Minggu, 21 Maret 2010

Catatan Negeri Yang Terpuruk



Jangan pernah mengeluh...

Walaupun kita harus bernaung di bawah daun-daun kering yang berguguran

Karena selama ini kitalah gambaran kemarau itu

Yang tak mengerti perih karena kita sendiri adalah luka

Jangan pernah mengeluh...

Walaupun hamparan kejayaan itu terasa mahal dan berada jauh diujung sana

Karena kitalah penonton itu

Yang menyaksikan sandiwara di pentas kita sendiri

Sehingga kita terpenjara dalam bongkahan air mata yang membeku

Jangan pernah mengeluh...

Walaupun rajutan kebenaran itu terus disayat-sayat pedang penipuan

Karena tanpa disadari, kitalah bahasa-bahasa kehancuran itu

Yang tak hanya lidah kita, nafas kita, air mata kita, denyut nadi dan jantung kita pun ikut berdusta

Dan akhirnya kita terlempar ke semak belukar...terbunuh berkali-kali... terasing di negeri sendiri

Menghuni gubuk reot dibawah langit kelabu, dibawah mentari yang bersekutu dengan mendung...

Jangan pernah mengeluh...

Walaupun kita hanya mampu terbata mengeja kekalahan di dalam negri yang porak-poranda

Karena sesungguhnya kitalah kehancuran yang nyaris abadi itu

Kitalah bangkai yang telah lama disemayamkan dibawah nisan-nisan itu

Yang tak dapat lagi berdiri karena api-api semangat telah padam oleh ludah kita sendiri

Yang membiarkan para pahlawan mati sia-sia di medan perang

Dan mayatnya tetap berada dipangkuan kehinaan

Jangan pernah mengeluh...

Walaupun sejak dulu negri ini tak pernah merdeka

Karena kitalah lumpur yang membatu itu

Kitalah secarik kain itu

Yang tak bisa membalut luka negri ini

Yang menyaksikannya membisu dan tak mampu lagi mengangkat tangannya sekalipun hanya untuk menyeka setetes keringatnya...

Kitalah cerita tentang pertikaian itu

Kitalah tumpukan luka yang menyapa negri ini ketika siangnya patah

Kitalah awan mendung yang terus menghujankan darah di bumi pertiwi ini...

Yang selalu menanyakan kemana perginya deru kemerdekaan itu

Kemana perginya puing-puing negri termasuk timor-timor yang telah hilang

Kitalah generasi itu... Kitalah penerus itu

Dan perubahan itu ada di tangan kita

Jadi masih adakah waktu untuk mengeluh?

By : Gie

Inspirated by Taufiq Ismail

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar