Jumat, 30 Juli 2010

Fosil Beringer

Pada abad ke-18, ada seorang dokter bernama Johann Beringer. Orang itu terkenal sok. Jadi ada rekan seprofesi yang bermaksud mengisenginya.

Memanfaatkan hobi Beringer menggali mencari fosil, mereka memahat batu untuk dijadikan fosil palsu (pada masa itu belum diketahui bagaimana fosil terbentuk), dan fosil palsu itu pun ditanam di tempat Beringer biasa menggali.

Beringer sangat gembira waktu dia menemukan fosil itu. Rekan-rekannya pun jadi agak ngelunjak dan mulai membuat fosil-fosil yang gak masuk akal. Seperti “fosil bertuliskan nama Tuhan”, “fosil berbentuk bintang jatuh”, dan sebagainya. Mereka melakukan itu sambil berpikir kalau “kali ini Beringer pasti sadar kalau fosil itu bohongan” dan mereka menantikan wajah kecewa Beringer.

Tapi, diluar dugaan, Beringer malah semakin percaya kalau dia sudah melakukan penemuan besar. Beringer bahkan sampai menerbitkan buku tanpa menyadari itu hanyalah keisengan rekan-rekannya.
Akhirnya diadakan diskusi terbuka, dan terungkaplah kalau fosil itu benda palsu. Beringer yang menanggung malu akhirnya menghabiskan sisa hidupnya dengan berkeliling membeli kembali buku-bukunya yang telah terjual untuk dimusnahkan. Kasus ini pun terkenal sebagai “Lugensteine” atau “Lying Stones Case”.

Hmm... sedih, ya.

Tapi pelajaran yang dapat diambil.
- Biar kita udah sehebat apapun ya jangan sampai jadi orang yang sok sampai bikin orang-orang di sekitar kita jadi kesal dan pengen ngisengin kita.
- Sebaiknya jangan suka iseng. Soalnya kita kadang suka gak sadar kalau keisengan kita itu udah keterlaluan dan masih menganggapnya sebagai hal yang biasa.
- Boleh sih percaya diri, tapi kalau kelewatan bisa berabe. Coba kalau Beringer gak terlalu Pe-De dan mau dengerin kata-kata rekannya kalau tu fosil adalah fosil palsu buatan mereka, Beringer kan gak perlu berakhir tragis kayak gitu.

Sumber: Motohiro Katou, “Sixty Million Years – C.M.B. Vol. 10”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar