Rabu, 11 September 2013

Love in Ames


안녕하세요, saya Gie.
Cerita ini tentang pengalaman pribadi saya selama dua bulan student exchange di USA Februari 2011. Seharusnya kami mengikuti kelas spring, tapi saya sangat bersyukur waktu sampai di Iowa, USA, winter belum berakhir dan saya masih bisa merasakan salju.

Saya masih sangat ingat kejadiannya dengan jelas, seperti video yang siap diputar di kepala saya kapanpun saya ingin mengenangnya
lagi. Saya baru saja pulang dari kampus (Iowa State University). Waktu
itu sudah hampir gelap, hawa musim dingin semakin menyelinap ke balik jaket dan membuat saya menggigil. Saya melangkah cepat menuju ke halte terdekat. Dan saat itulah saya melihat laki-laki jangkung berwajah oriental itu sedang duduk sendirian di halte sambil mendengarkan music dari headset-nya. Waktu itu saya juga sedang memakai handsfree (selama di Amrik saya terbiasa memakai handsfree kemana-mana kalau sedang jalan sendirian), kebetulan lagu yang sedang saya dengarkan adalah lagu Sung Si Kyung “In the Street”.

Awalnya saya tidak terlalu mempedulikannya, dia juga sibuk mengotak-atik hp-nya tanpa memandang saya. Tapi entah bagaimana – mungkin terbawa suasana gara-gara lagu mellow-nya Sung Si Kyung – perhatian saya mulai tersita. Mulut saya semakin gatal ingin mengajaknya bicara. Saya penasaran, dia ini orang Jepang, Korea, atau Cina. Sementara saya terus ragu mau bertanya atau tidak, bus yang menuju ke apartment saya datang, saya pun berpikir, “Sudahlah”.

Tapi mungkin Tuhan ingin sedikit menggoda saya, tak disangka dia juga naik bus yang sama dan duduk tepat di hadapan saya. Sepanjang perjalanan, saya hanya bisa melihat tengkuknya – dia terus saja
menunduk karena sibuk dengan hp-nya. Sesuatu dari dalam diri saya mendorong saya untuk mengajaknya ngobrol, tapi sampai ia turun lebih dulu, satu kalipun saya tidak pernah menyapanya. Entah dia sadar atau tidak, tapi saya pikir, “Paling juga besok saya sudah lupa dengannya.”

Beberapa hari berikutnya, saya sudah hampir melupakan pertemuan itu sampai saya kembali melihatnya di halaman kampus tepat di depan Curtiss Hall – gedung kelas Writing saya. Dia lagi-lagi sendirian. Perasaan saya kembali tak karuan, seperti ada yang mengatakan, “Sapa sekarang atau kau akan menyesal nanti”. Tapi saya yang – menurut teman-teman saya – sudah terkenal dengan sifat cuek, kembali memutuskan untuk tak menghiraukan dia dan mengambil langkah masuk ke Curtiss Hall karena kelas writing saya juga sudah akan dimulai.

Saya pikir akan selesai sampai disitu, tapi pada hari itu juga, saya kembali bertemu dia di bus dalam perjalanan kembali ke apartment. Saya agak menggerutu, “Ya Tuhan, ada apa ini?”

Dan kali ini saya putuskan untuk memberanikan diri menyapanya. Langkah pertama, saya duduk tepat disebelahnya. Langkah kedua, saya mengunyah permen Ha**ydent White yang selalu sedia dalam tas saya. Langkah ketiga, saya mengeluarkan kalimat, “Hello”. Dia menoleh sambil lalu menjawab dengan kata yang sama. “I thought I’ve seen you before,” kata saya lagi.

“Yeah,” dia menjawab begitu dan kemudian melanjutkan, “I saw you several times at UDCC (Kantin kampus)”

Gosh, he knows me. Saya langsung mengumbar senyum sambil sebisa mungkin menghindari ekspresi mupeng di wajah saya.
Kami tidak bisa ngobrol terlalu lama, karena kemudian dia turun lebih dulu. Saya bahkan tidak sempat menanyakan namanya.
Waktu itu salju tidak sedang turun, tapi pemandangan
di luar bus sangat putih karena salju tadi malam. Saya kembali mengenakan hands-free dan mendengarkan lagu yang tadi saya off-kan saat saya memutuskan untuk menyapanya.
Lagu “Why I like you” dari Suju baru saja selesai dan yang ada di playlist saya berikutnya adalah Kyuhyun dengan “7 years of love”. Saya menyandarkan kepala ke kaca jendela bus sambil berpikir, “Kalau memang ada sesuatu di antara kami,
mungkin kami akan bertemu lagi.”

Tapi terakhir kali saya melihat dia adalah saat farewell party sebelum saya dan beberapa teman Indonesia lainnya akan kembali ke tanah air setelah dua bulan berlalu. Kami tidak saling bicara, kami hanya saling melempar senyum.

Dan sekarang, saya hanya menganggapnya sebagai a beautiful moment in my first winter^^


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar