Kamis, 02 September 2010

BOM IRAN: MENURUNNYA RASA TANGGUNG JAWAB INTERNASIONAL

Paper ini merupakan hasil summary dari buku “Iran, La Bombe Et La Démission Des Nations” yang ditulis oleh Thérèse Delpech tahun 2006. Buku ini kemudian diterjemahkan oleh Ros Schwartz menjadi buku yang berjudul “Iran and the Bomb: the Abdication of International Responsibility” dan diterbitkan oleh Columbia University Press di New York. Paper ini hanya akan membahas Bab I dan Bab II dalam buku tersebut, yaitu mengenai ambisi nuklir militer Iran yang tidak dapat disangkal (Iran: indisputable military nuclear ambitions) dan mengenai Eropa yang semakin menerapkan strategi kontroversial berkaitan dengan nuklir Iran (Europe: An Increasingly Controversial Strategy)

Tahun 2005 merupakan penentuan bagi Iran: presiden baru terpilih pada akhir Juni ditandai pergeseran ke arah meningkatnya otoritarianisme internal dan provokasi eksternal. Perkembangan regional telah mendorong Ayatollah Ali Khamenei untuk memilih Ahmadinejad yang selain memiliki kesetiaan dan ketangguhan, juga dikenal tidak korup, berbeda sekali dengan Hashemi Rafsanjani. Pilihan rasional ini bisa diinterpretasikan sebagai suatu reaksi nervous menghadapi perkembangan regional secara potensial. Tapi menurut Delpech, ini juga dapat dilihat sebagai tantangan bagi dunia luar, bahwa presiden yang baru adalah seorang yang tidak mengenal kompromi.

Di atas pertimbangan internal dan regional, situasi internasional kemudian didominasi oleh kasus nuklir. Jelas akan sulit bagi Iran untuk memperoleh senjata nuklir dan mengembangkan perekonomian negara pada saat yang sama. Apa yang akan dipilih Iran? Setuju untuk melaksanakan program energi nuklir sipil murni dan meninggalkan bom, atau mengandalkan reaksi lemah dari masyarakat internasional dan melaksanakan hal yang berlawanan dengan energi nuklir sipil? Jawaban yang diberikan dalam buku ini adalah bahwa kemungkinan besar Teheran akan memilih yang terakhir, dengan dukungan dari "kehendak rakyat" dan otoriter rezim.

Tetapi, penting untuk memahami apakah yang ingin dicapai pemerintah Iran melalui program nuklirnya, dan apa yang bisa dicapai melalui program nuklirnya baik secara politik maupun teknis. Delpech mengajukan beberapa jawaban untuk pertanyaan tersebut. Pertama, Iran ingin mengembangkan bahan bakar nuklir sendiri untuk tujuan sipil. Ini adalah apa yang terus menerus ditegaskan Teheran, bahwa program ini sepenuhnya damai dan tidak ada alasan untuk menghalangi "hak asasi" Iran dalam memanfaatkan energi nuklir untuk tujuan damai yang dijamin pada pasal 4 Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT). Tapi Delpech menganggap bahwa ini adalah propaganda Iran. Karena argumen dalam perjanjian tersebut tidak dapat diinterpretasikan kasar seperti itu, argumen tersebut bukan menjamin pengayaan atau proses ulang, tetapi hanya hak untuk menggunakan energi nuklir demi "tujuan damai". Selanjutnya, hak ini tergantung pada negara-negara untuk memenuhi kewajiban non-proliferasi mereka atau tidak. Masalah utama adalah bahwa Iran memiliki minyak berlimpah dan sumber daya gas begitu besar, jadi mengembangkan energi nuklir sipil tidak masuk akal dari sudut ekonomi. Tapi Eropa tidak pernah berusaha untuk mencegah Iran yang ingin mengembangkan program energi nuklir.

Kedua, Iran ingin menggunakan program nuklirnya sebagai alat tawar-menawar dengan Amerika. Argumen ini sering diterapkan pada Korea Utara: Pyongyang diduga mengembangkan kegiatan nuklirnya untuk masuk ke dalam perundingan dengan Washington. Hipotesa ini hampir tidak didukung oleh contoh peristiwanya, karena kenyataannya adalah bahwa Korea Utara, salah satu kediktatoran paling brutal yang pernah dikenal, ingin memperoleh bom nuklir untuk menjamin kelangsungan rezim.

Iran membutuhkan investasi Amerika dan Eropa untuk mengoptimalkan industri gas dan minyak bumi. Dengan masalah nuklir ini, Iran dapat berdialog dengan Washington dan mencoba untuk melakukannya dari posisi yang kuat. Skenario ini mungkin masuk akal sampai Juni 2005. Teheran tidak dapat lagi berharap untuk mencapai hasil ini, karena dengan memilih seorang pria sebagai presiden se-radikal Mahmoud Ahmadinejad, berarti Iran telah memilih hubungan permusuhan dengan Barat. Tapi, kenyataan bahwa program nuklir Iran jelas tidak dipahami sebagai alat tawar-menawar tidak berarti bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.

Ketiga, Iran hanya menginginkan bom. Semua indikator membenarkan hipotesis ini. Ratusan inspeksi terhadap Iran tidak memberikan kepastian yang signifikan, pengamatan pengawas IAEA jauh melampaui apa yang diakui Iran di awal penyelidikan. Daftar pelanggaran yang dilakukan Iran pernah terjadi pada tahun 2005, tim pengawas menemukan galian terowongan di dekat fasilitas konversi cetak biru Isfahan-Iran yang seharusnya diserahkan kepada IAEA. Mereka bahkan akhirnya memperoleh bukti bahwa produksi uranium logam dan teknologi pengecoran telah disediakan Teheran. Kesimpulannya, Iran telah banyak melakukan kebohongan dan taktik mengulur-ulur.

Keempat, apakah kemampuan teknis Iran? Hal ini sangat sulit dijawab dengan satu alasan yang sederhana, bahkan jika data penting telah banyak dikumpulkan sejak Februari 2003, program nuklir Iran ini masih belum diketahui. Kebanyakan pengamat sepakat bahwa beberapa tempat, kegiatan, bahkan mungkin material telah lolos dari deteksi pengawas dan intelijen. Iran telah benar-benar menunjukkan kemampuannya menyembunyikan fasilitas nuklir besar untuk waktu yang lama. Bisa jadi ini adalah kegiatan pengayaan uranium bawah tanah dan percobaan pengembangan bom nuklir.

Tapi tidak berarti Iran telah mengalahkan semua hambatan teknis. Tidak jelas kemajuan apa yang telah dibuat Iran sejak tahun 2003. Iran kemungkinan besar memang telah menguasai teknologi rudal balistik dan telah belajar banyak tentang hal itu dari Korea Utara dan Rusia. Kemitraan Iran dengan Pakistan dan Korea Utara, walaupun mungkin sangat membantu, tetapi pengamat tidak bisa menemukan dengan jelas tentang sejauh mana hubungan negara-negara tersebut. Untuk menyimpulkan pertanyaan tentang kemajuan teknis Iran, Secretary of the Supreme National Security Council yang memimpin negosiasi secara efektif dengan Eropa menyatakan bahwa hasil yang telah dicapai Iran dalam hal teknis sangat menakjubkan. Sekali lagi Delpech berpendapat bahwa Ini mungkin propaganda. Tapi fakta dari negosiator lain, Sirus Nasseri, telah menyatakan pada bulan Desember 2004, bahwa pengembangan rudal Iran menuju hulu ledak nuklir lebih maju dari yang dibayangkan.

Kelima, apa keuntungan politik yang didapat Iran? Permainan politik Iran adalah transparan. Tujuan pertama adalah untuk menjamin dukungan dari negara-negara non-blok dengan menekankan hak "mutlak" dari penandatangan NPT, memanfaatkan energi nuklir untuk tujuan damai. Tapi menurut Delpech, energi nuklir untuk tujuan damai tidak bisa diterima. Sesuai dengan argumen yang diulang berkali-kali dengan cara disamarkan oleh pihak penentang nuklir Iran. Teheran secara alami telah lalai menyebutkan bahwa hak ”mutlak” tersebut terkait dengan kepatuhan terhadap artikel 1 dan 2 dari NPT, yaitu menetapkan non-pengalihan kegiatan nuklir untuk tujuan militer. Selain itu, Iran juga mengabaikan perjanjian NPT yang menyebutkan bahwa hak menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai dapat terpenuhi tanpa memperkaya atau mengolah ulang bagi negara yang bersangkutan.

Ada beberapa hal yang dinyatakan Delpech mengenai strategi program nuklir Iran. Salah satunya adalah strategi politik untuk menetralkan negara-negara Arab, yang takut bom nuklir Iran, dengan terus-menerus membangkitkan ancaman nuklir Israel dan memperkuat populasi permusuhan Arab terhadap Israel. Ancaman nuklir Israel adalah argumen yang kuat di dunia Arab, bahkan di negara-negara moderat seperti Yordania dan Mesir. Kairo telah memainkan permainan ambigu pada konferensi NPT bulan Mei 2005, suatu sikap yang jelas mendukung kepentingan Iran. Negara-negara Arab menganggap toleransi kemampuan nuklir Israel tidak dapat diterima. Argumen bahwa Israel tidak menandatangani NPT juga tidak bisa diterima, bahkan jika sah menurut hukum. Berikutnya, strategi politik Iran juga menantang informasi mengenai program nuklirnya dengan mengingat kesalahan yang lalu terhadap penilaian senjata pemusnah massal Irak. Salah satu perbedaan utama antara Irak dan Iran adalah bahwa oposisi Saddam Hussein meneruskan informasi yang sama sekali palsu, sedangkan oposisi Iran telah menyerahkan data yang sangat tepat dan tetap menjadi sumber utama informasi.

Selain itu, strategi Iran juga ingin membagi berbagai pemain yang terlibat. Pada musim gugur 2002, setelah oposisi Iran di pengasingan mengadakan konferensi pers, dan mendorong IAEA untuk bernegosiasi dengan Iran, yang pada akhirnya memberikan ultimatum pada Teheran. Pada tahap ini, Eropa berusaha bernegosiasi tanpa membawa kasus tersebut ke Dewan Keamanan PBB. Walaupun pada akhirnya DK PBB tetap ambil bagian dalam masalah nuklir Iran. Upaya Iran untuk menciptakan keretakan antara Eropa dan IAEA mengalami satu langkah keberhasilan, tapi gagal ketika Teheran mencoba untuk memecah Eropa. Lalu Teheran berusaha memecah belah Eropa dan Rusia. Tapi sekali lagi, mereka gagal. Eropa berhati-hati untuk menjaga informasi dan saluran rinci dengan Moskow. Kemudian Iran juga berpikir akan mudah memecah Eropa dan Amerika, tapi memang tidak semua hal berjalan sesuai dengan perkiraan Iran.

Sebuah kemenangan politik kemudian dimenangkan oleh Teheran di 2005, dengan bantuan tak terduga dari Mesir. Wawancara dengan Mullah Rohani (pihak oposisi Iran) menyatakan bahwa tujuan utama dari diskusi dengan Eropa adalah menunda prospek rujukan ke DK PBB. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, Eropa telah dimanipulasi oleh Iran dan mengungkapkan bahwa Iran lebih tekun dalam mencapai tujuan daripada mereka yang berusaha untuk mencegahnya. Pada Januari 2006, diskusi dengan Eropa secara resmi putus dan Iran mencoba mengulangi taktik yang sama dengan Moskow. Namun, dengan penerapan Resolusi 1696 oleh DK PBB, semuanya berjalan lebih cepat. Resolusi ini efektif mewajibkan suspensi yang sejauh ini selalu ditolak Teheran.

Ketika Iran sudah memiliki aspirasi nuklir, beberapa negara Eropa telah mencurigai bahwa Iran berambisi membuat senjata nuklir dalam beberapa tahun. Perancis telah mengadopsi kebijakan hati-hati menempatkan embargo dan penjualan peralatan atau bahan nuklir ke Timur Tengah, untuk tujuan apa pun. Sejak akhir tahun 1980-an, Teheran tidak kenal lelah demi memperoleh peralatan nuklir dan material dari seluruh dunia. Padahal menurut Delpech, sebagai negara yang kaya minyak dan gas bumi, tidak ada justifikasi untuk terburu-buru mengembangkan sumber energi alternatif karena kebutuhan energi Iran tidak di bawah ancaman, bahkan dalam jangka panjang. Mengapa Iran terburu-buru ingin memperoleh kemampuan nuklir?

Kemudian, Teheran berbalik ke Moskow, yang bersikap lebih simpatik dibandingkan Eropa. Sejak pertengahan 1990-an, Eropa menyadari kemungkinan
bahwa program energi nuklir sipil akan memungkinkan Iran untuk memperoleh keahlian dan teknologi dari Rusia selain murni untuk tujuan damai. Namun, sekitar satu dekade, Eropa memilih untuk berdialog, sementara Amerika Serikat terus memaksakan sanksi berat. Eropa juga menjadi lebih waspada, terutama dalam mengendalikan ekspor. Awalnya Eropa terlibat dalam kasus Iran untuk tiga alasan utama, yaitu menunjukkan bahwa mencapai kemajuan non-proliferasi untuk rute diplomatik adalah mungkin, mengembalikan persatuan Eropa yang telah hilang selama krisis Irak, dan Eropa sendiri merasa terancam oleh program rudal balistik Iran.

Mengenai strategi Eropa dalam menghadapi masalah nuklir Iran ini, pada bulan Juni 2003, Uni Eropa menerbitkan sebuah strategi bersama untuk memerangi proliferasi senjata pemusnah massal (WMD). Dokumen ini mencakup nuklir, senjata biologi dan kimia serta sistem pengiriman (balistik atau rudal jelajah). Eropa telah menjelaskan pada Teheran bahwa setiap pelanggaran terhadap Perjanjian 2003 dan 2004 akan mengakibatkan Iran dilaporkan ke Dewan Keamanan. Selain itu, ada juga solidaritas dari tiga negara Eropa. Selama tiga tahun, meskipun pendekatan mereka berbeda, London, Paris dan Berlin tetap sangat bersatu menghadapi masalah Iran. Pada bulan Juli 2006, mereka semua sepakat mengadopsi resolusi DK PBB 1696 dengan memberikan ultimatum terhadap Iran. Tapi apa yang akan dilakukan jika Iran tidak mematuhi ultimatum tersebut, masih kurang jelas.

Dalam hal melihat ancaman Iran dari sudut Eropa. Banyak pengamat menafsirkan inisiatif Eropa adalah sebagai sarana untuk mencegah intervensi Amerika
terhadap Iran. Tetapi penafsiran ini tidak memperhitungkan persepsi dari ancaman Iran. Menurut Delpech, bom nuklir Iran terutama akan menjadi ancaman bagi Timur Tengah. Tapi bagi Eropa yang ingin memainkan peran politik lebih besar di daerah ini, apalagi jika Turki bergabung dengan Uni Eropa dalam sepuluh tahun ke depan, masalah Timur Tengah akan benar-benar menjadi masalah Eropa juga. Bahkan ada ancaman yang lebih langsung, bahwa berbagai rudal Iran sudah dapat mencapai wilayah Eropa. Walaupun dapat dikatakan Iran tidak berniat menyerang Eropa. Namun, seperti selama Perang Dingin, kemampuan operasional perlu diperhitungkan daripada niat.
Turki bereaksi sangat kuat dan menyatakan peristiwa ini adalah potensi ancaman. Faktor-faktor lain juga harus diperhitungkan, Teheran yang dianggap terlibat dengan kelompok teroris di Timur Tengah dan di luar, bisa saja cukup meyakinkan Eropa untuk melaksanakan ancaman dengan melaporkan Iran ke Dewan Keamanan. Eropa berkali-kali tidak melakukannya bahkan ketika Iran terang-terangan telah tiga kali melanggar kesepakatan pada bulan November 2003, November 2004 dan September 2005.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar