Senin, 03 Mei 2010

JANGAN TERLALU LAMA BERHENTI!

02 Mei 2010

Selama ini kupikir...
Tidak ada salahnya kalau aku duduk sebentar dan beristirahat
Tapi ternyata saat aku sadar
Aku sudah sangat jauh tertinggal.

Ada yang pernah bilang padaku.
Di dunia ini bukan tempatnya untuk beristirahat.
Karena hidup ini adalah perjalanan yang panjang
Sebuah perjuangan
Jadi sementara aku diam, dunia akan tetap berputar.
Orang-orang akan terus melangkah tanpa menungguku.
Waktu tidak akan berhenti walaupun aku menuding langit dan berteriak-teriak
“Hei! Tunggu dulu! Aku capek“
Percuma saja. Itu hanya akan membuatku semakin tertinggal.

Aku boleh mengeluh, aku boleh merasa lelah
Tapi aku tidak boleh terlalu lama berkutat dengan itu.
Hari ini aku semakin sadar.
Aku sudah lengah cukup lama.
Orang-orang di sekitarku mulai melewatiku.
Bahkan ada yang hanya terlihat punggungnya saja.
Dia sudah berada sangat jauh di depan sana.
Di sorot lampu yang sangat terang.
Dan aku hanya bisa menjadi penonton.

Padahal dulu aku pernah merasakan hal itu.
Pernah mendapatkan sinaran lampur terang yang sama.
Pernah mendengar orang-orang berkata.
“Gie, kau berbakat. Kau pasti akan jadi orang yang berhasil“
Tapi itu dulu...
Ternyata itu sudah lama sekali.
Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku mendengar kalimat itu diucapkan padaku.

Aku sudah terlalu lama beristirahat.
Sudah terlalu lama tak melakukan apa-apa.
Entah karena aku pikir sudah pernah mencapai puncak itu, aku sudah ada di posisi yang aman. Padahal aku bisa dijatuhkan kapan saja.
Dan aku baru menyadarinya sekarang.
Saat semakin banyak orang yang juga sudah berhasil mencapai puncak yang sama.
Saat tempat di puncak itu semakin menyempit dan harus menjatuhkan beberapa orang.
Ternyata aku termasuk di antara orang-orang yang jatuh itu.

Hhh... aku harus memulai lagi.
Memanjat puncak itu lagi.
Supaya aku bisa mendapatkan sorotan lampu dan tidak menjadi penonton lagi
Supaya aku berada di posisi yang aman sampai tiba waktunya aku beristirahat nanti.
Karena memang dunia ini bukan tempat untuk beristirahat.
Dan sementara aku terus diam,
Bumi akan tetap berputar.

Senin, 26 April 2010

PERANAN GREENPEACE DALAM PERLINDUNGAN EKOSISTEM BIOTA LAUT PERAIRAN ALASKA

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
            Makalah ini membahas mengenai Peranan Greenpeace dalam perlindungan biota laut di perairan Alaska. Greenpeace merupakan organisasi internsional yang berdiri pada tahun 1971 di Vaocouver, British Columbia, Kanada. Organisasi independent ini memiliki misi untuk mengungkap permasalahan lingkungan global dan memberikan solusi bagi masa depan yang damai dan hijau sesuai dengan nama organisasi ini yakni green (hijau) dan peace (damai). Target utama Greenpeace ini adalah untuk memastikan kemampuan bumi untuk keberlangsungan hidup bagi semua keanekaragamannya.
            Perairan Alaska merupakan bagian barat dari laut Bering yang berada pada bagian utara Samudra Pasifik dan menjadi pemisah antara Benua Asia dan Benua Amerika. Laut Bering adalah salah satu region yang paling buas (Wildest Region) di dunia dan sumber dari setengah makanan laut (Sea Food) Amerika Serikat. Kawasan ini merupakan habitat bagi jutaan makhluk hidup kecil yang mengandung beragam keanekaragaman hayati seperti seperti mamalia laut (25 Spesies) burung-burung laut (50 spesies), berjenis-jenis ikan dan shellfish (450 spesies dan 25 diantaranya memiliki nilai ekonomis tinggi).
            Namun ternyata kondisi ini dimanfaatkan oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Rusia, Kanada, Jepang, Polandia, Korea, Taiwan dan China untuk mengeksploitasi sumber daya biologi ekosistem Laut Bering melalui industri perikanan. Laut Bering merupakan kawasan yang memiliki kontribusi sekitar 3-5% produksi perikanan dunia dan 56% nya merupakan produksi Amerika Serikat dan memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.  Karena potensi ekonomis yang besar itulah lingkungan perairan tersebut bersifat rentan terhadap degradasi dan kepunahan. Selain itu kondisi geografis perairan Alaska yang berada diantara negara-negara seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina, dan Jepang yang tergolong negara-negara industrialis agresif yang memiliki kemampuan teknologi tinggi untuk mengeksploitasi alam, namun teknologi tersebut sebagian besarnya tidak ramah lingkungan. Berdasarkan observasi dan analisis penyebab faktor-faktor degradasi ekosistem ini, Greenpeace mengambil kesimpulan bahwa penyebab utamanya adalah perkembangan dan pembangunan industri perikanan yang tidak sustainabel.
North Pasific Fishery Management Council (NPFMC) yang merupakan badan yang diberi wewenang untuk mengelola industri perikanan di perairan Alaska tidak mampu mencegah penurunan populasi spesies seperti  pollock, Pasific Cod, Halibut, Atka Mackerel, Groundfish menyebabkan  populasi SSL (Steller Sea Lion), mamalia laut dan burung-burung laut lainnya juga menurun, karena penangkapan ikan yang berlebihan dan terganggunya jaringan makanan ekosistem. SSL dan mamalia lainnya kalah bersaing dengan penangkap ikan untuk mendapatkan supply makanan. Menipisnya stok species Groundfish diduga akibat pengelolaan penangkapan ikan yang tidak sustainabel.
Greenpeace sebagai organisasi internasional yang sangat memperhatikan kondisi lingkungan hidup baik di darat maupun di laut merasa perlu untuk melakukan tindakan terhadap penurunan biota laut di perairan Alaska ini. Salah satu tindakan yang dilakukan oleh Greenpeace adalah melakukan memberikan tekanan pada National Marine Fisheries Servis (NMFS) untuk memasukkan SSL (Steller Sea Lion) sebagai salah satu daftar mamalia yang terancam punah pada akhir tahun 1980-an.

B.     Tujuan Penulisan Makalah
            Makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Organisasi dan Administrasi Internasional. Selain itu, makalah ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai Peranan Greenpeace dalam perlindungan biota laut di perairan Alaska.

C.     Perumusan Masalah
            Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai sejarah Greenpeace, manajemen Greenpeace, gambaran perairan Alaska dan peranan Greenpeace dalam perlindungan biota laut di perairan Alaska.

                       



BAB II
PEMBAHASAN

A.     Sejarah Singkat Greenpeace
Greenpeace didirikan di Vancouver, British Columbia, Kanada pada tahun 1971. asal mula Greenpeace di mulai dengan pembentukan formasi “Don’t Make A Wave Committee” oleh sekelompok aktivis Kanada dan Amerika di Vancouver pada 1970[1]. Nama komite ini di ambil dari sebuah slogan yang digunakan selama protes terhadap uji coba nuklir Amerika Serikat pada akhir 1969, komite datang bersama-sama dengan sasaran menghentikan uji coba pemboman nuklir bawah tanah tahap kedua dengan kode Canikkin, oleh militer Amerika Serikat di bawah pulau Amchitka, Alaska. Kapal ekspedisi pertama disebut Greenpeace I, kapal ekspedisi kedua disebut Greenpeace II. Uji coba tidak berhasil di hentikan, tetapi komite telah membentuk dasar untuk aktivitas Greenpeace selanjutnya.
Bill Darnel adalah orang yang mengkombinasikan penerapan kata Green (hijau) dan Peace (damai) yang kemudian menjadi nama bagi organisasi ini. Pada 4 Mei 1972, setelah Dorothy Stowe menyelesaikan masa jabatan ketua Don’t Make A Wave Committee, organisasi ini kemudian secara resmi mengganti namanya menjadi “Yayasan Greenpeace”. Greenpeace internasional berdiri sebagai hasil kontribusi aktivis-aktivis lingkungan internasional. Pada tahun 1979 salah satu anggota Greenpeace, David McTaggart berhasil meyakinkan sekitar enam organisasi yang bergerak di bidang lingkungan untuk mengesampingkan perbedaan dan bergabung menjadi Greenpeace internasional[2].
Greenpeace dikenal menggunakan aksi langsung bersama dengan konfrontasi damai dalam melakukan kampanye untuk menghentikan pengujian nuklir angkasa dan bawah tanah, begitu juga dengan kampanye menghentikan penangkapan ikan paus besar-besaran. Pada tahun-tahun berikutnya, fokus organisasi mengarah ke isu lingkungan lainnya, seperti penggunaan pukat ikan, pemanasan global, dan rekayasa genetika.
Greenpeace sebagai organisasi internasional memiliki misi sebagai organisasi independent yang berkampanye menggunakan konfrontasi kreatif anti kekerasan untuk mengungkap permasalahan  lingkungan global, dan untuk memaksa solusi bagi sebuah masa depan yang damai dan hijau. Target Greenpeace adalah untuk memastikan kemampuan bumi untuk kelangsungan hidup bagi semua keanekaragamannya. Saat ini ada lebih dari 40 kantor Greenpeace di seluruh dunia, dengan koordinasi internasional berlangsung melalui kantor pusat di Amsterdam.Dave Birmingham raises Greenpeace sail on Phyllis Cormack.In 1971, motivated by their vision of a green and peaceful world, a small team of activists set sail from Vancouver, Canada in an old fishing boat.
B.     Manajemen Greenpeace
Greenpeace internasional adalah badan yang mengkoordinir keseluruhan kebijakan dan strategi global Greenpeace. Organisasi ini terdiri dari 175 staf yang hampir keseluruhannya bermarkas di Amsterdam. Perannya dalam jaringan Greenpeace secara global adalah sebagai berikut[3]:
1.      Memfasilitasi keseluruhan pembuatan keputusan sebagaimana tercantum dalam prosedur pengelolaan
2.      Memfasilitasi perencanaan internasional dan proses pembuatan keputusan pada kampanye-kampanye Greenpeace
3.      Mengkoordinasi dan menjalankan kampanye-kampanye Greenpeace secara global
4.      Memonitor strategi Greenpeace dan pengelolaan keuangan
5.      Meningkatkan peran Greenpeace pada wilayah yang menjadi target utama bagi organisasi
6.      Menyediakan dukungan keuangan dan melindungi trademark Greenpeace
7.      Menyediakn fasilitas Informasi dan Teknologi dan internet yang co-efective bagi seluruh kantor cabang
Greenpeace tingkat regional dan nasional disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi dan komunitas lingkungan pada masing-masing wilayah dimana Greenpeace beroperasi. Greenpeace mengelola kontak langsung dengan masyarakat setempat. Sebagai fasilitas untuk mempermudah aktivitas, maka kantor-kantor cabang sangat mudah dikses baik via telepon maupun email.
Kepengurusan internasional bertanggungjawab untuk memonitor operasi dan aktivitas-aktivitas organisasi secara luas, memutuskan kebijakan keorganisasian, menyetujui mulainya kampanye-kampanye baru dan juga pendirian kantor cabang baru, meratifikasi ketetapan-ketetapan pada pertemuan tahunan Greenpeace internasional, memberikan hak bagi kantor cabang untuk memakai trademark Greenpeace. Anggota pengurus Greenpeace untuk periode tiga tahun, berasal dari perwakilan masing-masing seluruh kantor cabang dan biasa dipilih kembali untuk periode berikutnya. Laporan pengurus Greenpeace internasional dilakukan setiap tahunnya pada pertemuan tahunan.
Setiap kantor cabang juga memiliki kepengurusan. Biasanya dipilih melalui voting anggota, para sukarelawan dan para aktivis Greenpeace yang mana juga merupakan anggota dari komunitas-komunitas local yang memiliki posisi dan pengaruh dalam masyarakat wilayah dimana Greenpeace tersebut barada. Masing-masing kantor cabang akan memilih perwakilan untuk pertemuan tahunan (Annual General Meeting) Greenpeace internasional. Perwakilan ini disebut Trustee atau komisaris. Pertemuan tahunan ini merupakan badan pengawas yang efektif bagi organisasi secara keseluruhan. Trustee akan memilih pengurus internasional Greenpeace secara legal dan bertanggung jawab. Tanggung jawab kunci pertemuan tahunan meliputi[4]:
1.      Mendirikan dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip organisasi
2.      Memilih dan mengganti kepengurusan internasional
3.      Menyetujui pembukaan cabang baru
4.      Menyetujui batas anggaran  tahunan Greenpeace internasional
5.      Mengidentifikasi kejelasan isu strategis yang harus dijalankan oleh organisasi.
C.     Gambaran Perairan Alaska
            Secara geografis perairan Alaska merupakan bagian barat dari laut Bering, yakni laut yang berada pada bagian utara Samudra Pasifik dan menjadi pemisah antara Benua Asia dan Benua Amerika. Dalam hal ini, wilayah perairan Pasifik Utara yang dibahas adalah wilayah perairan yang berada dalam otoritas pemerintah negara bagian Alaska yakni perairan laut Bering bagian Timur, pulau-pulau Aleutian dan teluk Alaska, yang selanjutnya disebut dengan perairan Alaska. Eastern Bering Sea, dikenal sebagai Large Marine Ecosystem (LME), dicirikan dengan iklim sub-arktik dan memiliki tutupan es musiman yang mencapai tingkat maksimum pada bulan maret (Es menutupi hampir 80%). Ekosistem ini dibatasi oleh selat Bering sebelah Utara, Tanjung Alaska dan rangkaian pulau-pulau Aleutian disebelah Selatan. Sedangkan sebelah Timur berbatasan langsung dengan pantai Alaska[5].
            Laut Bering adalah salah satu region yang paling buas (Wildest Region) di dunia dan sumber dari setengah makanan laut (Sea Food) Amerika Serikat. Laut Bering memiliki jurang bawah laut terluas di dunia. Habitat unik ini adalah rumah bagi jutaan makhluk hidup kecil yang tidak dapat dilihat mata manusia. Ekosistem ini mengandung beragam keanekaragaman hayati seperti mamalia laut (25 Spesies) burung-burung laut (50 spesies), berjenis-jenis ikan dan shellfish (450 spesies dan 25 diantaranya memiliki nilai ekonomis tinggi)[6]. Magnitudo dan produktivitas biologi alami ekosistem laut Bering telah dimanfaatkan secara luas oleh manusia. Penduduk asli kawasan ini telah lama memanfaatkan binatang-binatang laut tersebut sebagai sumber makanan, pakaian, dan energi serta untuk tujuan-tujuan budaya.
Sekitar 10.000 tahun yang lalu, orang-orang Unangan, (Aleuts), Upik Eskimo, dan Inupiat dari laut Bering bagian utara menetap di pulau-pulau sekitar laut Bering. Nenek moyang mereka menyebut laut bering sebagai rumah. Namun perkembangan dan pembangunan yang dilakukan menyebabkan mereka tidak punya pilihan dimana mereka harus meninggalkan rumah dan tradisi mereka dengan bermigrasi pada pemukiman urban yang selanjutnya berakibat pada kepunahan mereka. Banyak perubahan yang terjadi di laut Bering yang mempengaruhi masyarakat asli dan lingkungan, dimana mereka saling mendukung satu sama lain.
Sekitar lebih dari 200 tahun Amerika Serikat, Rusia, Kanada, dan Jepang, dan dalam beberapa dekade Polandia, Korea, Taiwan, dana China mengeksploitasi sumber daya biologi ekosistem laut Bering melalui industri perikanan. Laut Bering diperkirakan berkontribusi 3-5% produksi perikanan dunia dan 56% nya merupakan produksi Amerika Serikat. LME laut Bering timur terkenal sebagai pendukung terbesar industri perikanan ikan Pollock. Sampa sekarang bertahan sekitar 1 juta metric ton. Spesies lain yang bernilai komersil adalah halibut, herring, capelin, Pacific cod, skate, flounder, Greenland turbot, sole, dab, plaice, dan crab. Area yang paling banyak mengandung ikan Pollock adalah daerah perbatasan ZEE Amerika Serikat dan Rusia. Penangkapan ikan di daerah ini terlalu tinggi pada tahun 1980-an, sehingga kelimpahan ikan Pollock pada area tersebut telah berkurang secara besar-besaran hingga saat ini[7].
D.    Peranan Greenpeace dalam Perlindungan Ekosistem Biota Laut Perairan Alaska
Ekosistem perairan Alaska, dalam hal ini adalah Laut Bering, memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Karena potensi ekonomis yang besar itulah lingkungan perairan tersebut lebih bersifat fragile (rentan) terhadap degradasi dan kepunahan. Perairan Pasifik Utara, kawasan tempat Perairan Alaska berada di antara negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina, dan Jepang. Negara-negara tersebut tergolong negara-negara industrialis agresif yang memiliki kemampuan teknologi tinggi untuk mengeksploitasi alam, namun teknologi tersebut sebagian besarnya tidak ramah lingkungan. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan yang menjadi sasaran utama penyelamatan Greenpeace. Berdasarkan observasi dan analisis penyebab faktor-faktor degradasi ekosistem ini, Greenpeace mengambil kesimpulan bahwa penyebab utamanya dalah perkembangan dan pembangunan industri perikanan yang tidak sustainabel.
North Pasific Fishery Management Council (NPFMC) tidak mampu mencegah penurunan populasi spesies seperti  pollock, Pasific Cod, Halibut, dan Atka Mackerel. Di tahun-tahun mendatang, kuota penangkapan ikan jenis Groundfish akan terus berkurang. Tiga region penangkapan ikan Pallock telah ditutup atau sangat dibatasi karena penangkapan ikan yang berlebihan, dua diantaranya di Laut Bering yakni pulau-pulau Aleutian dan Bogoslov dan yang lainnya di Teluk Alaska terutama perikanan di Shelikof Strait. Seiring dengan berkurangnya populasi spesies Groundfish, penurunan populasi mamalia laut dan burung-burung laut juga terjadi. Hal ini disebabkan oleh terganggunya jaringan makanan ekosistem. SSL dan mamalia lainnya kalah bersaing dengan penangkap ikan untuk mendapatkan supply makanan[8]. Menipisnya stok species Groundfish diduga akibat pengelolaan penangkapan ikan yang tidak sustainabel. Sebagai badan yang diberi wewenang untuk mengelola industri perikanan di perairan Alaska NMFS dianggap yang paling bersalah.
Keterlibatan Greenpeace dalam upaya penyelamatan lingkungan di pasifik utara telah berlangsung sejak tahun 1980-an dan mulai memberikan tekanan pada National Marine Fisheries Servis (NMFS) untuk memasukkan SSL (Steller Sea Lion) sebagai salah satu daftar mamalia yang terancam punah pada akhir tahun 1980-an. Pada tahun 1998, Greenpeace dalam American ocean campaign dan Sierra club menuduh NMFS telah gagal mencegah bahaya yang muncul terhadap populasi SSL dan gagal melindungi habitat kritisnya. Kelompok aktivis lingkungan tersebut melakukan tuntutan dengan mengerahkan masyarakat sipil melawan NMFS dalam Pengadilan Negara Bagian Amerika Serikat untuk Western District of Washington. Greenpeace menantang pengadilan dengan opini biologis dalam mengevaluasi hubungan antara industrialisasi perikanan laut dan penurunan populasi SSL. Tantangan ini secara efektif mampu membuat pengadilan federal dan hakim Thomas S. Zilly untuk menyelesaikan suatu kebijakan perikanan[9].
1.      Tuntutan Greenpeace
            Greenpeace menemukan terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh NMFS dalam mengatur pengeloalaan usaha penangkapan ikan di perairan laut Alaska. Selain melakukan kampanye Greenpeace mengajukan tuntutan pada pengadilan federal. Dalam tuntutan tersebut Greenpeace menentang NMFS dengan tuduhan sebagai berikut[10]:
  1. NMFS tidak melengkapi suatu EIS (Executive Information System) yang komprehensif sebagaimana yang disyaratkan oleh NEPA (National Environmental Policy Act)
  2. NMFS tidak menentukan dampak kumulatif dari perubahan industri penangkapan ikan selama beberapa waktu dan dampaknya terhadap SSL
  3. NMFS telah gagal untuk menyediakan perlindungan bagi SSL dalam area pertumbuhan (perkembangbiakan) mereka
  4. NMFS telah mengizinkan peningkatan penangkapan ikan dalam area habitat kritis SSL
  5. NMFS tidak mengambil tindakan yang signifikan terhadap para penangkap ikan dalam lokasi dimana terjadi penurunan SSL
  6. NMFS tidak menetapkan waktu yang cukup dan pembatasan area
  7. Seluruh praktek NMFS secara rasional tidak mengikuti fakta-fakta lingkungan yang telah dibuktikan secara scientific padahal NMFS terdiri dari ilmuwan lingkungan yang terbaik
2.      Disseminating an Ecological Sensibility
            Sejak tahun 1972, Greenpeace telah resmi, menjadi organisasi lingkungan transnasional telah berhasil menyebarluaskan kampanye mereka, pada waktu itu adalah tentang upaya penghentian perburuan hewan laut yang terancam punah, kampanye Greenpeace berhasil tersebar ke seluruh penjuru dunia. Mereka menggunakan strategi yang jauh efektif yaitu tekanan publik. Aksi-aksi kampanye yang dilakukan oleh aktivis Greenpeace seperti memanjati kapal-kapal penangkap ikan paus, terjun paying dari puncak cerobong asap, menutup pipa-pipa pembuangan limbah industri, mengapungkan balon udara ke daerah percobaan nuklir. Kampanye Greenpeace mengenai SSL ini mendapat dukungan dari 8719 partisipan masyarakat Amerika Serikat[11]. Aksi-aksi tersebut tentu saja mengundang ketertarikan media untuk memberitakannya. Hal ini yang diharapkan oleh Greenpeace agar kritik terhadap permasalahan lingkungan diketahui oleh masyarakat luas dengan jalan penyebaran lewat media.
Greenpeace sendiri telah memiliki fasilitas media sendiri dalam mempublikasikan kritik, ide, dan saran terhadap permasalahan lingkungan yang ada. Media yang dimililki Greenpeace mampu menyediakan dokumentasi gambar-gambar, spot berita berupa video yang bisa disiarkan oleh televisi di 88 negara[12]. Tujuan dari keseluruhan aktifitas ini, dimaksudkan untuk memanfaatkan komunikasi masa internasional untuk mengekspor aktifitas-aktifitas yang mengancam kelestarian ekologi selanjutnya agar masyarakat terinspirasi untuk merubah pandangan dan perilakunya terhadap lingkungan.
Aksi-aksi tersebut berdasarkan pada dua strategi. Pertama, secara sederhana membawa berita tentang praktek perusakan lingkungan yang tidak banyak diketahui oleh khalayak ramai, sehingga dengan demikian praktek ini mendapat perhatian dunia. Sebagai contoh praktek uji nuklir oleh pemerintah AS tahun 1971 di Pulau Amchitka, Alaska, merupakan wilayah yang jarang dikunjungi manusia. Dengan upaya Greenpeace untuk melakukan investigasi, maka publikasi praktek ini kemudian bisa tersebar luas ke seluruh penjuru dunia, mengakibatkan aksi protes penentangan terhadap aksi ini, pada akhirnya AS memutuskan untuk menghentikan praktek tersebut.
Kemudian strategi yang kedua dengan melakukan aksi yang dramatis dan juga berbahaya. Dengan demikian menunjukkan keseriusan mereka terhadap ancaman lingkungan yang sedang terjadi. Para aktivis yang melakukan aksi ini berani mengambil resiko terhadap hidup mereka sendiri demi meraih perhatian masyarakat terhadap isu lingkungan yang sedang menjadi highlight, serta menunjukkan pada masyarakat tentang besarnya perhatian para aktivis dan juga keseriusan mereka dalam membela kepentingan pelestarian lingkungan.
Pelaksanaan kedua strategi tersebut bertujuan untuk merubah cara pandang masyarakat melihat dunia dengan mengganti cara pandang lama dengan cara pandang baru yang lebih perduli terhadap kelestarian lingkungan. Hal ini juga yang telah dilakukan oleh Rober Hunter, salah satu pencetus Greenpeace yang sejak awal turut berpartisipasi dengan Greenpeace dalam ekspidisi yang mengkampanyekan anti penangkapan ikan paus[13]. Membangkitkan kesadaran masyarakat melalui media sebenarnya bukan merupakan upaya primer dalam rangka merubah kebijakan pemerintah, walaupun demikian, hal ini secara tidak langsung mampu membangkitkan kesadaran pemerintah untuk kemudian merubah kebijakan lingkngan yang ada. Pada dasarnya ini hanya merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Greenpeace. Lebih jauh lagi aktifitas ini justru dapat meyakinkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan-perusahaan, organisasi swasta dan masyarakat luas untuk membuat suatu penyikapan terhadap lingkungan dengan lebih baik.
Pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir, Greenpeace telah banyak melakukan strategi ini di Amerika Serikat. Keberhasilan Greenpeace dalam mengikuti proses legislasi atas beberapa permasalahan lingkungan juga tidak lepas dari aktifitas kampanye dan juga publikasi media Greenpeace seperti pada tahun 2002 tentang ketetapan pemerintah Amerika Serikat untuk memperbaharui kebijakan penangkapan ikan di daerah perairan Alaska, terkait erat dengan kampanye Greenpeace beserta kelompok lingkungan hidup lainnya yang menunjukkan fakta bahwa aktifitas pemukatan ikan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pemukatan ikan tersebut membahayakan ekosistem perairan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua strategi yang dilakukan Greenpeace dalam upaya mempengaruhi kebijakan lingkungan pemerintah Amerika Serikat adalah merupakan rangkaian yang saling terkait. Strategi-strategi tersebut dijalankan sebagai tahapan upaya Greenpeace. Dalam mengangkat suatu isu lingkungan di Amerika Serikat, strategi Diseminating an Ecological Sensibilities berperan besar dalam cara untuk menghalang dukungan masyarakat luas atas kebutuhan solusi kebutuhan tersebut. Dengan demikian perhatian pemerintah akan lebih terfokus karena tuntutan solusi sebenarnya tidak datang dari TEAGs secara sbstansi melainkan berasal dari masyarakat Amerika Serikat melalui perwakilan organisasi-organisasi lingkungan tersebut.

BAB III
SIMPULAN

Greenpeace pada dasarnya merupakan organisasi internasional non-pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang penyelamatan lingkungan hidup. Greenpeace didirikan di Vancouver, British Columbia, Kanada pada tahun 1971. Asal mula Greenpeace dimulai dengan pembentukan formasi “Don’t Make A Wave Committee” oleh sekelompok aktivis Kanada dan Amerika Serikat di Vancouver pada 1970. Nama komite ini diambil dari sebuah slogan yang digunakan selama protes terhadap uji coba nuklir Amerika Serikat pada akhir 1969, komite datang bersama-sama dengan sasaran menghentikan uji coba pemboman nuklir bawah tanah tahap kedua dengan kode Canikkin, oleh militer Amerika Serikat di bawah pulau Amchitka, Alaska. Kapal ekspedisi pertama disebut Greenpeace I, kapal ekspedisi kedua disebut Greenpeace II. Uji coba tidak berhasil di hentikan, tetapi komite telah membentuk dasar untuk aktivitas Greenpeace selanjutnya.
Greenpeace dikenal menggunakan aksi langsung bersama dengan konfrontasi damai dalam melakukan kampanye untuk menghentikan pengujian nuklir angkasa dan bawah tanah, begitu juga dengan kampanye menghentikan penangkapan ikan paus besar-besaran. Pada tahun-tahun berikutnya, fokus organisasi mengarah ke isu lingkungan lainnya, seperti penggunaan pukat ikan, pemanasan global, dan rekayasa genetika.
Greenpeace sebagai organisasi internasional memiliki misi sebagai organisasi independent yang berkampanye menggunakan konfrontasi kreatif anti kekerasan untuk mengungkap permasalahan  lingkungan global, dan untuk memaksa solusi bagi sebuah masa depan yang damai dan hijau. Target Greenpeace adalah untuk memastikan kemampuan bumi untuk kelangsungan hidup bagi semua keanekaragamannya. Saat ini ada lebih dari 40 kantor Greenpeace di seluruh dunia, dengan koordinasi internasional berlangsung melalui kantor pusat di Amsterdam.
Berdasarkan pembahasan di bab 2, penulis memaparkan tentang permasalahan kerusakan ekosistem biota laut di perairan Alaska, seperti penangkapan ikan yang mengakibatkan rusaknya jaringan makanan pada beberapa jenis hewan seperti burung dan anjing laut. Dalam hal ini Laut Bering tempat dimana kerusakan ekosistem terjadi memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Karena potensi ekonomis yang besar itulah lingkungan perairan tersebut lebih bersifat fragile (rentan) terhadap degradasi dan kepunahan. Perairan Pasifik Utara, kawasan tempat Perairan Alaska berada di antara negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina, dan Jepang. Negara-negara tersebut tergolong negara-negara industrialis agresif yang memiliki kemampuan teknologi tinggi untuk mengeksploitasi alam, namun teknologi tersebut sebagian besarnya tidak ramah lingkungan. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan yang menjadi sasaran utama penyelamatan Greenpeace. Greenpeace menyatakan bahwa penyebab utamanya dalah perkembangan dan pembangunan industri perikanan yang tidak sustainable.Dave Birmingham raises Greenpeace sail on Phyllis Cormack.In 1971, motivated by their vision of a green and peaceful world, a small team of activists set sail from Vancouver, Canada in an old fishing boat.
Keterlibatan Greenpeace dalam upaya penyelamatan lingkungan di Pasifik Utara telah berlangsung sejak tahun 1980-an dan mulai memberikan tekanan pada National Marine Fisheries Servis (NMFS) untuk memasukkan SSL (Steller Sea Lion) sebagai salah satu daftar mamalia yang terancam punah pada akhir tahun 1980-an.


REFERENSI

Kausar, Dwi Agustina. 2009. Pengaruh Greenpeace dalam pembentukan kebijakan lingkungan AS. Studi kasus: perlindungan ekosistem biota laut perairan laut bering dan alaska. (Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, Pekanbaru).
Bering Sea Ecosystem. Diakses dari http://nap.edu.
East Bering Sea Large Marine Ecosystem. Diakses dari http://eoearth.org.
Sejarah Kami. Diakses dari http://greenpeace.org.
Steller Sea Lions and Commercial Fisheries in the North Pacific. Diakses dari http://law.duke.edu.
Taking and Importing Marine Mammals: Taking Marine Mammals Incidental to Construction and Operation of Offshore Oil and Gas Facilities in the Beaufort Sea. Diakses dari http://epa.gov.com.


[1] Sejarah Kami. Diakses dari http://greenpeace.org. Tanggal 20 Maret 2010.
[2] Ibid.
[3] Kausar, Dwi Agustina. 2009. Pengaruh Greenpeace dalam pembentukan kebijakan lingkungan AS  studi kasus: perlindungan ekosistem biota laut perairan laut bering dan alaska. (Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, Pekanbaru). Hal: 63.
[4] Ibid. Hal: 30
[5] Kausar, Dwi Agustina. Op. Cit. Hal: 32.
[6] Taking and Importing Marine Mammals: Taking Marine Mammals Incidental to Construction and Operation of Offshore Oil and Gas Facilities in the Beaufort Sea. Diakses dari http://epa.gov.com. Diakses pada 20 Maret 2010.
[7] Ibid.
[8] Bering Sea Ecosystem. Diakses dari http://nap.edu. Tanggal 20 Maret 2010.
[9]  East Bering Sea Large Marine Ecosystem. Diakses dari http://eoearth.org. Tanggal 20 Maret 2010.
[10] Ibid.
[11] Steller Sea Lions and Commercial Fisheries in the North Pacific. Diakses dari http://law.duke.edu. Tanggal 20 Maret 2010
[12] Ibid.
[13] Kausar, Dwi Agustina. Op. Cit. Hal: 79.

Minggu, 25 April 2010

Organisasi Regional

Tulisan ini merupakan hasil resume “International Dispute Settlement” yang ditulis oleh J. G. Merrills. Buku ini adalah edisi keempat yang diterbitkan pada tahun 2005 oleh Cambridge University Press di New York. Resume yang dibuat terbatas pada chapter kesebelas, mengenai organisasi regional. Hal-hal yang menjadi pembahasan diantaranya mengenai perkembangan, cakupan, dan peran organisasi regional dalam penyelesaian suatu konflik, serta keterbatasan-keterbatasan suatu organisasi regional dan bagaimana hubungannya dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Perkembangan PBB sebagai organisasi internasional, dapat dikatakan, disertai dengan meningkatnya berbagai macam organisasi regional. Beberapa organisasi regional biasanya diundang dalam resolusi konflik, karena ada beberapa organisasi regional yang dalam piagam atau tujuannya terdapat unsur-unsur penyelesaian perselisihan atau konflik. Peran yang dimainkan oleh masing-masing organisasi regional sangat bergantung pada karakteristik yang menjadi fokus organisasi. Misalnya lokasi organisasi tersebut, srtuktur dan sumber komandonya.
Pembahasan mengenai organisasi regional dalam chapter ini lebih difokuskan pada integrasi militer. Salah satu organisasi regional yang berhubungan adalah The North Atlantic Treaty Organization (NATO) yang didirikan pada tahun 1949 sebagai organisasi keamanan regional. Anggota NATO termasuk di dalamnya dari negara Amerika Serikat, Kanada, dan Islandia. NATO, walaupun sebenarnya adalah aliansi untuk melawan agresi dari luar, juga fokus dalam mengusahakan kerjasama non-militer dan penyelesaian konflik antar sesama anggotanya.
Organisasi-organisasi regional yang berkembang di dunia internasional secara signifikan meningkatkan jumlah anggotanya dan mungkin akan semakin jauh lagi berkembang di masa depan. Di sisi lain Atlantik, organisasi regional yang utama adalah Organization of American States (OAS) yang didirikan pada tahun 1948 dan fokusnya adalah mengenai kepentingan bersama, penyelesaian konflik antar sesama anggota, dan termasuk juga menyelebarluaskan paham demokrasi. Dari sekian banyak organisasi regional yang ada, sulit mengidentifikasi atau menguji organisasi regional mana yang bekerja atau memiliki tujuan untuk resolusi konflik.
Salah satu fungsi penting organisasi regional adalah menyediakan forum bagi anggotanya untuk konsultasi dan bernegosiasi dalam situasi yang berpotensi terhadap terjadinya konflik atau konflik itu sendiri. Dalam kapasitas ini, organisasi regional memiliki peran untuk melakukan mediasi. Berdasarkan beberapa kasus yang telah dibahas dalam buku J. G. Merrills, cara kerja organisasi regional dalam resolusi konflik adalah dengan menggunakan aplikasi teknik yang sudah lazim dalam setting institusi. Dengan kata lain, penyelesaian konflik regional lebih baik dilakukan oleh organisasi regional itu sendiri, karena organisasi regional juga dapat membuat penyelesaian dengan caranya sendiri. Resolusi akan lebih berhasil dalam prakteknya dan menunjukkan legitimasi bersama setelah dilakukan mediasi pada tahap sebelumnya dan setidaknya dapat mencegah timbulnya konflik.
Organisasi regional dapat menyediakan forum yang nyaman untuk beberapa jenis konflik atau situasi sebuah deklarasi kolektif non-intervensi, dan dapat dijadikan suatu cara untuk menghindari eskalasi. Dengan mengurangi keterlibatan dari luar, akan memberikan kontribusi yang nyata untuk penyelesaian damai. Tindakan kolektif juga dapat mengambil bentuk yang positif. Misalnya pada tahun 1960, dalam kasus adanya dugaan keras intervensi yang dilakukan Republik Dominika terhadap Venezuela. Masalah ini kemudian diadukan kepada OAS yang mengambil langkah embargo terhadap Republik Dominika.
Organisasi regional juga ambil bagian dalam berbagai jenis operasi penjaga perdamaian, misalnya CIS yang didirikan pada tahun 1991. Namun, ada upaya penjagaan perdamaian yang kurang berhasil, contohnya pada kasus di Lebanon. Awalnya organisasi regional dalam konflik ini cukup berkontribusi pemulihan perdamaian dan keamanan, namun pada akhirnya pasukan penjaga perdamaian memang dapat memenuhi banyak fungsi, tetapi mereka tidak dapat memaksakan perdamaian pada negara-negara yang tidak mau berdamai atau pada seluruh masyarakat.
Organisasi-organisasi regional memang memiliki kegunaan dalam penyelesaian sengketa internasional, namun juga memiliki berbagai keterbatasan. Umumnya organisasi regional hanya sedikit berkontribusi dalam konflik antar-regional, khususnya permasalahan perbatasan. Dalam sengketa Falklands misalnya, Britania dan Argentina. OAS jelas tidak memiliki kapasitas untuk bertindak sebagai pembuat perdamaian, akhirnya solusi non-militer diserahkan kepada Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Solidaritas regional yang signifikan adalah sebagai faktor dalam resolusi konflik, diasumsikan selain untuk situasi yang melibatkan yurisdiksi domestik, lingkungan regional juga secara khusus disesuaikan dengan resolusi konflik lokal. Para anggota organisasi regional memiliki kepentingan bersama dan loyalitas yang mendorong mereka untuk melakukan penyelesaian konflik secara insentif dan meningkatkan kemungkinan bahwa upaya-upaya tersebut akan sukses.
Dari sudut pandang pihak yang bersengketa, loyalitas regional dianggap penting sebagai cara untuk melegitimasi upaya pencarian penyelesaian damai dan syarat-syarat penyelesaian itu sendiri. Keterlibatan pihak ketiga sebagai mediator, atau dalam beberapa kapasitas lainnya, akan memudahkan bagi negara-negara untuk menyetujui pengaturan yang mungkin sulit untuk diakui dalam negosiasi langsung. Namun, loyalitas regional tidak dapat terlalu banyak diharapkan. Dalam suatu kawasan yang sangat luas dan terdiri dari berbagai negara yang bervariasi. Ada negara-negara tertentu yang tidak menjadi anggota dalam organisasi regionalnya, yang mungkin memiliki lebih banyak kesamaan dengan negara di luar regionalnya.
Organisasi regional dan Ajudikasi dihubungkan dalam berbagai cara yang berbeda. Suatu perjanjian regional dapat menyediakan referensi perselisihan kepada Mahkamah Internasional, atau arbitrase. Selain menetapkan pengaturan kewajiban hukum, organisasi regional juga dapat memberikan dukungan yang efektif untuk ajudikasi di tingkat politik. Bila timbul sengketa antara negara-negara di daerah, tekanan
negara-negara regional lainnya dapat menjadi cara untuk membujuk para pihak untuk menyelesaikannya dengan adjudikasi. Selama masa perang dingin, hubungan antara organisasi regional dan PBB telah mengalami kemajuan dalam beberapa peristiwa yang kontroversial. Diantaranya ketidaksepakatan, refleksi dari lawan politik dalam bentuk kompetisi inter
-organisational, dan batas otoritas organisasi regional dalam mengupayakan keamanan internasional, dalam hal ini apakah penyelesaian regional harus dilakukan sebelum konflik ditangani oleh dewan keamanan.
Pembatasan penting pada otoritas organisasi regional terkandung dalam pasal 53 (1) dari Piagam PBB, yang menyatakan bahwa 'tidak ada penegakan tindakan yang harus diambil di bawah kesepakatan regional atau oleh badan regional tanpa otorisasi Dewan Keamanan'. Tetapi dengan terjadinya Perang Dingin, telah memungkinkan untuk
melihat hubungan yang baru antara PBB dan organisasi regional dalam hal eksplorasi kemungkinan kerjasama di antara keduanya. Kerjasama antara PBB dan organisasi regional telah meluas dalam beberapa tahun terakhir dengan banyak resolusi Dewan Keamanan menyetujui aksi regional dari berbagai operasi penjaga perdamaian di berbagai belahan dunia.
Intinya, walaupun pertikaian dapat merusak seluruh ide solidaritas regional dan memberikan ancaman untuk keberadaan organisasi. Ditambah lagi ketergantungan organisasi regional pada kemauan negara-negara anggota untuk berdamai ataupun menyediakan sumber daya yang diperlukan dalam suatu operasi tertentu. Memang tidak ada jaminan bahwa solusi regional yang diusahakan akan berhasil. Pada dasarnya semua organisasi harus memiliki kesiapan untuk membuat sumber daya mereka sendiri. Pada tahun 1982, misalnya, pasukan penjaga perdamaian yang dikirim OAU ke Lake Chad harus ditarik setelah gagal mencapai perbaikan dalam situasi perselisihan tersebut. Karena berbagai keterbatasan, organisasi regional tidak dapat dijadikan solusi yang paling ampuh. Di sisi lain, meskipun kerjasama antara PBB dan organisasi regional sangat berharga, keterlibatan Organisasi regional sering dapat membuat kontribusi yang konstruktif terhadap penyelesaian sengketa tanpa bantuan dari luar.