Senin, 26 April 2010

PERANAN GREENPEACE DALAM PERLINDUNGAN EKOSISTEM BIOTA LAUT PERAIRAN ALASKA

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
            Makalah ini membahas mengenai Peranan Greenpeace dalam perlindungan biota laut di perairan Alaska. Greenpeace merupakan organisasi internsional yang berdiri pada tahun 1971 di Vaocouver, British Columbia, Kanada. Organisasi independent ini memiliki misi untuk mengungkap permasalahan lingkungan global dan memberikan solusi bagi masa depan yang damai dan hijau sesuai dengan nama organisasi ini yakni green (hijau) dan peace (damai). Target utama Greenpeace ini adalah untuk memastikan kemampuan bumi untuk keberlangsungan hidup bagi semua keanekaragamannya.
            Perairan Alaska merupakan bagian barat dari laut Bering yang berada pada bagian utara Samudra Pasifik dan menjadi pemisah antara Benua Asia dan Benua Amerika. Laut Bering adalah salah satu region yang paling buas (Wildest Region) di dunia dan sumber dari setengah makanan laut (Sea Food) Amerika Serikat. Kawasan ini merupakan habitat bagi jutaan makhluk hidup kecil yang mengandung beragam keanekaragaman hayati seperti seperti mamalia laut (25 Spesies) burung-burung laut (50 spesies), berjenis-jenis ikan dan shellfish (450 spesies dan 25 diantaranya memiliki nilai ekonomis tinggi).
            Namun ternyata kondisi ini dimanfaatkan oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Rusia, Kanada, Jepang, Polandia, Korea, Taiwan dan China untuk mengeksploitasi sumber daya biologi ekosistem Laut Bering melalui industri perikanan. Laut Bering merupakan kawasan yang memiliki kontribusi sekitar 3-5% produksi perikanan dunia dan 56% nya merupakan produksi Amerika Serikat dan memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.  Karena potensi ekonomis yang besar itulah lingkungan perairan tersebut bersifat rentan terhadap degradasi dan kepunahan. Selain itu kondisi geografis perairan Alaska yang berada diantara negara-negara seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina, dan Jepang yang tergolong negara-negara industrialis agresif yang memiliki kemampuan teknologi tinggi untuk mengeksploitasi alam, namun teknologi tersebut sebagian besarnya tidak ramah lingkungan. Berdasarkan observasi dan analisis penyebab faktor-faktor degradasi ekosistem ini, Greenpeace mengambil kesimpulan bahwa penyebab utamanya adalah perkembangan dan pembangunan industri perikanan yang tidak sustainabel.
North Pasific Fishery Management Council (NPFMC) yang merupakan badan yang diberi wewenang untuk mengelola industri perikanan di perairan Alaska tidak mampu mencegah penurunan populasi spesies seperti  pollock, Pasific Cod, Halibut, Atka Mackerel, Groundfish menyebabkan  populasi SSL (Steller Sea Lion), mamalia laut dan burung-burung laut lainnya juga menurun, karena penangkapan ikan yang berlebihan dan terganggunya jaringan makanan ekosistem. SSL dan mamalia lainnya kalah bersaing dengan penangkap ikan untuk mendapatkan supply makanan. Menipisnya stok species Groundfish diduga akibat pengelolaan penangkapan ikan yang tidak sustainabel.
Greenpeace sebagai organisasi internasional yang sangat memperhatikan kondisi lingkungan hidup baik di darat maupun di laut merasa perlu untuk melakukan tindakan terhadap penurunan biota laut di perairan Alaska ini. Salah satu tindakan yang dilakukan oleh Greenpeace adalah melakukan memberikan tekanan pada National Marine Fisheries Servis (NMFS) untuk memasukkan SSL (Steller Sea Lion) sebagai salah satu daftar mamalia yang terancam punah pada akhir tahun 1980-an.

B.     Tujuan Penulisan Makalah
            Makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Organisasi dan Administrasi Internasional. Selain itu, makalah ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai Peranan Greenpeace dalam perlindungan biota laut di perairan Alaska.

C.     Perumusan Masalah
            Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai sejarah Greenpeace, manajemen Greenpeace, gambaran perairan Alaska dan peranan Greenpeace dalam perlindungan biota laut di perairan Alaska.

                       



BAB II
PEMBAHASAN

A.     Sejarah Singkat Greenpeace
Greenpeace didirikan di Vancouver, British Columbia, Kanada pada tahun 1971. asal mula Greenpeace di mulai dengan pembentukan formasi “Don’t Make A Wave Committee” oleh sekelompok aktivis Kanada dan Amerika di Vancouver pada 1970[1]. Nama komite ini di ambil dari sebuah slogan yang digunakan selama protes terhadap uji coba nuklir Amerika Serikat pada akhir 1969, komite datang bersama-sama dengan sasaran menghentikan uji coba pemboman nuklir bawah tanah tahap kedua dengan kode Canikkin, oleh militer Amerika Serikat di bawah pulau Amchitka, Alaska. Kapal ekspedisi pertama disebut Greenpeace I, kapal ekspedisi kedua disebut Greenpeace II. Uji coba tidak berhasil di hentikan, tetapi komite telah membentuk dasar untuk aktivitas Greenpeace selanjutnya.
Bill Darnel adalah orang yang mengkombinasikan penerapan kata Green (hijau) dan Peace (damai) yang kemudian menjadi nama bagi organisasi ini. Pada 4 Mei 1972, setelah Dorothy Stowe menyelesaikan masa jabatan ketua Don’t Make A Wave Committee, organisasi ini kemudian secara resmi mengganti namanya menjadi “Yayasan Greenpeace”. Greenpeace internasional berdiri sebagai hasil kontribusi aktivis-aktivis lingkungan internasional. Pada tahun 1979 salah satu anggota Greenpeace, David McTaggart berhasil meyakinkan sekitar enam organisasi yang bergerak di bidang lingkungan untuk mengesampingkan perbedaan dan bergabung menjadi Greenpeace internasional[2].
Greenpeace dikenal menggunakan aksi langsung bersama dengan konfrontasi damai dalam melakukan kampanye untuk menghentikan pengujian nuklir angkasa dan bawah tanah, begitu juga dengan kampanye menghentikan penangkapan ikan paus besar-besaran. Pada tahun-tahun berikutnya, fokus organisasi mengarah ke isu lingkungan lainnya, seperti penggunaan pukat ikan, pemanasan global, dan rekayasa genetika.
Greenpeace sebagai organisasi internasional memiliki misi sebagai organisasi independent yang berkampanye menggunakan konfrontasi kreatif anti kekerasan untuk mengungkap permasalahan  lingkungan global, dan untuk memaksa solusi bagi sebuah masa depan yang damai dan hijau. Target Greenpeace adalah untuk memastikan kemampuan bumi untuk kelangsungan hidup bagi semua keanekaragamannya. Saat ini ada lebih dari 40 kantor Greenpeace di seluruh dunia, dengan koordinasi internasional berlangsung melalui kantor pusat di Amsterdam.Dave Birmingham raises Greenpeace sail on Phyllis Cormack.In 1971, motivated by their vision of a green and peaceful world, a small team of activists set sail from Vancouver, Canada in an old fishing boat.
B.     Manajemen Greenpeace
Greenpeace internasional adalah badan yang mengkoordinir keseluruhan kebijakan dan strategi global Greenpeace. Organisasi ini terdiri dari 175 staf yang hampir keseluruhannya bermarkas di Amsterdam. Perannya dalam jaringan Greenpeace secara global adalah sebagai berikut[3]:
1.      Memfasilitasi keseluruhan pembuatan keputusan sebagaimana tercantum dalam prosedur pengelolaan
2.      Memfasilitasi perencanaan internasional dan proses pembuatan keputusan pada kampanye-kampanye Greenpeace
3.      Mengkoordinasi dan menjalankan kampanye-kampanye Greenpeace secara global
4.      Memonitor strategi Greenpeace dan pengelolaan keuangan
5.      Meningkatkan peran Greenpeace pada wilayah yang menjadi target utama bagi organisasi
6.      Menyediakan dukungan keuangan dan melindungi trademark Greenpeace
7.      Menyediakn fasilitas Informasi dan Teknologi dan internet yang co-efective bagi seluruh kantor cabang
Greenpeace tingkat regional dan nasional disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi dan komunitas lingkungan pada masing-masing wilayah dimana Greenpeace beroperasi. Greenpeace mengelola kontak langsung dengan masyarakat setempat. Sebagai fasilitas untuk mempermudah aktivitas, maka kantor-kantor cabang sangat mudah dikses baik via telepon maupun email.
Kepengurusan internasional bertanggungjawab untuk memonitor operasi dan aktivitas-aktivitas organisasi secara luas, memutuskan kebijakan keorganisasian, menyetujui mulainya kampanye-kampanye baru dan juga pendirian kantor cabang baru, meratifikasi ketetapan-ketetapan pada pertemuan tahunan Greenpeace internasional, memberikan hak bagi kantor cabang untuk memakai trademark Greenpeace. Anggota pengurus Greenpeace untuk periode tiga tahun, berasal dari perwakilan masing-masing seluruh kantor cabang dan biasa dipilih kembali untuk periode berikutnya. Laporan pengurus Greenpeace internasional dilakukan setiap tahunnya pada pertemuan tahunan.
Setiap kantor cabang juga memiliki kepengurusan. Biasanya dipilih melalui voting anggota, para sukarelawan dan para aktivis Greenpeace yang mana juga merupakan anggota dari komunitas-komunitas local yang memiliki posisi dan pengaruh dalam masyarakat wilayah dimana Greenpeace tersebut barada. Masing-masing kantor cabang akan memilih perwakilan untuk pertemuan tahunan (Annual General Meeting) Greenpeace internasional. Perwakilan ini disebut Trustee atau komisaris. Pertemuan tahunan ini merupakan badan pengawas yang efektif bagi organisasi secara keseluruhan. Trustee akan memilih pengurus internasional Greenpeace secara legal dan bertanggung jawab. Tanggung jawab kunci pertemuan tahunan meliputi[4]:
1.      Mendirikan dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip organisasi
2.      Memilih dan mengganti kepengurusan internasional
3.      Menyetujui pembukaan cabang baru
4.      Menyetujui batas anggaran  tahunan Greenpeace internasional
5.      Mengidentifikasi kejelasan isu strategis yang harus dijalankan oleh organisasi.
C.     Gambaran Perairan Alaska
            Secara geografis perairan Alaska merupakan bagian barat dari laut Bering, yakni laut yang berada pada bagian utara Samudra Pasifik dan menjadi pemisah antara Benua Asia dan Benua Amerika. Dalam hal ini, wilayah perairan Pasifik Utara yang dibahas adalah wilayah perairan yang berada dalam otoritas pemerintah negara bagian Alaska yakni perairan laut Bering bagian Timur, pulau-pulau Aleutian dan teluk Alaska, yang selanjutnya disebut dengan perairan Alaska. Eastern Bering Sea, dikenal sebagai Large Marine Ecosystem (LME), dicirikan dengan iklim sub-arktik dan memiliki tutupan es musiman yang mencapai tingkat maksimum pada bulan maret (Es menutupi hampir 80%). Ekosistem ini dibatasi oleh selat Bering sebelah Utara, Tanjung Alaska dan rangkaian pulau-pulau Aleutian disebelah Selatan. Sedangkan sebelah Timur berbatasan langsung dengan pantai Alaska[5].
            Laut Bering adalah salah satu region yang paling buas (Wildest Region) di dunia dan sumber dari setengah makanan laut (Sea Food) Amerika Serikat. Laut Bering memiliki jurang bawah laut terluas di dunia. Habitat unik ini adalah rumah bagi jutaan makhluk hidup kecil yang tidak dapat dilihat mata manusia. Ekosistem ini mengandung beragam keanekaragaman hayati seperti mamalia laut (25 Spesies) burung-burung laut (50 spesies), berjenis-jenis ikan dan shellfish (450 spesies dan 25 diantaranya memiliki nilai ekonomis tinggi)[6]. Magnitudo dan produktivitas biologi alami ekosistem laut Bering telah dimanfaatkan secara luas oleh manusia. Penduduk asli kawasan ini telah lama memanfaatkan binatang-binatang laut tersebut sebagai sumber makanan, pakaian, dan energi serta untuk tujuan-tujuan budaya.
Sekitar 10.000 tahun yang lalu, orang-orang Unangan, (Aleuts), Upik Eskimo, dan Inupiat dari laut Bering bagian utara menetap di pulau-pulau sekitar laut Bering. Nenek moyang mereka menyebut laut bering sebagai rumah. Namun perkembangan dan pembangunan yang dilakukan menyebabkan mereka tidak punya pilihan dimana mereka harus meninggalkan rumah dan tradisi mereka dengan bermigrasi pada pemukiman urban yang selanjutnya berakibat pada kepunahan mereka. Banyak perubahan yang terjadi di laut Bering yang mempengaruhi masyarakat asli dan lingkungan, dimana mereka saling mendukung satu sama lain.
Sekitar lebih dari 200 tahun Amerika Serikat, Rusia, Kanada, dan Jepang, dan dalam beberapa dekade Polandia, Korea, Taiwan, dana China mengeksploitasi sumber daya biologi ekosistem laut Bering melalui industri perikanan. Laut Bering diperkirakan berkontribusi 3-5% produksi perikanan dunia dan 56% nya merupakan produksi Amerika Serikat. LME laut Bering timur terkenal sebagai pendukung terbesar industri perikanan ikan Pollock. Sampa sekarang bertahan sekitar 1 juta metric ton. Spesies lain yang bernilai komersil adalah halibut, herring, capelin, Pacific cod, skate, flounder, Greenland turbot, sole, dab, plaice, dan crab. Area yang paling banyak mengandung ikan Pollock adalah daerah perbatasan ZEE Amerika Serikat dan Rusia. Penangkapan ikan di daerah ini terlalu tinggi pada tahun 1980-an, sehingga kelimpahan ikan Pollock pada area tersebut telah berkurang secara besar-besaran hingga saat ini[7].
D.    Peranan Greenpeace dalam Perlindungan Ekosistem Biota Laut Perairan Alaska
Ekosistem perairan Alaska, dalam hal ini adalah Laut Bering, memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Karena potensi ekonomis yang besar itulah lingkungan perairan tersebut lebih bersifat fragile (rentan) terhadap degradasi dan kepunahan. Perairan Pasifik Utara, kawasan tempat Perairan Alaska berada di antara negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina, dan Jepang. Negara-negara tersebut tergolong negara-negara industrialis agresif yang memiliki kemampuan teknologi tinggi untuk mengeksploitasi alam, namun teknologi tersebut sebagian besarnya tidak ramah lingkungan. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan yang menjadi sasaran utama penyelamatan Greenpeace. Berdasarkan observasi dan analisis penyebab faktor-faktor degradasi ekosistem ini, Greenpeace mengambil kesimpulan bahwa penyebab utamanya dalah perkembangan dan pembangunan industri perikanan yang tidak sustainabel.
North Pasific Fishery Management Council (NPFMC) tidak mampu mencegah penurunan populasi spesies seperti  pollock, Pasific Cod, Halibut, dan Atka Mackerel. Di tahun-tahun mendatang, kuota penangkapan ikan jenis Groundfish akan terus berkurang. Tiga region penangkapan ikan Pallock telah ditutup atau sangat dibatasi karena penangkapan ikan yang berlebihan, dua diantaranya di Laut Bering yakni pulau-pulau Aleutian dan Bogoslov dan yang lainnya di Teluk Alaska terutama perikanan di Shelikof Strait. Seiring dengan berkurangnya populasi spesies Groundfish, penurunan populasi mamalia laut dan burung-burung laut juga terjadi. Hal ini disebabkan oleh terganggunya jaringan makanan ekosistem. SSL dan mamalia lainnya kalah bersaing dengan penangkap ikan untuk mendapatkan supply makanan[8]. Menipisnya stok species Groundfish diduga akibat pengelolaan penangkapan ikan yang tidak sustainabel. Sebagai badan yang diberi wewenang untuk mengelola industri perikanan di perairan Alaska NMFS dianggap yang paling bersalah.
Keterlibatan Greenpeace dalam upaya penyelamatan lingkungan di pasifik utara telah berlangsung sejak tahun 1980-an dan mulai memberikan tekanan pada National Marine Fisheries Servis (NMFS) untuk memasukkan SSL (Steller Sea Lion) sebagai salah satu daftar mamalia yang terancam punah pada akhir tahun 1980-an. Pada tahun 1998, Greenpeace dalam American ocean campaign dan Sierra club menuduh NMFS telah gagal mencegah bahaya yang muncul terhadap populasi SSL dan gagal melindungi habitat kritisnya. Kelompok aktivis lingkungan tersebut melakukan tuntutan dengan mengerahkan masyarakat sipil melawan NMFS dalam Pengadilan Negara Bagian Amerika Serikat untuk Western District of Washington. Greenpeace menantang pengadilan dengan opini biologis dalam mengevaluasi hubungan antara industrialisasi perikanan laut dan penurunan populasi SSL. Tantangan ini secara efektif mampu membuat pengadilan federal dan hakim Thomas S. Zilly untuk menyelesaikan suatu kebijakan perikanan[9].
1.      Tuntutan Greenpeace
            Greenpeace menemukan terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh NMFS dalam mengatur pengeloalaan usaha penangkapan ikan di perairan laut Alaska. Selain melakukan kampanye Greenpeace mengajukan tuntutan pada pengadilan federal. Dalam tuntutan tersebut Greenpeace menentang NMFS dengan tuduhan sebagai berikut[10]:
  1. NMFS tidak melengkapi suatu EIS (Executive Information System) yang komprehensif sebagaimana yang disyaratkan oleh NEPA (National Environmental Policy Act)
  2. NMFS tidak menentukan dampak kumulatif dari perubahan industri penangkapan ikan selama beberapa waktu dan dampaknya terhadap SSL
  3. NMFS telah gagal untuk menyediakan perlindungan bagi SSL dalam area pertumbuhan (perkembangbiakan) mereka
  4. NMFS telah mengizinkan peningkatan penangkapan ikan dalam area habitat kritis SSL
  5. NMFS tidak mengambil tindakan yang signifikan terhadap para penangkap ikan dalam lokasi dimana terjadi penurunan SSL
  6. NMFS tidak menetapkan waktu yang cukup dan pembatasan area
  7. Seluruh praktek NMFS secara rasional tidak mengikuti fakta-fakta lingkungan yang telah dibuktikan secara scientific padahal NMFS terdiri dari ilmuwan lingkungan yang terbaik
2.      Disseminating an Ecological Sensibility
            Sejak tahun 1972, Greenpeace telah resmi, menjadi organisasi lingkungan transnasional telah berhasil menyebarluaskan kampanye mereka, pada waktu itu adalah tentang upaya penghentian perburuan hewan laut yang terancam punah, kampanye Greenpeace berhasil tersebar ke seluruh penjuru dunia. Mereka menggunakan strategi yang jauh efektif yaitu tekanan publik. Aksi-aksi kampanye yang dilakukan oleh aktivis Greenpeace seperti memanjati kapal-kapal penangkap ikan paus, terjun paying dari puncak cerobong asap, menutup pipa-pipa pembuangan limbah industri, mengapungkan balon udara ke daerah percobaan nuklir. Kampanye Greenpeace mengenai SSL ini mendapat dukungan dari 8719 partisipan masyarakat Amerika Serikat[11]. Aksi-aksi tersebut tentu saja mengundang ketertarikan media untuk memberitakannya. Hal ini yang diharapkan oleh Greenpeace agar kritik terhadap permasalahan lingkungan diketahui oleh masyarakat luas dengan jalan penyebaran lewat media.
Greenpeace sendiri telah memiliki fasilitas media sendiri dalam mempublikasikan kritik, ide, dan saran terhadap permasalahan lingkungan yang ada. Media yang dimililki Greenpeace mampu menyediakan dokumentasi gambar-gambar, spot berita berupa video yang bisa disiarkan oleh televisi di 88 negara[12]. Tujuan dari keseluruhan aktifitas ini, dimaksudkan untuk memanfaatkan komunikasi masa internasional untuk mengekspor aktifitas-aktifitas yang mengancam kelestarian ekologi selanjutnya agar masyarakat terinspirasi untuk merubah pandangan dan perilakunya terhadap lingkungan.
Aksi-aksi tersebut berdasarkan pada dua strategi. Pertama, secara sederhana membawa berita tentang praktek perusakan lingkungan yang tidak banyak diketahui oleh khalayak ramai, sehingga dengan demikian praktek ini mendapat perhatian dunia. Sebagai contoh praktek uji nuklir oleh pemerintah AS tahun 1971 di Pulau Amchitka, Alaska, merupakan wilayah yang jarang dikunjungi manusia. Dengan upaya Greenpeace untuk melakukan investigasi, maka publikasi praktek ini kemudian bisa tersebar luas ke seluruh penjuru dunia, mengakibatkan aksi protes penentangan terhadap aksi ini, pada akhirnya AS memutuskan untuk menghentikan praktek tersebut.
Kemudian strategi yang kedua dengan melakukan aksi yang dramatis dan juga berbahaya. Dengan demikian menunjukkan keseriusan mereka terhadap ancaman lingkungan yang sedang terjadi. Para aktivis yang melakukan aksi ini berani mengambil resiko terhadap hidup mereka sendiri demi meraih perhatian masyarakat terhadap isu lingkungan yang sedang menjadi highlight, serta menunjukkan pada masyarakat tentang besarnya perhatian para aktivis dan juga keseriusan mereka dalam membela kepentingan pelestarian lingkungan.
Pelaksanaan kedua strategi tersebut bertujuan untuk merubah cara pandang masyarakat melihat dunia dengan mengganti cara pandang lama dengan cara pandang baru yang lebih perduli terhadap kelestarian lingkungan. Hal ini juga yang telah dilakukan oleh Rober Hunter, salah satu pencetus Greenpeace yang sejak awal turut berpartisipasi dengan Greenpeace dalam ekspidisi yang mengkampanyekan anti penangkapan ikan paus[13]. Membangkitkan kesadaran masyarakat melalui media sebenarnya bukan merupakan upaya primer dalam rangka merubah kebijakan pemerintah, walaupun demikian, hal ini secara tidak langsung mampu membangkitkan kesadaran pemerintah untuk kemudian merubah kebijakan lingkngan yang ada. Pada dasarnya ini hanya merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Greenpeace. Lebih jauh lagi aktifitas ini justru dapat meyakinkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan-perusahaan, organisasi swasta dan masyarakat luas untuk membuat suatu penyikapan terhadap lingkungan dengan lebih baik.
Pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir, Greenpeace telah banyak melakukan strategi ini di Amerika Serikat. Keberhasilan Greenpeace dalam mengikuti proses legislasi atas beberapa permasalahan lingkungan juga tidak lepas dari aktifitas kampanye dan juga publikasi media Greenpeace seperti pada tahun 2002 tentang ketetapan pemerintah Amerika Serikat untuk memperbaharui kebijakan penangkapan ikan di daerah perairan Alaska, terkait erat dengan kampanye Greenpeace beserta kelompok lingkungan hidup lainnya yang menunjukkan fakta bahwa aktifitas pemukatan ikan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pemukatan ikan tersebut membahayakan ekosistem perairan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua strategi yang dilakukan Greenpeace dalam upaya mempengaruhi kebijakan lingkungan pemerintah Amerika Serikat adalah merupakan rangkaian yang saling terkait. Strategi-strategi tersebut dijalankan sebagai tahapan upaya Greenpeace. Dalam mengangkat suatu isu lingkungan di Amerika Serikat, strategi Diseminating an Ecological Sensibilities berperan besar dalam cara untuk menghalang dukungan masyarakat luas atas kebutuhan solusi kebutuhan tersebut. Dengan demikian perhatian pemerintah akan lebih terfokus karena tuntutan solusi sebenarnya tidak datang dari TEAGs secara sbstansi melainkan berasal dari masyarakat Amerika Serikat melalui perwakilan organisasi-organisasi lingkungan tersebut.

BAB III
SIMPULAN

Greenpeace pada dasarnya merupakan organisasi internasional non-pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang penyelamatan lingkungan hidup. Greenpeace didirikan di Vancouver, British Columbia, Kanada pada tahun 1971. Asal mula Greenpeace dimulai dengan pembentukan formasi “Don’t Make A Wave Committee” oleh sekelompok aktivis Kanada dan Amerika Serikat di Vancouver pada 1970. Nama komite ini diambil dari sebuah slogan yang digunakan selama protes terhadap uji coba nuklir Amerika Serikat pada akhir 1969, komite datang bersama-sama dengan sasaran menghentikan uji coba pemboman nuklir bawah tanah tahap kedua dengan kode Canikkin, oleh militer Amerika Serikat di bawah pulau Amchitka, Alaska. Kapal ekspedisi pertama disebut Greenpeace I, kapal ekspedisi kedua disebut Greenpeace II. Uji coba tidak berhasil di hentikan, tetapi komite telah membentuk dasar untuk aktivitas Greenpeace selanjutnya.
Greenpeace dikenal menggunakan aksi langsung bersama dengan konfrontasi damai dalam melakukan kampanye untuk menghentikan pengujian nuklir angkasa dan bawah tanah, begitu juga dengan kampanye menghentikan penangkapan ikan paus besar-besaran. Pada tahun-tahun berikutnya, fokus organisasi mengarah ke isu lingkungan lainnya, seperti penggunaan pukat ikan, pemanasan global, dan rekayasa genetika.
Greenpeace sebagai organisasi internasional memiliki misi sebagai organisasi independent yang berkampanye menggunakan konfrontasi kreatif anti kekerasan untuk mengungkap permasalahan  lingkungan global, dan untuk memaksa solusi bagi sebuah masa depan yang damai dan hijau. Target Greenpeace adalah untuk memastikan kemampuan bumi untuk kelangsungan hidup bagi semua keanekaragamannya. Saat ini ada lebih dari 40 kantor Greenpeace di seluruh dunia, dengan koordinasi internasional berlangsung melalui kantor pusat di Amsterdam.
Berdasarkan pembahasan di bab 2, penulis memaparkan tentang permasalahan kerusakan ekosistem biota laut di perairan Alaska, seperti penangkapan ikan yang mengakibatkan rusaknya jaringan makanan pada beberapa jenis hewan seperti burung dan anjing laut. Dalam hal ini Laut Bering tempat dimana kerusakan ekosistem terjadi memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Karena potensi ekonomis yang besar itulah lingkungan perairan tersebut lebih bersifat fragile (rentan) terhadap degradasi dan kepunahan. Perairan Pasifik Utara, kawasan tempat Perairan Alaska berada di antara negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina, dan Jepang. Negara-negara tersebut tergolong negara-negara industrialis agresif yang memiliki kemampuan teknologi tinggi untuk mengeksploitasi alam, namun teknologi tersebut sebagian besarnya tidak ramah lingkungan. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan yang menjadi sasaran utama penyelamatan Greenpeace. Greenpeace menyatakan bahwa penyebab utamanya dalah perkembangan dan pembangunan industri perikanan yang tidak sustainable.Dave Birmingham raises Greenpeace sail on Phyllis Cormack.In 1971, motivated by their vision of a green and peaceful world, a small team of activists set sail from Vancouver, Canada in an old fishing boat.
Keterlibatan Greenpeace dalam upaya penyelamatan lingkungan di Pasifik Utara telah berlangsung sejak tahun 1980-an dan mulai memberikan tekanan pada National Marine Fisheries Servis (NMFS) untuk memasukkan SSL (Steller Sea Lion) sebagai salah satu daftar mamalia yang terancam punah pada akhir tahun 1980-an.


REFERENSI

Kausar, Dwi Agustina. 2009. Pengaruh Greenpeace dalam pembentukan kebijakan lingkungan AS. Studi kasus: perlindungan ekosistem biota laut perairan laut bering dan alaska. (Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, Pekanbaru).
Bering Sea Ecosystem. Diakses dari http://nap.edu.
East Bering Sea Large Marine Ecosystem. Diakses dari http://eoearth.org.
Sejarah Kami. Diakses dari http://greenpeace.org.
Steller Sea Lions and Commercial Fisheries in the North Pacific. Diakses dari http://law.duke.edu.
Taking and Importing Marine Mammals: Taking Marine Mammals Incidental to Construction and Operation of Offshore Oil and Gas Facilities in the Beaufort Sea. Diakses dari http://epa.gov.com.


[1] Sejarah Kami. Diakses dari http://greenpeace.org. Tanggal 20 Maret 2010.
[2] Ibid.
[3] Kausar, Dwi Agustina. 2009. Pengaruh Greenpeace dalam pembentukan kebijakan lingkungan AS  studi kasus: perlindungan ekosistem biota laut perairan laut bering dan alaska. (Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, Pekanbaru). Hal: 63.
[4] Ibid. Hal: 30
[5] Kausar, Dwi Agustina. Op. Cit. Hal: 32.
[6] Taking and Importing Marine Mammals: Taking Marine Mammals Incidental to Construction and Operation of Offshore Oil and Gas Facilities in the Beaufort Sea. Diakses dari http://epa.gov.com. Diakses pada 20 Maret 2010.
[7] Ibid.
[8] Bering Sea Ecosystem. Diakses dari http://nap.edu. Tanggal 20 Maret 2010.
[9]  East Bering Sea Large Marine Ecosystem. Diakses dari http://eoearth.org. Tanggal 20 Maret 2010.
[10] Ibid.
[11] Steller Sea Lions and Commercial Fisheries in the North Pacific. Diakses dari http://law.duke.edu. Tanggal 20 Maret 2010
[12] Ibid.
[13] Kausar, Dwi Agustina. Op. Cit. Hal: 79.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar