Kamis, 25 November 2010

Menjadi teman yang baik itu sulit (Bag. 1)


Namaku Yuri, 21 tahun. Dulu, di sekolah aku termasuk dalam kategori anak cerdas. Karena aku selalu ada di urutan pertama atau kedua ranking kelas. Tampangku biasa-biasa aja sih, tapi aku tipe orang yang cukup percaya diri dan kadang terkesan cuek. Kalau soal tampil atau bicara di depan umum, aku jagonya. Itu sebabnya aku sering diandalkan untuk jadi protokol upacara ataupun MC, aku juga pernah jadi penyiar radio, dan aku sering ikut serta dalam lomba pidato dan beberapa diantaranya berhasil kumenangkan.

Ada satu hal yang gak pernah bisa kumengerti dari diriku sendiri.
Sifatku yang moody.
Kadang aku pikir kalau mungkin aja aku ini sebenarnya punya kepribadian ganda.
Gak mungkin, ya? – Aku gak serius kok mikir kayak gitu.
Sifatku di rumah dan di sekolah beda banget.
Di rumah, aku menghabiskan hampir seluruh hariku di dalam kamar. Aku menyibukkan diriku dengan berbagai hal – seperti membaca dan menulis macam-macam – dan aku paling benci kalau pintu kamarku terbuka saat aku sedang berada di dalam kamar. Karena aku merasa itu agak mengganggu. Kurasa keluargaku sudah terlanjur mengenalku sebagai anak yang ketus dan gak akan ngomong kalau gak terlalu penting.

Tapi kalau udah sampai disekolah aku langsung berubah jadi orang yang bisa dibilang menyenangkan. Aku ramah pada siapa saja. Aku bahkan tertawa untuk hal yang sebenarnya tidak terlalu lucu. Kalau mengingatnya sekarang aku jadi sedikit mengerti, mungkin aku cuma berusaha supaya disukai orang lain.

Aku gak pernah punya sahabat. Sejak kecil aku ikut orang tuaku berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain – Ayahku seorang kontraktor yang pekerjaannya gak pernah tetap. Aku ingat pernah tinggal di Jakarta, Batam, Perawang, Merak, Lampung, Pangkalan Kerinci, dan akhirnya aku tinggal di Medan selama 6 tahun masa SD-ku. Tapi itu pun gak membuat aku punya sahabat. Kalau teman, aku punya banyak. Semasa SD, kami cuma berteman jika kami butuh, itu yang kupercaya. Semua teman-teman SD-ku seperti itu. Mereka ada di sekitarku selama aku juara kelas. Kedengaran berlebihan kan? Tapi itulah kenyataannya. Makanya aku gak pernah menganggap mereka sahabat.

Sampai sekarang, aku udah jadi mahasiswa di Pekanbaru. Dan gak satu namapun dari teman SD-ku yang terdengar kabarnya. Gak satu orangpun dari mereka yang masih bisa kusebut sebagai teman. Waktu aku kembali lagi ke Pangkalan Kerinci untuk melanjutkan SMP sekitar + 8 tahun yang lalu, orang pertama yang menyapaku adalah Suzan, tetangga sekaligus teman satu SMP-ku. Kami cukup akrab karena bisa dibilang dia sangat mengerti mood-ku. Gak jarang aku menyuruhnya pulang waktu dia main ke kamarku disaat mood-ku lagi jelek. Tapi dia gak pernah melakukan hal yang sama saat aku merasa butuh teman ngobrol dan memutuskan untuk main ke rumahnya. Aku datang ke kamarnya kapanpun aku suka – gak peduli bagaimanapun mood-nya saat itu – dan dia selalu menerimaku dengan baik.

Kami gak pernah jadi teman sekelas – selama ini gak jadi masalah karena rumah kami dekat. Tapi sejak aku pindah rumah, semuanya berubah. Kami jarang ketemu. Dia punya teman baru dan aku punya teman baru. Kami mulai disibukkan dengan lingkungan kami masing-masing. Setiap kali kami bertemu dan mencoba untuk ngobrol, gak ada hal menarik yang bisa dibicarakan dan itu membuat pertemuan kami jadi sangat singkat dan membosankan.

Hal seperti itu terus berlangsung sampai kami kelas XII. Kadang aku pengen dekat dengan Suzan lagi, tapi dia udah gak kayak dulu. Dia udah tumbuh jadi cewek yang cantik, mirip boneka, dan banyak cowok yang naksir. Kalau sama-sama dia aku jadi sering minder. Pernah suatu kali aku lagi jalan bareng dia, ada cowok dari kelas XII IA 3 tiba-tiba manggil aku. Aku sempat salah sangka dan rada Ge-eR; kupikir, tumben bukan Suzan yang dipanggil. Tapi rupanya tu cowok cuma mau bilang: “Yuri, salam ya buat Suzan.“ Wah... sulit diungkapkan rasanya, untung aku bisa jawab “Ok“ dengan santai – walaupun dalam hati kesal setengah mati.

Kerenggangan persahabatanku dan Suzan gak bisa ditolerir lagi. Mendadak kami jadi seperti orang asing walaupun masih sering saling menyapa kalau berpapasan.
Sebenarnya, bukan berarti aku gak pernah punya sahabat lagi. Waktu kelas X, aku sempat punya tiga orang teman, Yanti, Mela, dan Chi-chi. Kami empat sekawan yang menamakan diri kami MC=Y2 (Nama itu diambil dari inisial kami masing-masing).

Kami melewati hari-hari bersama, tertawa, bahkan pernah menangis bersama. Masalah satu orang di antara kami akan menjadi masalah kami berempat. Kalau dua orang di antara kami berselisih (biasanya Chi-chi dan Mela, mereka suka bertengkar gara-gara hal sepele), maka kami akan menyelesaikannya bersama. Aku dan Yanti yang akan jadi penengah, begitupun sebaliknya. Kami berempat seperti keluarga, kami ingat hari ulang tahun setiap orang di antara kami, dan kami selalu merencanakan kejutan hebat kalau satu di antara kami berulang tahun.

Kami terus seperti itu sampai segalanya mulai berubah. Sejak Chi-chi punya pacar, dia berubah (itu menurut Mela). Mela sering protes karena Chi-chi lebih banyak menghabiskan waktu dengan pacarnya dibanding kami. Aku ngerti sih, sengaja atau nggak, kami gak mungkin terus berempat selamanya. Saat-saat seperti ini memang akan datang dan tentu saja kami harus siap menghadapinya.

Kami mulai renggang waktu naik ke kelas XI, tak satupun dari kami sekelas. Aku di kelas XI IA 1, Yanti XI IA 2, Chi-chi XI IA 3, dan Mela XI IA 4. Entah kenapa kami jadi terpecah begitu. Tadinya kupikir gak ada masalah dengan perbedaan kelas itu. Tapi, seperti biasa, aku punya teman baru dan mereka juga begitu. Lain kelas, lain lingkungan, lain teman-teman, dan lain cerita. Kami masih berusaha mempertahankan MC=Y2, setiap jam istirahat kami ngumpul dan kami masih ingat kalau ada yang ulang tahun di antara kami. Tapi lama-lama, memang gak bisa dipungkiri, di dunia ini gak ada yang abadi. Aku mulai malas main ke kelas mereka, begitu juga dengan mereka. Kami lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahat sekolah dengan teman sekelas kami masing-masing. Kami mulai lupa merencanakan kejutan kalau ada salah satu dari kami yang berulang tahun. Kami jadi malas ngumpul bareng dan bertukar cerita. Sampai akhirnya ada berita tentang mereka yang gak kuketahui dan ada berita tentangku yang gak mereka ketahui. Aku gak tau kalau Yanti udah jadian, bahkan dengan cowok yang dulu pernah kusuka waktu SMP. Tapi Yanti gak tau soal itu, kami beda sekolah waktu SMP. Lagipula perasaanku dengan cowok itu udah hilang. Jadi itu bukan masalah besar, kejadian itu gak membuatku mau mengakhiri MC=Y2.

Tapi kerenggangan antara kami makin gak terkendali. Buktinya, aku gak tau kalau Chi-chi udah putus sama pacarnya. Dia gak memberitauku, atau mungkin dia merasa gak perlu untuk memberitauku. Aku gak bisa melawan kenyataan kalau pada akhirnya kami cuma bisa saling senyum dan menyapa setiap kali berpapasan. Kami bukan lagi empat sekawan yang seperti keluarga.

Cerita tentang MC=Y2 udah selesai. Kali ini aku akan cerita tentang Hany. Teman sekelasku di kelas XI IA 1. Salah satu alasan yang membuatku lebih betah di kelas daripada pergi ke kelas salah satu dari teman MC=Y2. Hany orangnya ceria dan kocak.
Bersahabat dengan Hany membuatku merasa seperti orang yang sangat pemurung. Dia suka menghidupkan suasana, sedangkan aku dengan mood yang berubah-ubah selalu ingin dimengerti oleh orang lain. Dia itu terlalu terang, sinarnya sampai membuat semua yang ada disekelilingnya jadi gak kelihatan. Dia menyerap semua perhatian orang-orang disekitarku. Bahkan orang yang baru kukenal melalui dunia maya pun lebih senang chatting dengannya setelah aku mengenalkan ID-nya. Hany punya gaya bicara yang asyik dan seru, beda denganku. Tapi aku gak iri kok.
Ng...
Oke, aku memang sedikit iri.
Tapi bukan iri yang sampai membuatku benci padanya. Aku cuma iri karena gak bisa seperti dia. Kenapa aku gak bisa jadi orang yang ceria dan bisa menghidupkan suasana seperti dia. Kenapa aku lebih suka ngomong ketus sampai orang-orang menganggapku judes daripada ngomong sesuatu yang bisa buat orang ketawa.

Kejujuran itu memang gak selamanya menyenangkan Tapi aku memang orangnya seperti ini. Kadang suka bicara dan berpenampilan apa adanya. Mungkin sifatku yang seperti inilah yang membuatku terkesan jutek. Dan satu lagi, aku paling benci diajak bicara kalau (lagi-lagi) mood-ku sedang jelek. Lebih baik jangan pedulikan aku kalau perasaanku lagi gak baik. Karena tanpa kusengaja aku akan mengeluarkan kata-kata yang super judes dan ketus.
Masalahnya,
Siapa yang tau kalau perasaanku lagi gak baik, kalau bukan aku sendiri?
Menjadi sahabat yang baik itu memang sulit. Terutama bagiku.
Kalian tau ‘kan?
Saat kita ingin dimengerti dan saat orang lain ingin dimengerti, itu membutuhkan perasaan yang sangat kuat. Aku sadar kalau aku bukan satu-satunya orang yang butuh perhatian dan pengertian. Suzan, Yanti, Mela, Chi-chi, Hany, bahkan teman-teman SD-ku pun butuh hal itu.

Hany, walaupun sifat cerianya itu kadang-kadang berubah jadi menyebalkan. Tentang sifat tukang becandanya yang gak lihat-lihat waktu (dia suka membuat lelucon saat pelajaran sedang berlangsung), tentang sikapnya yang easy going dan suka cari jalan pintas (lebih suka nyontek daripada berusaha sendiri), tentang sikapnya yang suka mengaku “aku udah belajar cukup keras untuk ulangan ini”, padahal aku tau usahanya belum maksimal, dan tentang sifat-sifat malas berusahanya yang lain. Sering membuatku kesal. Tapi dia tetap pantas kusebut sebagai sahabat.

Aku pun semakin menyadari kalau hidup ini memang seperti lari estafet. Mulai dari start sampai finish kita akan bertemu dengan orang yang berbeda. Untuk terus berlari, kita harus meninggalkan yang lainnya. Walaupun kita masih bisa melihatnya, tapi keadaan gak akan pernah sama dengan sebelumnya. Perpisahan itu pasti datang.

Biarlah suatu saat kami menemukan begitu banyak perbedaan antara kami, biarlah suatu saat kami menemukan hal-hal baru di dalam kehidupan kami, biarlah suatu saat kami memutuskan untuk gak bersusah payah mempertahankan persahabatan kami. Biarlah itu semua terjadi, karena segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti akan selalu berubah.
Hal yang gak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri.
Ada kalanya kita tiba di suatu titik perbedaan yang membuat kita merasa udah gak cocok sampai akhirnya hubungan itu akan merenggang dengan sendirinya.

Dan karena memang mau gimana lagi, menjadi teman yang baik itu sulit.
‘kan?

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar