Sabtu, 09 Juni 2012

MENJADI ANAK UNTUK IBUKU

[cerpen]

“Kenapa lagi mukamu itu?” tanyaku pada Hana yang hari ini wajahnya memar lagi. Aku benar-benar heran, apa saja sih yang dilakukan anak ini di rumahnya.

“Jatuh...,” katanya sambil tersenyum malu.

Alasan klise. Memangnya aku bodoh? Itu bukan memar karena jatuh, luka di sudut bibir begitu paling juga dipukul atau ditampar. Beberapa hari yang lalu lengannya memar, sebelumnya keningnya benjol, sebelumnya lagi pipinya tergores. Semua itu berawal sejak sebulan yang lalu, sejak orang tuanya bercerai.

Aku mencoba memancingnya ke pembicaraan itu. “Mamamu apa kabar?” tanyaku sambil mengeluarkan buku Fisika yang jadi mata pelajaran pertama hari ini.

“Baik,” dia masih menjawab dengan senyum dan duduk di kursi yang ada di sebelahku. “Mamamu?” dia malah balik bertanya dan kubalas dengan tatapan jengkel. Tapi dia hanya tertawa menanggapi kekesalanku.
Iya, seharusnya memang dialah yang paling tahu kalau mengungkit masalah Mamaku adalah hal yang tabu. Kami sudah berteman sejak kelas satu SMA – entah kebetulan apa yang membuat kami sekelas lagi tahun ini. Benar-benar tidak terasa, hampir tiga tahun kami jadi teman sekelas, dan rasanya kami tidak punya apapun lagi untuk dirasahasiakan.

Orang tua Hana bercerai sebulan yang lalu, dia anak tunggal dan ikut dengan Mamanya. Papanya pergi entah kemana – aku tak pernah berniat menanyakan kabar terbaru tentang Papanya itu. Lain masalahnya denganku, percaya atau tidak, Mamaku sejak setahun yang lalu resmi jadi pasien rumah sakit jiwa. Hebat, ‘kan? Aku sendiri tak percaya hal seperti ini akan menimpaku. Awalnya karena bayi berusia 6 bulan – calon adikku – yang dikandungnya keguguran, disusul dengan terbakarnya ruko tempat kami tinggal termasuk juga toko yang menjadi sumber penghasilan utama keluarga kami di lantai satu. Habis. Tak bersisa. Aku tak menangis, karena aku tahu menangis itu tak berguna, sedikitpun tak membantu. Karena aku kuat makanya aku tak mau menangis. Tapi sepertinya Mama tidak begitu, dia tak bisa menerimanya.

Aku tak mengerti kenapa dia selemah itu? Maksudku, dia Mamaku ‘kan? Seharusnya dia tak boleh seperti itu. Seharusnya dia membantu Kak Yanti – satu-satunya saudara kandungku – yang selalu sibuk mencari kerja untuk membantu keuangan keluarga. Seharusnya dia menghibur Papa dan memberi semangat karena sejak kejadian kebakaran itu Papa selalu kelihatan lelah bekerja keras untuk membangun kembali usahanya. Seharusnya dia menopangku, anak perempuan 16 tahun yang bingung karena keluarganya tiba-tiba berantakan. Seharusnya dia ikut berperan memperbaiki kekacauan itu. Tapi tidak. Dia semakin memperburuk keadaan. Gara-gara dia masuk rumah sakit jiwa, aku dijauhi teman-temanku. Mereka selalu berbisik-bisik di belakangku. Mungkin mereka bertanya-tanya apakah kegilaan Mama itu penyakit keturunan, dan mungkin saja aku bisa histeris tiba-tiba kemudian menyerang mereka.

Mamaku itu memang sama sekali tak bisa diandalkan. Aku tak begitu ingat tepatnya sejak kapan dia mulai berubah, selalu melamun, tatapannya menerawang, dan dia sering berilusi, kemudian entah sejak kapan dia mulai menangis sendirian. Lalu dia terpaksa masuk rumah sakit karena dia mulai menyerang orang yang mendekatinya, Papa, Kak Yanti, dan aku. Dia bahkan tak mengenali kami lagi, dia sudah melupakan kami. Melupakan aku yang sudah dikandungnya 9 bulan, yang sudah diberinya nama, yang dulu selalu dipeluknya sambil mengatakan kalau aku adalah buah hatinya.

Mamaku wanita yang lemah. Dari awal dia memang sudah begitu, orang tidak mungkin jadi gila kalau dia masih memiliki hal penting yang ingin dilindunginya. Dia jadi gila karena dia sudah melupakan semuanya, yang dia tahu hanya penderitaannya saja. Aku tak bisa terima dia yang seperti itu. Bagiku, sesuatu yang dilupakan adalah sesuatu yang tidak penting. Dan aku tak bisa terima kalau dia menganggapku tidak penting, aku tak bisa terima kalau dia melupakanku.

“Hana...,” rengekan seseorang membuyarkan lamunanku. Itu Nita, teman sekelas kami yang selalu punya masalah. Satu lagi orang lemah yang membuatku muak. Dia baru saja duduk di depan kami dan memasang tampang sedih.

“Kenapa lagi? Wandi bikin masalah?” tanya Hana yang entah kenapa selalu sabar mendengarkan keluh kesah Nita.

“Wandi? Anak siapa lagi itu?” celetukku sambil melempar pandangan keluar jendela. Setiap kali si Nita ini mencari Hana, dia pasti curhat. Dan selalu saja tentang hal-hal sepele yang sama sekali tidak penting. Evan, Ryan, Ali, Yudi, Wandi, dan entah siapa lagi nanti yang akan disebutnya.

“Ih... Mia diam saja, deh,” katanya setengah kesal padaku dan aku membalasnya dengan ekspresi seperti orang mau muntah – tapi aku memang mau muntah mendengar suaranya yang sok manja itu. “Iya Hana, si Wandi itu...,” dia memulai aksi curhat gila-gilaannya. “Cemburuan banget. Lama-lama aku nggak tahan lagi pacaran sama dia.”

“Ya putus saja,” kataku cepat sebelum Hana sempat membuka mulut.

“Tapi aku sayang sama dia,” kali ini Nita bicara padaku.

“Ya sudah jangan putus,”

“Tapi sifatnya Wandi itu nyebelin...”

“Ya putusin saja,”

“Apaan, sih?! Kalau nggak niat, Mia nggak usah ikut-ikutan komentar, dong,” akhirnya dia kesal juga karena aku tak memberi kesempatan Hana bicara untuk memberi solusi padanya. “Aku ‘kan lagi cerita sama Hana,” katanya lagi.

Baiklah, cewek manja. Aku muak.
“Dengar, ya!” emosiku mulai tak terkendali. “Jangan kira di dunia ini cuma kau yang punya masalah! Setiap kali kau mencari Hana pasti cuma mau menjadikannya tong sampah yang menampung semua keluhanmu. Seharusnya kau sisakan sedikit tempat di kepalamu itu untuk hal-hal yang lebih penting daripada sekedar masalah sepele!”

Wajahnya mendadak memerah, si centil yang merasa bisa pacaran dengan cowok satu sekolah itu sepertinya akan menangis, entah karena kesal padaku atau malu karena semua yang kukatakan tadi tepat – mungkin dua-duanya. Matanya mulai berair, dia menangis, orang lemah memang taunya cuma menangis saja. Hana baru akan membuka mulut untuk menghiburnya, tapi Pak Dori sudah berada di depan pintu dan memecahkan semua perhatian yang tadi terpusat pada kami bertiga. Nita terlihat masih kesal tapi dia terpaksa kembali ke tempat duduknya sambil mengusap pipinya dan menelan bulat-bulat semua perkataanku tadi.

***

“Mau marah sampai kapan, sih?!” kataku jengkel pada Hana yang melangkah cepat semeter di depanku saat kami dalam perjalanan pulang siang ini.

“Aku tidak marah,” tegasnya tanpa menatapku. Tidak marah tapi langkahnya cepat begitu, dia bahkan tak membiarkanku berjalan disebelahnya.

“Kalau tidak marah kenapa dari tadi gak mau ngomong sama aku? Jangan konyol, deh. Masa’ gara-gara si genit Nita itu kita sampai bertengkar.”

“Aku tidak marah,” akhirnya dia berbalik menatapku. “Aku cuma kesal. Kau dari dulu selalu begitu. Makanya cuma aku yang bisa jadi temanmu.”

“Setidaknya aku ‘kan tak pernah mengejarmu kemana-mana cuma untuk menceritakan tentang pacarku. Kau itu ya, jangan pasang tampang malaikat terus. Memangnya kau bisa mati kalau marah? Kalau kau seperti ini terus, kau bakalan selalu dimanfaatin sama orang lain. Yang kuat, dong. Jadi orang itu harus tegar. Kalau tidak suka bilang tidak. Kalau kesal ya marah saja. Hei, dengarin kalau orang lagi ngomong!” aku agak membentak di akhir kalimatku karena Hana berpaling dan memusatkan perhatiannya pada seseorang di ujung jalan.

“Mia, aku pulang duluan, ya,” dia berlari cepat meninggalkanku, sepertinya dia mengejar seseorang yang dilihatnya tadi.

Heh?! Mau memutus pembicaraan begitu saja? Jangan harap! Aku masih mau bicara, tahu!
Aku mengejarnya dan menemukannya sedang saling membentak dengan seorang wanita yang tak diragukan lagi, itu memang Tante Dian, Mamanya.

“Aku tidak beli. Minuman itu dikasih!” bentak wanita itu keras.

“Mama jangan bohong. Kita pulang saja, kita bicarakan di rumah,” Hana menarik lengan Mamanya dan langsung disentak keras.

“Kau jangan sok, ya! Anak kecil tahu apa?!”

“Banyak.” Jawabku begitu saja. “Maaf kalau saya ikut campur, Tante. Tapi kalau tidak mau disangka lagi shooting reality show, lebih baik kita bicara di rumah.”

***

Berantakan. Itu kata pertama yang terlintas di otakku saat melihat dapur rumah Hana. Meja makannya penuh sampah dan ada botol-botol minuman yang sudah kosong berserakan di sekitar washtafel. Itu botol minuman keras, tak perlu dijelaskan lebih lanjut.

“Sudah berapa kali Hana bilang, Mama jangan minum-minum lagi. Mau beli atau dikasih sekalipun tetap saja Mama tidak boleh minum alkohol,” keluh Hana sambil membereskan meja makannya. “Maaf ya, Mia. Berantakan. Tadi pagi aku tidak sempat membereskan rumah,” kali ini dia bicara padaku sambil masih mundar-mandir berusaha membuat ruangan itu kelihatan lebih baik dari kandang sapi.

Tante Dian duduk di kursi makan dan mulai menyalakan rokoknya. Wanita itu apa-apaan, sih? Padahal Hana baru pulang sekolah, tapi dia sudah harus beres-beres. Bahkan untuk mengelap keringat dan meletakkan tas saja Hana belum sempat.

“Sudah tahu keadaan di rumah lagi berantakan kamu seharusnya jangan ajak teman ke rumah, dong. Maaf ya Mia, sejak Papanya Hana pergi kami memang jadi lebih repot. Tante sering lembur dan Hana kadang tak bisa diharapkan. Hhh... keadaan rumah memang jadi kacau. Tante sendiri bingung harus bagaimana. Entah kenapa semuanya jadi terasa berat, mungkin karena baru satu bulan ya jadi single parent. Jadi masih belum terbiasa, memang sejak Papanya Hana pergi...”

“Mau sampai kapan mengasihani diri sendiri?” ups! Kata-kata ketus lagi dari mulutku. Dan sepertinya ada desakan aneh di kepalaku yang mengatakan: teruskan saja. Wanita ini memang harus diberi pelajaran, seperti si Nita.

“Mia...,”

“’Kami’ Tante bilang?” aku menyela kalimat Hana. Aku tak akan membiarkan dia menghentikanku. “Yang saya lihat tidak ada ‘kami’,” sambungku lagi. Wanita di hadapanku ini sama saja dengan Mamaku. Mereka lemah, terlalu sibuk mengasihani diri sendiri, sampai tak bisa melihat bahwa orang-orang di sekelilingnya juga menderita dan malah semakin menderita gara-gara sikap mereka yang suka lari dari kenyataan. Aku muak dengan orang-orang seperti ini.
“Jangan sembarangan, ya!” aku meledak. “Kalian tidak berjuang bersama-sama. Tante mempersulitnya!” akhirnya aku berteriak di depan Mamanya teman akrabku. “Hana sering terluka. Saya tahu Tante yang memukulnya!”

“Mia, Mama tidak sengaja...”

“Kau diam saja!” bagus, sekarang aku mulai membentak Hana. Mungkin aku sudah menderita neurosis, atau jangan-jangan aku sudah mulai gila seperti Mama. Tapi terserahlah, pokoknya aku hanya muak saja dengan mereka berdua ini. “Mau sengaja atau tidak, pokoknya dia melukaimu!” bentakku lagi. “Tante sadar dong! Yang perlu dilindungi itu siapa? Sebenarnya siapa Mamanya siapa dan siapa anaknya siapa? Jadi orang tua itu harus dewasa! Jangan lemah! Jangan merasa jadi orang yang paling menderita! Sedikit-sedikit mengeluh! Menyedihkan! Tante itu menyedihkan, tahu! Aku benar-benar muak melihat orang seperti Tante!”

“Diam!” teriak Hana bersamaan dengan mangkuk plastik yang mendarat di lengan kananku. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat semua ocehanku berhenti. “Kau tidak punya hak marah-marah di sini. Kau tak punya hak menyudutkan Mamaku seperti itu. Lebih baik kau pulang saja!” teriaknya keras. “Sana pulang!” bentaknya lagi.

Sepertinya Tante Dian cukup shock mendengar omelanku tadi, rokoknya terjatuh di lantai dan dia membenamkan wajahnya di atas meja, pundaknya bergetar, dia menangis. Kurang ajar! Kenapa malah dia yang menangis. Seharusnya yang berhak menangis itu ‘kan Hana.

“Itu yang membuatku tidak tahan. Sifat lemahmu yang selalu mengalah itu membuatku muak! Mamamu ini harus dibuat sadar. Dia bukan satu-satunya orang yang jadi korban di sini. Dia tak boleh melupakanmu! Kau mengerti?! Dia tak boleh melepaskan tanggung jawab. Itu membuatku marah! Aku benci sikap lemahnya itu!”

“Dia Mamaku!” Hana berteriak histeris. Tangisannya pecah di ujung kalimatnya. “Dia Mamaku! Orang yang kau benci dan kau sebut lemah itu Mamaku! Dia Mamaku, dasar bodoh! Aku tidak terima kau bicara kasar pada Mamaku!” kali ini dia sudah berada disamping wanita itu dan memeluknya erat. “Dasar bodoh. Dasar Mia bodoh. Dia ini Mamaku, dia Mamaku.” Hana terus menangis

Detik berikutnya Tante Dian membalas pelukannya. “Maafkan Mama... Hana, Maafkan Mama...,” dan mereka saling berangkulan sambil menangis, sampai di ruangan itu hanya terdengar suara isakan mereka saja, hanyut dalam perasaan mereka saja...

***

“Dia Mamaku!”

Teriakan Hana tadi siang masih bergema di telingaku. Dia itu bodoh atau apa, sih? Padahal aku sudah membelanya tapi dia malah mengusirku. Biar saja, aku tak peduli lagi dengannya. Dasar cewek lembek, dia malah tangis-tangisan sama Mamanya yang selama ini sudah sering membuatnya susah itu. Aku jadi kesal.

“Kenapa?” suara Kak Yanti tiba-tiba menyapaku dari belakang, aku menoleh dan menemukannya sedang melangkah ke arahku sambil membawa secangkir teh dengan asap yang masih mengepul. “Kayaknya dari tadi kamu cemberut terus, cerita dong,” katanya sambil duduk di sebelahku, di depan layar TV yang sama sekali tak menarik minatku dari tadi. Oh iya, saking sibuknya marah-marah aku sampai lupa kalau Kak Yanti sudah pulang kerja sejak sejam yang lalu. Sekarang masih jam tujuh malam, dan Papa masih sibuk di toko. Akhir-akhir ini sepertinya usahanya semakin bagus.

“Tidak perlu. Aku bukan orang lemah yang sedikit-sedikit mengeluh,” balasku.

“Loh? Mengeluh itu manusiawi kok, sekali-sekali curhat ‘kan boleh saja,” Kak Yanti setengah tertawa sebelum ia kembali menyeruput teh-nya.

Aku tak menanggapinya dan mencoba menghilangkan kegundahanku dengan mengganti-ganti channel TV. Kami diam cukup lama sampai akhirnya kuputuskan untuk bertanya saja, tentang hal yang menggangguku selama ini.
“Sesuatu yang dilupakan itu pasti hal yang tidak penting, ‘kan?” pertanyaanku membuat Kak Yanti sempat terpana beberapa saat, dia menatapku dengan alis yang berkerut. Lalu ia mulai tersenyum dan meletakkan cangkir tehnya di atas meja.

“Kau tahu besok hari apa?” tanyanya lagi. Kali ini aku yang dibuat bingung. “Ulang tahun Papa, loh. Kau lupa?” kalimatnya yang ini membuatku terhenyak. Iya, ulang tahun Papa. Kenapa aku bisa lupa? Kenapa aku melupakan hal sepenting itu?
“Kau lupa, ya?” sambung Kak Yanti lagi. “Apa ulang tahun Papa itu tidak penting?” dan dia kembali tersenyum penuh makna. Aku tak bisa berkata-kata, aku hanya bisa terdiam dan menunduk dengan pikiran yang seperti benang kusut.
“Di dunia ini tidak ada yang tidak penting,” Kak Yanti menyentuh lembut kepalaku. “Sekecil apapun, sejelek apapun, dia itu ada karena dia penting. Apa menurutmu kalau seseorang melupakanmu maka saat itu juga kau sudah menjadi tidak penting lagi? Memangnya keberadaanmu hanya sebatas itu?” tanyanya lagi dengan senyum hangat. Aku lagi-lagi terdiam karena sibuk mencerna ucapannya.

Kriiiing...

Bunyi telepon di ruang tengah membuatku tersentak. Karena tak ada tanda-tanda Kak Yanti akan bergerak, kuputuskan aku saja yang mengangkat telepon.

“Assalamualaikum,” kata suara di seberang sana.

Aku kenal suara ini, “Wa alaikumsalam,” jawabku.

“Mia?” suara yang tidak asing ini langsung mengenaliku. Dia Hana...

“Iya, kenapa?” balasku, sebenarnya aku agak gugup bicara dengannya.

“Maaf ya, tadi siang itu... aku tahu kau begitu karena peduli padaku, seharusnya aku tidak boleh mengusirmu, Maaf ya...”

Aku tak menjawabnya. Bukan karena aku tak mau menjawab, tapi karena aku tak bisa. Aku tak bisa membiarkan dia mendengar suaraku parau, karena saat ini air mataku sedang mengalir tak terkendali. Aku menangis, rasanya aku begitu lega dia meneleponku duluan, saking leganya aku sampai menangis. Padahal kupikir aku akan kehilangan dia, satu-satunya teman yang tidak meninggalkan aku, satunya-satunya teman yang selalu mengulurkan tangannya padaku saat aku terjatuh.

“Mia... jangan marah, ya. Aku benar-benar minta maaf, tadi keadaanya memang kacau. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa, aku dan Mama sudah bicara, dan dia berjanji tidak akan menyia-nyiakan hidupnya lagi. Dia berjanji akan menghadapi semuanya bersama-sama denganku. Dan semua itu karena kamu juga. Aku bersyukur punya teman sepertimu. Aku bersyukur punya teman yang tegar sepertimu...”

Tegar? Apa iya begitu? Sebenarnya apa yang menentukan siapa kuat dan siapa lemah. Bukannya kamu yang jauh lebih kuat dan tegar? Aku ini bukannya kuat, aku cuma pura-pura. Aku ini si bodoh yang sok kuat, mana ada manusia yang tidak menangis. Bukannya manusia itu memang makhluk yang lemah, dan semakin lemah kalau berhadapan dengan kehendak Tuhan. Tapi selama ini aku selalu mengingkarinya.

“Hana...,” kataku kemudian, “Terima kasih, ya.”

“Terima kasih untuk apa?”

“Terima kasih karena kau tidak pernah bosan menjadi temanku...”

Hana pun tertawa di seberang sana, dia benar-benar tertawa lepas, “Sama-sama,” katanya. “Coba katakan itu juga pada Mamamu,” sambungnya lagi. “Coba bilang terima kasih, karena biar bagaimanapun juga dia itu Mamamu, ‘kan?”

***

Kalimat terakhir Hana waktu itu membuatku berada di sini, rumah sakit tempat Mamaku dirawat. Hari ini aku memutuskan untuk mengunjunginya, untuk kedua kalinya sejak dia masuk ke sini. Aku menemukan wanita itu sedang duduk sendirian di kursi taman, pandangannya kosong, dia hanya terdiam tanpa ada satu apapun yang menarik perhatiannya. Padahal disekitarnya ada yang tertawa-tawa, ada yang menyanyi, ada yang bicara sendiri, dan berbagai macam tingkah lagi. Tapi dia tak terpengaruh, mungkin sama seperti yang lainnya, dia hanya sibuk dengan dunianya sendiri, dan di dunianya itu bukan berarti dia tak memikirkan apapun, bukan berarti tak ada aku, Kak Yanti, dan Papa di sana. Mungkin saja justru karena dia selalu memikirkan kami, makanya dia menjadi seperti itu. Mungkin saja karena dia terlalu menyayangi kami...

Aku melangkah mendekat dan perlahan duduk di sebelah wanita yang dulu selalu kupanggil Mama itu. Dokter Mira – dokter yang menanganinya – bilang akhir-akhir ini dia sudah banyak kemajuan. Dan aku ingin tahu kemajuan seperti apa itu...


Entah sudah berapa lama aku menemaninya duduk di situ, tapi tetap tak ada yang berubah. Aku mulai putus asa, bagaimana mungkin bisa mengajaknya bicara kalau dia menoleh padaku pun tidak. Dia bahkan tak melirikku, sedikitpun...

Sudahlah. Semua ini percuma saja, lebih baik aku pulang.

Aku baru saja beranjak saat tiba-tiba ada sentuhan lembut di lenganku. Aku menoleh dan detik itu juga darahku seolah berhenti mengalir. Wanita itu sedang memegang tanganku, dia menahanku, dan matanya lurus menatapku. Aku memutuskan untuk kembali duduk di posisiku semula, tapi kali ini keadaannya berbeda. Mata kami benar-benar bertemu. Akhirnya dia melihatku. Dia menyadari keberadaanku, dan itu membuatku sulit mempercayainya, aku tak mengerti perasaan apa ini? Tubuhku seolah membatu dan jantungku berdetak tak normal. Wanita ini... Mamaku.

Tangannya bergerak perlahan menyentuh wajahku. Saat aku tersadar ternyata bendungan air mataku sudah bobol, dan jarinya bergerak lembut menyapu pipiku. Aku menangis. Lagi-lagi aku menangis. Rasanya belakangan ini aku jadi cengeng. Entah kenapa dadaku sesak sekali, benar-benar sesak sampai aku tak tahu lagi bagaimana mengendalikannya. Tidak tahu... aku tidak tahu kenapa aku menangis seperti ini...

“Terima kasih,” suaraku parau dan aku nyaris tersedak. “Terima kasih selama ini kau sudah menjadi Mamaku... aku bersyukur kau adalah Mamaku... terima kasih...”

Ya, karena dia adalah Mamaku, seperti apapun dia, tak ada yang bisa mengubah kenyataan kalau dia itu memang Mamaku. Selama ini dan seterusnya dia adalah Mamaku...

Sampai kapan pun akan tetap begitu...

(END)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar