Jumat, 30 Juli 2010

Mitos Piramid (2)

Saqqara. Sebutan untuk piramid yang letaknya agak terpisah dari tiga piramid agung Giza. Di seluruh Mesir, sekurang-kurangnya ada 100 piramid! Di antaranya, piramid yang pertama dibangun adalah piramid bertingkat Pharaoh Djoser. Sebelum ada piramid, ada kuburan yang disebut Mastaba (bangku panjang), terbuat dari tanah liat yang dikeringkan. Nah, tersebutlah seorang jenius bernama Imhotep. Dia adalah menteri dari Pharaoh Djoser, dan juga seorang terpelajar yang menguasai berbagai bidang seperti astronomi, matematika, kedokteran, serta arsitektur. Imhotep memberikan tambahan pada konstruksi Mastaba yang kemudian menjadi dasar dari piramid yang kita kenal.

Begini loh, Mastaba itu cuma undakan biasa aja (bentuknya belum kayak piramid), tapi Imhotep menambahkan konstruksi di atasnya (kayak kue tart bertingkat), seperti itulah bentuk piramid bertingkat Pharaoh Djoser. Jadi bentuknya masih belum kayak piramid yang kita kenal, belum mulus kayak limas segitiga gitu...

Terus, tambahan konstruksi itulah yang kemudian berkembang jadi piramid.

Hampir semua makam Pharaoh di Mesir ditemukan dalam kondisi telah dibongkar oleh para perampok kubur, makanya nyaris gak ada aksesoris pemakaman yang bisa ditemukan. Tapi ada satu aksesoris pemakanan Raja Tut’Ankh-‘Amen (susah, ya namanya) yang kuburannya ditemukan dengan utuh, tanpa bekas pembongkaran sedikit pun. Dan yang menarik adalah ‘Guci Canopus’ Raja Tut’Ankh-‘Amen. Terbuat dari Alabaster (sejenis marmer). Orang Mesir kuno punya adat penguburan membuat mumi saat seseorang meninggal. Mereka beranggapan setelah meninggal orang akan hidup kembali di ‘duat’. Untuk bisa bangkit kembali dalam kondisi prima, dibutuhkan mumi yang sempurna. Karena itulah jenazah Pharaoh bahkan diurus sampai ke ujung kukunya saat dimumikan. Untuk membuat mumi, dibutuhkan waktu setidaknya 70 hari, yang diawali dengan mengeluarkan otak serta organ dalam lainnya, kecuali jantung. Semua organ yang dikeluarkan kemudian dikeringkan dengan Natron. Jantung dibiarkan di dalam tubuh, karena menurut kepercayaan mereka, untuk menentukan seseorang bisa atau tidaknya masuk surga, jantung itu nantinya akan ditimbang untuk dibandingkan dengan bulu ma’at.

Wadah untuk menyimpan organ dalam yang dikeluarkan dari tubuh adalah guci Canopus ini. Canopus Raja Tut’Ankh-‘Amen semuanya berbentuk manusia. Tapi aslinya, Canopus berbentuk roh para penjaga orang mati. Guci ini terbagi jadi empat:
Guci Imseti yang berbentuk manusia menyimpan liver
Hapi, guci yang berbentuk Babon menyimpan paru-paru
Jackal atai kepala anjing hitam, guci duamutef menyimpan lambung
Dan Qebehsenuef, guci berbentuk burung menyimpan usus

Mereka percaya kalau orang yang meninggal gak akan bisa hidup lagi kalau salah satu dari keempat guci ini gak ada. Setiap guci Canopus ini menjaga hal yang berbeda-beda, guci Imseti menjaga ‘ka’ yaitu jiwa yang abadi, orang Mesir kuno beranggapan karena ada ‘ka’ manusia bisa hidup. Guci Hapi menjaga ‘ba’ yaitu nyawa manusia, saat seseorang mati dia terlepas dari tubuh. Guci Duamutef menjaga ‘sah’, yaitu nyawa kelas tinggi. Dan Guci Qebehsenuef menjaga ‘ib’ yaitu jantung. Orang Mesir kuno percaya manusia terdiri dari lima unsur utama, ‘ka’ sebagai jiwa yang abadi, ‘ba’ sebagai nyawa manusia, ‘akh’ sebagai tubuh, ‘shwt’ sebagai bayangan yaitu belahan jiwa yang menjaga manusia yang bersangkutan, dan ‘ren’ sebagai nama yang merupakan eksistensi manusia tersebut. Jadi menghapus nama seseorang sama dengan menghapus eksistensinya. Mereka membuat mumi berdasarkan ini.

Sumber: Motohiro Katou, “Canopus – C.M.B. Vol. 06”
Bersambung ke “Mitos Piramid (3)”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar