Minggu, 25 April 2010

Teman Itu Ada Supaya Kau Tak Sendiri

22 April 2010
Sampai kemarin, aku masih ragu. Apa yang namanya teman itu memang ada, atau hanya ilusi. Hanya sebatas kata-kata manis yang berperan sebagai gula dalam kehidupan.
Teman?
Tempat saling berbagi?
Tapi apa mereka memang akan membagi lebih banyak daripada aku?
Tempat untuk mengadu dan mencurahkan isi hati?
Tapi apa mereka memang peduli dengan seluruh curahan hatiku?
Tempat untuk mencari solusi?
Tapi apa mereka memang dengan senang hati menyisihkan waktu mereka untuk memberi solusi padaku ditengah kesibukan dan masalah-masalah dalam kehidupan mereka sendiri?
Teman?
Apa itu hanya istilah yang diciptakan oleh seorang melankolis yang menginginkan dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang peduli dengan urusan orang lain, yang bersedia berkorban demi orang lain, yang mau menyayangi orang lain, tanpa feedback?
Teman?
Lebih terdengar seperti omong kosong bagiku.
Aku tak butuh hal konyol seperti itu. Aku tak punya waktu untuk “main teman-temanan”.
Dan aku tak mau berubah hanya supaya orang lain menyukaiku.
Karena memang tidak ada orang lain yang akan peduli padaku selain diriku sendiri.
Dan kurasa paham itu sudah menancap kokoh di otak semua orang.
Tapi itu dulu...
Dulu sebelum aku bertemu orang-orang yang berkata dengan ringannya padaku:
“Itulah gunanya teman, Gie...”
Aku memang payah kalau urusan berteman. Aku tidak tahu caranya berteman.
Aku tak pernah merasa nyaman kalau menceritakan masalahku kepada orang lain karena aku juga tak pernah merasa nyaman kalau mereka datang padaku dan berkeluh kesah tentang permasalahan dalam kehidupan mereka.
Tapi aku baru sadar, mungkin itu yang namanya “berbagi”
Aku jadi berpikir ulang dan merombak habis tata letak dan segala data yang sudah menancap kokoh di otakku. Mungkin saja aku memang perlu berubah supaya orang lain menyukaiku. Karena akan lebih menyenangkan kalau orang memandangku sambil tersenyum daripada sambil memaki, kan?
Dulu aku hanya tak mau terlalu melibatkan perasaan dalam menghadapi apapun, karena terlalu merepotkan dan kurasa pada akhirnya hanya aku yang akan kecewa.
Tapi bukankah justru itu makanya Allah memberi “perasaan” pada manusia, supaya aku bisa menjaga perasaan orang lain seperti aku menjaga perasaanku sendiri, supaya orang lain juga dapat melakukan hal yang sama, supaya paham itu menancap kokoh di otak semua orang. Karena kalau aku ingin orang lain tersenyum padaku, maka seharusnya aku yang duluan tersenyum. Bagaimana kalau paham itu menancap kokoh di otak semua orang?
Hei, everything is possible, right?
Teman?
Dia ada bukan berarti dia harus mengerti semuanya tentang aku. Teman itu ada hanya supaya aku tidak sendirian. Supaya aku bisa melihat seseorang setiap kali aku menoleh ke belakang, supaya aku punya tempat yang bisa kudatangi kalau aku butuh seseorang, supaya ada yang menepuk pundakku untuk selalu berkata: “Semangat! Kau pasti bisa!” dan supaya ada yang menyadari keberadaanku, atau paling tidak, ada orang lain yang akan menangis kalau aku mati nanti.
Karena itulah yang akan dilakukan seorang teman.
Dan aku memilikinya sekarang...
Orang-orang yang dulu pernah mengatakan dengan ringannya padaku:

“Itulah gunanya teman, Gie...”

NB: Terimakasih karena kalian tidak pernah bosan menjadi temanku...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar