Kamis, 18 Maret 2010

Strategi Perang "Ajigile" di Film Redcliff II

Strategi-strategi yang Digunakan dalam “Red Cliff II”

Tulisan ini akan membahas film yang berjudul “Red Cliff II” yang diputar pada tanggal 15 Desember 2009 di laboratorium bahasa Hubungan Internasional Universitas Riau. Film yang disutradarai oleh John Woo ini bercerita tentang perang yang terjadi antara wilayah Cina Utara yang dipimpin oleh Cao Cao dan wilayah Selatan yang dipimpin oleh Sun Quan. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Sun Quan dan para sekutunya yang awalnya hanya memiliki 30.000 prajurit melawan pasukan Utara yang jumlahnya ratusan ribu. Berbagai macam strategi telah dilancarkan oleh masing-masing pihak dan keduanya merupakan strategi yang luar biasa dan bahkan mungkin saja tidak akan pernah terpikirkan sebelumnya.

Perang strategi dimulai ketika Cao Cao mengirimkan mayat-mayat prajurit-prajuritnya yang meninggal karena terkena penyakit tifus melalui sungai yang mengalir ke Selatan. Strategi Cao Cao tersebut berhasil membuat prajurit Selatan tertular penyakit yang dibawa oleh mayat-mayat yang sengaja dikirimkan, kemudian Liu Bei sebagai sekutu Sun Quan menarik mundur pasukannya karena sebagian telah menderita tifus. Strategi “pengiriman wabah penyakit melalui mayat” yang dilancarkan oleh Cao Cao memang terkesan tidak manusiawi, namun patut diakui bahwa strategi tersebut sangat pintar dan luar biasa menguntungkan. Karena selain mengurangi kemungkinan menularnya virus tifus kepada sebagian prajurit Utara yang masih sehat, mengurangi kerepotan proses pemakaman ataupun kremasi, sekaligus juga dapat melemahkan lawan. Namun, di dalam perang juga membutuhkan moral. Maka ketika muncul argumen untuk membuang mayat-mayat pasukan Utara sebagai makanan ikan, Zhao Yu – ahli strategi Sun Quan – lebih memilih untuk mengkremasi mayat-mayat tersebut karena alasan kemanusiaan.

Cao Cao memang memiliki kekuatan perang yang kuat, cukup pintar, dan sulit untuk dilawan dengan strategi yang biasa-biasa saja. Namun, kesalahan besar yang dilakukannya adalah terburu-buru mengambil keputusan karena terpengaruh emosi dan kurang pertimbangan. Hal ini dapat dilihat dari keputusan yang diambilnya untuk memenggal laksamana Cai Mao dan Zhang Yun hanya karena dikalahkan oleh strategi licik dan pintar dari Zhu Ge Liang – ahli strategi Liu Bei. Hanya sedetik setelah keputusan pemenggalan tersebut diambil, Cao Cao menyesal karena baru tersadar bahwa tidak ada lagi seorang ahli yang dapat memimpin armada lautnya. Cao Cao juga memiliki kepercayaan diri yang besar, dan dalam arti tertentu justru malah merugikannya. Tempat dimana pasukan Cao Cao mendirikan kemah adalah salah satu bentuk rasa percaya diri (kesombongan) Cao Cao yang merugikannya, wilayah tersebut berbentuk pengait yang akan mengakibatkan pasukannya tidak bisa mundur saat ada serangan. Dalam hal ini terkesan bahwa Cao Cao beranggapan dengan personil dan persenjataan yang jauh lebih banyak dan hebat dari Sun Quan, ia tidak akan perlu sampai pada kondisi dimana ia harus menarik mundur pasukannya. Zhao Yu mengatakan bahwa saat musuh terlalu percaya diri, maka yang harus diandalkan adalah konsentrasi, karena dengan konsentrasi batu kerikil pun dapat mengalahkan raksasa.

Kemudian, dalam hal ini juga perlu dibahas strategi Zhu Ge Liang yang telah disinggung sebelumnya. Srategi mendapatkan 100.000 anak panah dalam waktu singkat dan biaya yang seminim-minimnya. Kapal-kapal yang di-cover jerami yang dibawa Zhu Ge Liang kehadapan pasukan laut Utara tidak akan dapat pulang dengan 100.000 anak panah jika saja saat itu tidak ada kabut. Zhu Ge Liang telah mempertimbangkan cuaca dan kondisi yang paling baik untuk melancarkan strategi pencurian anak panah tersebut. Dalam perang, kedudukan ahli strategi yang paham betul dengan geografi ataupun cuaca memang sangat krusial, kemenangan Sun Quan adalah karena memilikinya – selain karena faktor-faktor lain. Bisa dikatakan kunci kemenangan pasukan Selatan adalah karena adanya perubahan angin pada final war dan pasukan Selatan mengetahuinya, sementara Cao Cao tidak demikian.

Intinya, dalam peperangan bukan hanya senjata dan pasukan yang dibutuhkan. Banyak faktor-faktor lain yang juga dapat membawa kemenangan, semangat dan rasa percaya pasukan terhadap pemimpinnya, strategi yang penuh pertimbangan, perkiraan terhadap berbagai kemungkinan seperti wilayah, kondisi alam, dan munculnya sekutu lawan dari arah belakang. Bahkan hal-hal kecil seperti pengalih perhatian pada detik-detik sebelum perang berlangsung – permaisuri Zhao Yu yang menyuguhkan teh pada Cao Cao untuk mengulur/menunda waktu perang. Namun, tentu saja untuk yang terkahir ini pasukan Selatan dapat dikatakan beruntung karena Cao Cao menganggap permaisuri Zhao Yu istimewa. Strategi ini tidak dapat diterapkan pada perang lain yang situasi dan kondisinya berbeda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar