besar bagi Iran. Kondisi ini mendorong Iran untuk melakukan berbagai upaya dan strategi untuk menghadapi encaman serangan AS terhadap Teheran dengan semakin mengembangkan kekuatan militernya dan membuat Iran menjadi negara yang menuju kekuatan terbesar di Timur Tengah. Secara berkala, Iran juga mengembangkan sektor lain yang dapat mendukung strategi Iran menghadapi AS.
Diplomasi yang diupayakan untuk memperbaiki hubungan Iran-AS tidak mengalami kemajuan. AS mengupayakan negosiasi dengan membuka kembali dialog dengan Iran pada tahun 2009. Dialog yang sudah dibekukan selama 30 tahun tersebut berakhir tanpa hasil. AS kembali mengancam dan memberikan tekanan, sedangkan Iran tidak mempedulikan dan tetap mengembangkan kekuatan militernya menuju kekuatan besar di Timur Tengah. Sementara Iran terus menyangkal bahwa nuklir yang sedang dikembangkannya adalah bukan senjata pemusnah massal, Iran juga terus berkembang di berbagai aspek yang dapat mendukung power dan strategi keamanannya dalam menghadapi ancaman dari negara manapun termasuk AS. AS juga hanya bisa melancarkan berbagai ancaman dan tekanan tanpa bisa bergerak selangkah lebih jauh lagi karena pada dasarnya, AS harus mempertimbangkan kekuatan Iran yang semakin berkembang sebelum AS memutuskan untuk benar-benar menyerang Iran.
1.8. Ruang Lingkup Penelitian
Penulis memberikan batasan-batasan dalam penelitian ini agar fokus melakukan penelitian terhadap fenomena yang dijadikan sebagai objek penelitian. Pertama, penelitian ini difokuskan pada strategi Iran menghadapi ancaman serangan oleh Amerika Serikat. Sikap tegas dan keras Iran menyebabkan AS memberikan tekanan dan menyatakan akan menyerang Teheran dan tentu saja hal ini menjadi ancaman yang besar bagi negara Iran. Kekuatan militer Amerika Serikat sebagai negara super power tidak perlu dipertanyakan lagi. Oleh sebab itu, karena Iran tetap tegas pada pendiriannya maka negara tersebut harus mempersiapkan strategi untuk menghadapi ancaman serangan AS.
Kedua, permasalahan dibatasi dengan penentuan jangka waktu penelitian dari tahun 2005 hinggga tahun 2010. Tahun 2005 dijadikan sebagai patokan awal karena pada bulan Juni 2005, Mahmoud Ahmadinejad terpilih sebagai presiden Iran dan di penghujung tahun 2005 Ahmadinejad mulai menjadi perhatian dunia Barat, khususnya AS, karena pernyataannya bahwa Israel harus dihapuskan dari peta dunia. Kontroversial Ahmadinejad tidak berhenti sampai di situ saja, selanjutnya Iran dibahwa kepemimpinan Ahmadinejad terus-menerus menunjukkan sikap keras terhadap AS dan sekutunya yang mengakibatkan hubungan Iran-AS semakin memburuk. Penulis membatasi penelitian hingga 2010 karena tahun ini merupakan waktu perkembangan terbaru bagi hubungan Iran dan AS, yang pada kenyataannya tidak mengalami kemajuan menuju hubungan yang lebih baik.
1.9. Metodologi Penelitian
1.9.1. Sifat Penelitian
Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif yang bersifat eksplanatif yakni suatu penelitian yang berusaha untuk menjelaskan tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya berbagai fenomena . Penelitan yang bersifat eksplanasi adalah sebuah penelitian yang memberikan pemaparan terhadap suatu permasalahan, keadaan, gejala, dan kebijakan serta tindakan. Penelitian secara eksplanasi lebih memaparkan secara rinci suatu fenomena dengan fakta-fakta yang dilengkapi dengan data dan analisa. Fenomena yang dijadikan objek dalam penelitian ini adalah strategi keamanan Iran menghadapi ancaman serangan Amerika Serikat.
1.9.2. Teknik Pengumpulan Data
Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah multi case study. Pemilihan strategi ini berimplikasi pada teknik pengumpulan data. Teknik yang digunakan adalah menghubungkan teori dengan data-data yang didapatkan melalui riset perpustakaan (library research). Data-data tersebut didapatkan dari buku-buku, jurnal, majalah, surat kabar dan
sumber lainnya (document analysis). Selain itu, penulis juga menggunakan sarana internet dalam proses pengumpulan data yang berkaitan dan relevan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.
1.9.3. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pemaparan mengenai penelitian ini, penulis membagi penjelasan menjadi beberapa bagian dengan sistematika sebagai berikut:
1. Bab I PendahuluanBagian ini memaparkan tentang gambaran umum permasalahan yang diteliti. Pada bagian ini juga terdapat jawaban sementara (hipotesis) yang akan dianalisis lebih lanjut pada bab-bab berikutnya. Selain itu, tujuan, manfaat serta metode penelitian yang digunakan, juga dibahas pada bab ini. Bagian pendahuluan terdiri dari beberapa sub bagian
yaitu: latar belakang, permasalahan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, teori, hipotesis, definisi konsepsional, definisi operasional, ruang lingkup, dan metodologi penelitian.
2. Bab II Hubungan Bilateral Iran-ASBagian ini memaparkan tentang bagaimana perkembangan hubungan bilateral Iran-AS pada masa pemerintahan presiden Mahmoud Ahmadinejad. Selain itu, akan dibahas secara singkat mengenai hubungan Iran-AS pada Revolulsi Islam Iran yang juga menjadi salah satu latar belakang memburuknya hubungan bilateral Iran-AS.
3. Bab III Ancaman dan Tekanan AS terhadap IranPada bab ini, penulis memaparkan tentang adanya berbagai bentuk tekanan dan ancaman negara adidaya AS terhadap Republik Islam Iran yang dilatarbelakangi oleh berbagai hal. Selain itu, penulis juga mencoba untuk mengungkapkan faktor apa saja yang mendorong AS untuk melancarkan tekanan dan ancaman serangan militer kepada Iran.
4. Bab IV Strategi Iran Menghadapi Ancaman Serangan Militer ASBab ini menjelaskan mengenai strategi yang digunakan oleh Iran sebagai persiapan untuk menghadapi ancaman serangan militer AS. Sebagaian besar pembahasan pada bab ini adalah mengenai pengembangan teknologi pertahanan dan keamanan Iran. Namun, selain itu penulis juga memaparkan secara singkat mengenai perkembangan Republik Islam Iran pada sektor lainnya yang juga akan mendukung power Iran untuk menghadapi ancaman dan tekanan AS.
5. Bab V PenutupBab ini terdiri dari simpulan dan saran.
REFERENSI
Alcaff, Muhammad. 2008. Perang Nuklir? Jakarta: Zahra Publishing House.
Andrio. 2010. “Penguasaan Jalur Gaza oleh Israel Tahun 2007-2009” (Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, Pekanbaru).
Buzan, Barry. 1991. People, States, and Fear 2nd Edition: An Agenda for International Security Studies in the Post Cold War Era. New York: Harvester Wheatsheaf.
__________.1998. A New Framework for Analysis. New York: Lynne Rienner.
Chandrawati, Nurani. 2001. “Perkembangan Konsep-konsep Keamanan dan Relevansinya terhadap Dinamika Keamanan Negara-negara Berkembang”. Global Jurnal Politik Internasional, Vol. II, No. 8.
Griffiths, Martin dan Terry O’Callaghan. 2002. International Relations: The Key Concepts. London: Routledge.
Marshall, Catherine dan Gretchen B Rossman. 1994. Designing Qualitative Research 2nd Edition. California: Sage Publication.
Mas’oed, Mohtar. 1989. Studi Hubungan Internasional: Tingkat Analisis dan Teorisasi. Yogyakarta: Pusat Antar Universitas-Studi Sosial UGM.
Noer, Deliar. 1997. Pemikiran Politik di Negeri Barat. Bandung: Mizan Pustaka.
Snyder, Craig A. 1999. Contemporary Security and Strategy. UK: Macmillan Press.
Sulaeman, Dina Y, 2008. Ahmadinejad on Palestine, Depok: Pustaka Ilman.
Tim Prima Pena. 2006. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya; Gitamedia Press.
Cina Percaya, Program Nuklir Iran Tidak Mengancam Dunia. Diakses dari http://indonesian.irib.ir.
Ahmadinejad: Era Menggunakan Senjata Nuklir Sudah Berakhir. Diakses dari http://indonesian.irib.ir.
Amerika Serikat kembali mengancam Iran. Diakses dari http://republika.co.id
Iran menyurati Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Diakses dari http://www.cmm.or.id.
Iran akan Ubah Haluan Program Atomnya. Diakses dari http://detiknews.com
AS Mengancam lagi, Iran masih tenang. Diakses dari http://bataviase.co.id
Strategi Perang "Ajigile" di Film Redcliff II
Strategi-strategi yang Digunakan dalam “Red Cliff II”
Tulisan ini akan membahas film yang berjudul “Red Cliff II” yang diputar pada tanggal 15 Desember 2009 di laboratorium bahasa Hubungan Internasional Universitas Riau. Film yang disutradarai oleh John Woo ini bercerita tentang perang yang terjadi antara wilayah Cina Utara yang dipimpin oleh Cao Cao dan wilayah Selatan yang dipimpin oleh Sun Quan. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Sun Quan dan para sekutunya yang awalnya hanya memiliki 30.000 prajurit melawan pasukan Utara yang jumlahnya ratusan ribu. Berbagai macam strategi telah dilancarkan oleh masing-masing pihak dan keduanya merupakan strategi yang luar biasa dan bahkan mungkin saja tidak akan pernah terpikirkan sebelumnya.
Perang strategi dimulai ketika Cao Cao mengirimkan mayat-mayat prajurit-prajuritnya yang meninggal karena terkena penyakit tifus melalui sungai yang mengalir ke Selatan. Strategi Cao Cao tersebut berhasil membuat prajurit Selatan tertular penyakit yang dibawa oleh mayat-mayat yang sengaja dikirimkan, kemudian Liu Bei sebagai sekutu Sun Quan menarik mundur pasukannya karena sebagian telah menderita tifus. Strategi “pengiriman wabah penyakit melalui mayat” yang dilancarkan oleh Cao Cao memang terkesan tidak manusiawi, namun patut diakui bahwa strategi tersebut sangat pintar dan luar biasa menguntungkan. Karena selain mengurangi kemungkinan menularnya virus tifus kepada sebagian prajurit Utara yang masih sehat, mengurangi kerepotan proses pemakaman ataupun kremasi, sekaligus juga dapat melemahkan lawan. Namun, di dalam perang juga membutuhkan moral. Maka ketika muncul argumen untuk membuang mayat-mayat pasukan Utara sebagai makanan ikan, Zhao Yu – ahli strategi Sun Quan – lebih memilih untuk mengkremasi mayat-mayat tersebut karena alasan kemanusiaan.
Cao Cao memang memiliki kekuatan perang yang kuat, cukup pintar, dan sulit untuk dilawan dengan strategi yang biasa-biasa saja. Namun, kesalahan besar yang dilakukannya adalah terburu-buru mengambil keputusan karena terpengaruh emosi dan kurang pertimbangan. Hal ini dapat dilihat dari keputusan yang diambilnya untuk memenggal laksamana Cai Mao dan Zhang Yun hanya karena dikalahkan oleh strategi licik dan pintar dari Zhu Ge Liang – ahli strategi Liu Bei. Hanya sedetik setelah keputusan pemenggalan tersebut diambil, Cao Cao menyesal karena baru tersadar bahwa tidak ada lagi seorang ahli yang dapat memimpin armada lautnya. Cao Cao juga memiliki kepercayaan diri yang besar, dan dalam arti tertentu justru malah merugikannya. Tempat dimana pasukan Cao Cao mendirikan kemah adalah salah satu bentuk rasa percaya diri (kesombongan) Cao Cao yang merugikannya, wilayah tersebut berbentuk pengait yang akan mengakibatkan pasukannya tidak bisa mundur saat ada serangan. Dalam hal ini terkesan bahwa Cao Cao beranggapan dengan personil dan persenjataan yang jauh lebih banyak dan hebat dari Sun Quan, ia tidak akan perlu sampai pada kondisi dimana ia harus menarik mundur pasukannya. Zhao Yu mengatakan bahwa saat musuh terlalu percaya diri, maka yang harus diandalkan adalah konsentrasi, karena dengan konsentrasi batu kerikil pun dapat mengalahkan raksasa.
Kemudian, dalam hal ini juga perlu dibahas strategi Zhu Ge Liang yang telah disinggung sebelumnya. Srategi mendapatkan 100.000 anak panah dalam waktu singkat dan biaya yang seminim-minimnya. Kapal-kapal yang di-cover jerami yang dibawa Zhu Ge Liang kehadapan pasukan laut Utara tidak akan dapat pulang dengan 100.000 anak panah jika saja saat itu tidak ada kabut. Zhu Ge Liang telah mempertimbangkan cuaca dan kondisi yang paling baik untuk melancarkan strategi pencurian anak panah tersebut. Dalam perang, kedudukan ahli strategi yang paham betul dengan geografi ataupun cuaca memang sangat krusial, kemenangan Sun Quan adalah karena memilikinya – selain karena faktor-faktor lain. Bisa dikatakan kunci kemenangan pasukan Selatan adalah karena adanya perubahan angin pada final war dan pasukan Selatan mengetahuinya, sementara Cao Cao tidak demikian.
Intinya, dalam peperangan bukan hanya senjata dan pasukan yang dibutuhkan. Banyak faktor-faktor lain yang juga dapat membawa kemenangan, semangat dan rasa percaya pasukan terhadap pemimpinnya, strategi yang penuh pertimbangan, perkiraan terhadap berbagai kemungkinan seperti wilayah, kondisi alam, dan munculnya sekutu lawan dari arah belakang. Bahkan hal-hal kecil seperti pengalih perhatian pada detik-detik sebelum perang berlangsung – permaisuri Zhao Yu yang menyuguhkan teh pada Cao Cao untuk mengulur/menunda waktu perang. Namun, tentu saja untuk yang terkahir ini pasukan Selatan dapat dikatakan beruntung karena Cao Cao menganggap permaisuri Zhao Yu istimewa. Strategi ini tidak dapat diterapkan pada perang lain yang situasi dan kondisinya berbeda.
Tulisan ini akan membahas film yang berjudul “Red Cliff II” yang diputar pada tanggal 15 Desember 2009 di laboratorium bahasa Hubungan Internasional Universitas Riau. Film yang disutradarai oleh John Woo ini bercerita tentang perang yang terjadi antara wilayah Cina Utara yang dipimpin oleh Cao Cao dan wilayah Selatan yang dipimpin oleh Sun Quan. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Sun Quan dan para sekutunya yang awalnya hanya memiliki 30.000 prajurit melawan pasukan Utara yang jumlahnya ratusan ribu. Berbagai macam strategi telah dilancarkan oleh masing-masing pihak dan keduanya merupakan strategi yang luar biasa dan bahkan mungkin saja tidak akan pernah terpikirkan sebelumnya.
Perang strategi dimulai ketika Cao Cao mengirimkan mayat-mayat prajurit-prajuritnya yang meninggal karena terkena penyakit tifus melalui sungai yang mengalir ke Selatan. Strategi Cao Cao tersebut berhasil membuat prajurit Selatan tertular penyakit yang dibawa oleh mayat-mayat yang sengaja dikirimkan, kemudian Liu Bei sebagai sekutu Sun Quan menarik mundur pasukannya karena sebagian telah menderita tifus. Strategi “pengiriman wabah penyakit melalui mayat” yang dilancarkan oleh Cao Cao memang terkesan tidak manusiawi, namun patut diakui bahwa strategi tersebut sangat pintar dan luar biasa menguntungkan. Karena selain mengurangi kemungkinan menularnya virus tifus kepada sebagian prajurit Utara yang masih sehat, mengurangi kerepotan proses pemakaman ataupun kremasi, sekaligus juga dapat melemahkan lawan. Namun, di dalam perang juga membutuhkan moral. Maka ketika muncul argumen untuk membuang mayat-mayat pasukan Utara sebagai makanan ikan, Zhao Yu – ahli strategi Sun Quan – lebih memilih untuk mengkremasi mayat-mayat tersebut karena alasan kemanusiaan.
Cao Cao memang memiliki kekuatan perang yang kuat, cukup pintar, dan sulit untuk dilawan dengan strategi yang biasa-biasa saja. Namun, kesalahan besar yang dilakukannya adalah terburu-buru mengambil keputusan karena terpengaruh emosi dan kurang pertimbangan. Hal ini dapat dilihat dari keputusan yang diambilnya untuk memenggal laksamana Cai Mao dan Zhang Yun hanya karena dikalahkan oleh strategi licik dan pintar dari Zhu Ge Liang – ahli strategi Liu Bei. Hanya sedetik setelah keputusan pemenggalan tersebut diambil, Cao Cao menyesal karena baru tersadar bahwa tidak ada lagi seorang ahli yang dapat memimpin armada lautnya. Cao Cao juga memiliki kepercayaan diri yang besar, dan dalam arti tertentu justru malah merugikannya. Tempat dimana pasukan Cao Cao mendirikan kemah adalah salah satu bentuk rasa percaya diri (kesombongan) Cao Cao yang merugikannya, wilayah tersebut berbentuk pengait yang akan mengakibatkan pasukannya tidak bisa mundur saat ada serangan. Dalam hal ini terkesan bahwa Cao Cao beranggapan dengan personil dan persenjataan yang jauh lebih banyak dan hebat dari Sun Quan, ia tidak akan perlu sampai pada kondisi dimana ia harus menarik mundur pasukannya. Zhao Yu mengatakan bahwa saat musuh terlalu percaya diri, maka yang harus diandalkan adalah konsentrasi, karena dengan konsentrasi batu kerikil pun dapat mengalahkan raksasa.
Kemudian, dalam hal ini juga perlu dibahas strategi Zhu Ge Liang yang telah disinggung sebelumnya. Srategi mendapatkan 100.000 anak panah dalam waktu singkat dan biaya yang seminim-minimnya. Kapal-kapal yang di-cover jerami yang dibawa Zhu Ge Liang kehadapan pasukan laut Utara tidak akan dapat pulang dengan 100.000 anak panah jika saja saat itu tidak ada kabut. Zhu Ge Liang telah mempertimbangkan cuaca dan kondisi yang paling baik untuk melancarkan strategi pencurian anak panah tersebut. Dalam perang, kedudukan ahli strategi yang paham betul dengan geografi ataupun cuaca memang sangat krusial, kemenangan Sun Quan adalah karena memilikinya – selain karena faktor-faktor lain. Bisa dikatakan kunci kemenangan pasukan Selatan adalah karena adanya perubahan angin pada final war dan pasukan Selatan mengetahuinya, sementara Cao Cao tidak demikian.
Intinya, dalam peperangan bukan hanya senjata dan pasukan yang dibutuhkan. Banyak faktor-faktor lain yang juga dapat membawa kemenangan, semangat dan rasa percaya pasukan terhadap pemimpinnya, strategi yang penuh pertimbangan, perkiraan terhadap berbagai kemungkinan seperti wilayah, kondisi alam, dan munculnya sekutu lawan dari arah belakang. Bahkan hal-hal kecil seperti pengalih perhatian pada detik-detik sebelum perang berlangsung – permaisuri Zhao Yu yang menyuguhkan teh pada Cao Cao untuk mengulur/menunda waktu perang. Namun, tentu saja untuk yang terkahir ini pasukan Selatan dapat dikatakan beruntung karena Cao Cao menganggap permaisuri Zhao Yu istimewa. Strategi ini tidak dapat diterapkan pada perang lain yang situasi dan kondisinya berbeda.
Langganan:
Postingan (Atom)