Kamis, 25 November 2010

Menjadi teman yang baik itu sulit (Bag. 2)


“Sahabat itu seperti lilin. Bersedia lebur demi menerangi jalanmu.
Sahabat itu seperti bintang. Walaupun jauh dan kadang menghilang, tapi dia selalu ada.
Sahabat itu gak butuh banyak kata untuk tau isi hatimu.
Sahabat itu adalah orang yang akan selalu siap menarik tanganmu kalau kau terjatuh, selalu siap menepuk pundakmu kalau kau kehilangan semangat, selalu ada di tempat yang bisa kau jangkau kalau kau membutuhkan seseorang.
Dan sejauh apapun kau berjalan, kalau kau melihat ke belakang, dia masih tetap akan berada di sana. Tersenyum padamu...”
(dari berbagai sumber)

Masalahnya, apakah orang seperti itu memang ada?

Aku Yuri, 21 tahun. Saat ini sedang kuliah di salah satu universitas negeri di Riau.
Pertama kali jadi mahasiswa, aku bertemu dengan macam-macam orang lagi.
Teman-teman SMA-ku dulu pasti juga begitu.
Kali ini aku bertemu dengan akhwat-akhwat. Secara (nyaris) tak sengaja aku akan melewatkan satu tahun pertamaku jadi mahasiswa di sebuah pondokan akhwat.
Mereka baik. Mereka semua baik. Sangat baik malah.
Tapi untuk aku yang seperti ini, sikap baik mereka itu malah jadi membingungkan.
Aku tidak terbiasa suasana rumah seperti ini.
Aku sudah pernah bilang ‘kan, kalau di rumah aku lebih suka menghabiskan waktuku di kamar. Sendirian. Dan sekarang aku malah harus berbagi dengan seseorang.
Lagipula, penghuni pondokan ini tidak pernah bisa tenang kalau aku sudah seharian di kamar. Mereka pasti sibuk berbasa-basi seperti: “Ngerjain apa?” atau “Ikut yuk, hari ini ada seminar bagus di kampus”.

Aku gak cocok dengan semua ini.
Aku nggak terbiasa berbasa-basi. Dan aku memang selalu begini kalau di rumah.
Tapi ini yang membuatku berubah.
Ya, perlahan aku mulai menyesuaikan diri. Karena aku sadar kalau sekarang aku gak lagi ada di rumah. Sekarang aku ada di pondokan, dengan orang-orang lain yang bukan keluarga. Orang yang juga harus kuberikan sikap ramah, seperti orang-orang di sekolah dulu. Aku harus berusaha menjadi orang yang disukai.

Awalnya aku sempat capek karena harus selalu menyembunyikan mood jelekku. Tapi lama-lama ini menjadi hal yang gak sulit. Lagipula, teman-teman di pondokan ini ternyata bisa kusebut sebagai keluarga. Dan sedikit demi sedikit aku bisa menjadi “orang- yang-selalu-punya-mood-bagus”. Selama setahun tinggal bersama mereka, aku udah meninggalkan sifatku yang moody.

Tahun berikutnya kulalui di rumah kakakku. Walaupun aku masih suka sendirian di kamar, tapi aku gak pernah lagi memaksa orang untuk menyesuaikan sikap dengan mood-ku – tapi kadang aku masih gak bisa mengendalikan diri waktu mood lagi jelek, yah itu memang butuh proses.

Setahun di rumah kakakku, keluargaku mulai mengenali sifatku sebagai anak yang dewasa. Aku dibilang dewasa?
Begitulah, aku pernah dengar mereka ngobrol tentang aku dan bilang kalau sekarang aku bukan anak egois lagi, sekarang aku udah dewasa dan kadang malah bisa memberi solusi.

Apa aku senang dengan perubahan ini?
Tentu saja.

Tapi, lagi, aku harus pindah dan melewatkan waktu dengan orang lain lagi. Karena kakakku harus ikut suaminya pindah keluar kota, jadi aku harus mencari kos-kosan. Sampai akhirnya aku terbawa ke sebuah rumah. Aku dan beberapa orang teman yang sebelumnya nggak terlalu kukenal – kami cuma kenal nama dan sama sekali jarang ngobrol – memutuskan untuk mengontrak rumah daripada nge-kos.

Jadilah aku mengontrak sebuah rumah di dekat kampus, bersama dengan teman-teman baruku. Keadaan masih selalu baik-baik saja, kalau sekali-sekali ada cek-cok, itu bukan hal yang serius. Kami bisa melalui semuanya dengan normal. Walaupun mereka belum bisa kusebut sebagai sahabat, tapi mereka juga bukan musuh.
Ya, mereka itu adalah teman.

Selain mereka, aku juga punya teman-teman yang akhir-akhir ini akrab denganku di kampus. Teman-teman sekelas, aku punya banyak, dan sudah seperti keluarga. Bahkan rasanya, kalau dihitung-hitung, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka ini dibandingkan dengan keluargaku sendiri.

Tapi aku memang gak pernah tau apa yang mereka pikirkan.
Biar seakrab apapun. Kami tetap punya kehidupan sendiri-sendiri. Gak ada gunanya bersikap terlalu terbuka. Kepada siapapun, gak ada gunanya bersikap terlalu terbuka.
Selama aku gak terlalu membuka diri, gak akan ada masalah waktu berpisah ataupun waktu aku bertemu dengan orang lain.

Yupz.
Lagi-lagi aku kembali disadarkan kalau ternyata hidup ini memang seperti lari estafet. Walaupun mungkin kita udah menemukan orang yang nyaman untuk menjadi teman, tapi perubahan akan selalu datang. Perpisahan akan selalu ada, dan pertemuan dengan orang baru juga akan selalu menyertainya.
Aku jadi berpikir, orang yang gak bisa menerima perubahan adalah orang yang gak akan pernah bahagia.

Tapi, ada satu hal lagi yang kupelajari, “Semua orang pasti punya beberapa hal yang gak ingin diceritakan pada orang lain. Gak ada salahnya kalau kita punya rahasia, asalkan jangan terlalu menutup diri. Karena kita akan selalu bertemu orang-orang baru, dan beberapa di antaranya mungkin ada yang bisa menjadi teman.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar